Lagi lagi Islam. Beberapa saat yang lalu terjadi ledakan di sarinah, Jakarta. Konon pelakunya bagian dari Isis cabang Indonesia. Lepas dari benar atau tidaknya Isis cabang indonesia itu, jelas jelas pendukung atau simpatisan Isis di Indonesia tidak bisa dibilang sedikit jumlahnya. Banyak juga yang tidak berani menyatakan secara terbuka mendukung Isis, tapi dalam hatinya menginginkan khilafah juga, serta agak berharap Isis mencapai tujuannya.
Tidak lama berselang dari kejadian bom, penulis memperhatikan reaksi netizen. Mayoritas mengutuk perbuatan itu. Bahkan kalangan muslim sendiri mengutuknya dan menyatakan bahwa itu bukan tindakan Islami. Mereka menyatakan bahwa Islam adalah agama yang damai.
Penulis masih penasaran, apa kabar FPI yang notabene terkenal sebagai salah satu organisasi radikal bermental militan di Indonesia. Karena menurut hemat penulis, tindakan terorisme atas nama Islam itu justru merusak nama Islam itu sendiri, dan FPI yang merupakan Front Pembela Islam seharusnya tidak tinggal diam. Jika memang mereka pembela Islam, seharusnya mereka marah dengan adanya terorisme ini dan bangkit bergolak darahnya untuk memerangi para teroris, kalau perlu mereka korban nyawa untuk membasmi terorisme ini.
Tapi ternyata walaupun pemimpin mereka, Habib R, dalam salah satu dakwahnya menyatakan bahwa terorisme kemarin adalah tidakan keliru, tapi reaksinya lebih adem daripada yang saya bayangkan. Tidak ada kobaran semangat untuk mengajak pengikutnya memerangi terorisme. Hanya menganjurkan untuk tidak melakukan itu. Biasanya kan mereka ini paling semangat kalau diajak kemedan perang. Ok lah, sampai sini saya masih angkat topi buat Habib. Beliau melakukan tugasnya sebagai pemimpin agama untuk membantu memberangus terorisme. Hanya saja ternyata tidak seekstrim yang saya bayangkan sebelumnya. Kalau mereka begitu berapi api memerangi kafirun, seolah tangan gatal ingin menggasak kafir, tapi terhadap teroris itu mereka malah tidak se hot itu.
Hingga sampailah penulis pada suatu profile fb yang sepertinya merupakan salah seorang anggota dari organisasi itu. Status statusnya sudah menyiratkan bahwa dia seorang bermental militan kental, bisa disebut radikal. Dia menyatakan sudah saatnya bangsa Indonesia mendukung Isis. Dia juga menyebutkan dalam status statusnya yang lain tentang keinginannya untuk berjihad di jalan Allah. Ada kesan bahwa dia mendukung gerakan ekstrim yang biasanya dilakukan para teroris. Memang dia tidak secara gamblang menyatakan dukungan pada insiden sarinah, tapi dia seolah mendukung tindakan semacam itu. Dia menggunakan kutipan kutipan entah dari Quran atau Hadiths, saya lupa, untuk kemudian mengelaborasinya dengan pemahamannya.
Kemudian saya teringat kata kata Sam Harris, seorang atheis. Katanya kurang lebih, bagi dia, dia tidak ada masalah dengan muslim, masalahnya adalah dengan Islam. Yang berbahaya itu bukan radikalsime dalam beragama, tapi agama yang bagaimana dulu. Dia mencontohkan bahwa seorang berpaham jainisme yang radikal tidak akan berbahaya karena itu paham yang melarang menyakiti makhluk hidup. Tapi seorang muslim radikal sangat berbahaya karena unsur kekerasan itu memang ada dalam Islam. Penulis bisa memahami itu karena ada celah celah dalam Islam yang memang rentan diisi oleh kekerasan.
Penulis teringat lagi kata kata Dr. Zakir Naik, bahwa dalam Islam tidak diperkenankan seorang muslim membunuh orang yang tidak bersalah. Membunuh seorang yang tidak bersalah sama saja membunuh seluruh umat manusia. Sepintas memang ini kata kata dari sebuah agama damai. Tapi kata kata ini mengandung celah. Tempat dimana saya tersandung adalah kata kata 'yang tidak bersalah'. Pernyataan Dr. Zakir Naik itu menyiratkan bahwa jika seseorang dianggap bersalah berarti boleh dibunuh. Yang tidak boleh dibunuh adalah yang tidak bersalah.
Selama ini, jika kaum teroris ditanya apakah mereka menyasar orang orang tidak bersalah? Pasti jawabannya tidak. Dimata mereka, polisi, TNI, pemerintah, kafir, Islam liberal, Islam moderat, semua bukan orang tidak bersalah yang tidak boleh dibunuh. Darah mereka halal. Bagi mereka Isis dan al Qaeda itulah yang benar. Sehingga mereka merasa sedang menapaki jalan Allah dengan melakukan teror seperti kemarin. Jika mereka ditanya mengapa kamu melakukan tindaan terorisme? Mereka akan jawab, kami tidak melakukan tindakan terorisme, kami sedang berjihad.
Banyak yang bilang Islam bukan terorisme, dan terorisme bukan Islam. Pernyataan ini bisa memiliki dua arti. Yang pertama adalah sikap mengutuk tindakan terorisme, dan menyatakan bahwa Islam tidak seperti itu. Islam membenci kekerasan.
Yang kedua adalah, begini; Islam bukan terorisme, dan terorisme bukan Islam, kami bukan teroris, kami hanya laskar Allah yang berjihad di jalanNya. Kami ingin menegakkan syariat, kami ingin memerangi musuh musuh Islam sebagaimana diperintahkan oleh Rasullulah. Teroris itu adalah yahudi dan amerika yang selalu zalim terhadap saudara saudari kami kaum muslimin di palestina dan negara negara arab lainnya.
Jadi satu pernyataan yang sama bisa dimaknai berbeda. Artinya bahkan para teroris itu tidak akan merasa mereka melakukan teror. Mereka merasa melakukan jihad. Dan mereka merindukan mati syahid.
Jujur saya merasa muslim di Indonesia terbagi atas dua bagian pemahaman diatas. Artinya tidak semua bulat setuju pada interpretasi pertama, tapi ada juga yang memegang interpretasi kedua. Dan saya yakin jumlahnya cukup banyak, walaupun bukan mayoritas.
Situasi yang cukup ngeri. Melihat potensi munculnya teroris teroris baru yang tidak sadar bahwa apa yang mereka ingin lakukan itu adalah terorisme, bukan jalan putih nan suci. Teroris bisa muncul kapan saja dimana saja dalam melancarkan aksinya. Tunas tunas baru akan selalu bermunculan selama paham radikal dibiarkan. Selama kata kata Allahu Akbar dipekikkan dengan kepalan teracung diudara, teroris akan selalu memiliki persemaian. Selama ada pemimpin agama yang berseru dengan lantang 'takbir!' Dan disahut juga dengan lantang oleh pengikutnya, dengan semangat berkobar, maka radikalisme akan sulit dibungkam.
Andai saja yang diucapkan itu assalammualaikum dengan tersenyum. Dan pemimpin agama mengajak pengikutnya mengucap alhamdulillah dengan kelembutan, hasilnya tentu jauh berbeda. Ucapkan kebesaran Allah bukan dengan amarah, bukan dengan keinginan memuaskan nafsu binatang untuk mengakhiri hidup orang lain. Jangan kaitkan kebesaran Allah dengan kekerasan. Jika benar mencintai Islam, jangan lagi coreng wajahnya yang sudah cukup diacak acak oleh perbuatan para teroris.
Jadi masih mau dukung Isis wahai saudara saudaraku kaum muslimin?