Thursday, February 1, 2018

Semua Gara-Gara Ayat Ayat Cinta

Prihatin dengan kondisi kehidupan beragama di Indonesia?? Intoleransi makin marak, radikalisme makin menjamur. Semua bisa juga dibilang karena Ayat-ayat Cinta.

Lho, kok bisa begitu? Apa hubungannya? Singkat saja. Ketika itu Ayat-Ayat Cinta begitu booming. Laris manis. Semenjak itu bermunculanlah karya karya hiburan lain yang beraroma Islami. (Gak berani bilang berbau karena takut dibilang penistaan.) Maraklah sinetron beraroma Islami, yang sebenarnya tidak Islami. Dan berbagai hal lainnya di dunia hiburan. Pokoknya segala sesuatu yang berbau Islami itu laris terjual. Ini seolah jadi trend. Busana muslim meningkat tajam penjualannya, dan seorang perempuan muslim merasa belum afdol kalau belum berhijab. Dan peer pressure mulai bekerja disini. Acara acara atau program TV yang bertema Islami juga makin marak.

Iklim yang baik bagi pertumbuhan keIslaman ini sepertinya juga dilihat dan dimanfaatkan dengan baik oleh berbagai kelompok organisasi Islam untuk menanamkan "ideologi". Iklim menunjang, tanahnya sudah disiapkan dengan baik dan dalam kondisi subur, maka ketika ditanam buahnya akan mudah tumbuh.

Dengan lahan yang subur itu, gerakan Islam kaffah yang adalah gerakan Islam puritan, fundamentalis semakin mendapat angin. Para pengikutnya makin banyak dan kaum muslim moderat mulai terpinggirkan, malah digolongkan menjadi kaum munafik karena menjadikan kaum kafir sebagai teman setia. Ya tentunya dalam Islam yang kaffah/fundamentalis, seabreg ayat yang menyatakan larangan menjadikan orang kafir sebagai penolong atau juga teman itu tidak bisa diabaikan atau diartikan secara mild berdasarkan konteks khusus. Bagi kaum fundamentalis, apa yang tertulis itu yang dipatuhi secara kaffah/menyeluruh.

Dengan demikian eksklusifisme tumbuh subur juga. Dan dengan demikian pupuslah sudah tujuan Islam Nusantara yang mengarah pada Islam yang rahmatan lil alamin. Islam kaffah ini lebih rahmatan lil muslimin sifatnya, ya karena eksklusifitas itu. Terlebih lagi ketika dicampur dengan politik, pandangan mengenai koeksis dengan umat lain secara damai dan setara itu dikesampingkan, dan digantikan dengan umatku ada diatas yang lain. Apalagi kalau sudah bicara mayoritas minoritas, maka semakin terlihatlah nafsu untuk mendominasi itu.

Dan dengan fundamentalisme yang subur di Indonesia, maka negara ini jadi persemaian yang produktif bagi kaum radikalis yang kemudian melahirkan bibit bibit jihadis (atau ketika makna jihad sudah bergeser orang umum bilang teroris)

Maka ketika kita ramai oleh kasus bom, semua itu bisa dibilang juga karena Ayat Ayat Cinta.

Tuesday, October 11, 2016

Mengapa wajib memilih pemimpin yang muslim?

Ahok, suatu sosok yang sangat fenomenal di ranah politik Indonesia sekarang ini. Bagaiman tidak, dia seorang berdarah tionghoa yang bisa sampai kursi gubernur dki. Belum lagi dia akan mencalonkan diri lagi sebagai gubernur DKI untuk kedua kalinya. Lebih tepatnya, kali ini dia dari awal mencalonkan diri sebagai Gubernur. Skip, sampai sini semua sudah tau. Masalah belum berhenti sampai disitu, beliau beragama Kristen. Jadi udah cina, kristen pula. Jujur walaupun kinerja beliau bagus, tapi banyak orang seperti gak rela kalau dia bisa jadi gubernur. Kenapa? Selain karena beliau anti korupsi dan blak blakan, pastinya unsur sara itu yang berat. Belakangan muncul kalimat bahwa umat Islam dilarang memilih pemimpin yang non muslim. Konon itu ada di Al Quran. Ya, dan memang demikianlah adanya. Lalu kenapa Islam melarang muslim untuk memilih non muslim sebagai pemimpinnya?

Alasan yang terutama adalah karena Islam adalah agama yang politis. Artinya, politik dan Islam tidak dapat dipisahkan. Islam sendiri bisa dianggap sebagai sebuah ideologi politik dan sosial. Maka menjadi suatu hal yang penting bagi umat Islam untuk memilih pemimpin yang muslim, demi meraih keuntungan politik bagi kaum muslimin.

Islam bukan hanya suatu agama yang berurusan dengan hal hal yang sifatnya spiritual, tapi juga hal hal dunawi. mulai dari kesejahteraan,sampai kekuasaan. Maka bagi umat muslim, jadi satu hal yang sangat penting bahwa mereka harus tetap berada diatas non muslim.

Memang tidak semua muslim pasti baik, dan tidak semua non muslim pasti tidak baik. Berapa banyak pejabat yang notabene muslim tapi terjerat kasus korupsi. dan kali ini jagad politik Indonesia sedang dihebohkan oleh seorang Ahok yang non muslim, tapi berjuang bagi kepentingan orang banyak, bersih dari korupsi, dan popularitasnya menanjak dengan cukup cepat.

soal porsi politiknya, saya enggan berkomentar. tapi dari segi agama, disini umat Islam indonesia sedang heboh dengan sosok ahok yang kontroversial ini. bagaimana tidak, banyak sekali muslim yang justru malah mendukung ahok. walaupun sudah mulai terkena efek kasus penistaan agama, masih banyak muslim yang mendukung ahok untuk kembali menjabat gubernur. Tidak sedikit pula yang membela sang gubernur.

Lalu, para muslim yang militan dan fundamentalis mulai kebakaran jenggot dan berusaha sebisa mungkin menghalau dukungan yang mengalir buat Ahok. Coba pikir, Ahok itu satu satunya pejabat yang terang terangan berniat membubarkan FPI. Maka jika sampai dia memiliki cukup kuasa untuk melakukannya, maka celakalah FPI. Itu sebabnya juga bagi FPI, Ahok wajib lengser. bahkan mungkin bagi mereka lebih bagus jika ada orang yang rela membunuh Ahok. Ini sudah menjadi sesuatu yang sifatnya personal bagi mereka.

Demi bisa menjegal Ahok menuju DKI 1, para muslim militan sampai harus melibatkan muslim yang berada diluar DKI dan mengatasnamakanseluruh umat Islam. Disini dibuat seolah olah Ahok itu adalah musuhnya seluruh umat Islam. Diciptakan kesan bahwa ahok melecehkan ulama. (baca: semua orang yang termasuk ulama tanpa kecuali.) Padahal, jelas jelas kalangan ulama sekalipun belum satu suara sependapat bahwa ahok menistakan agama Islam. Dan tidak semua ulama berseberangan dengan ahok.

yak, cukup tentang ahoknya. Yang jelas, jika hal ini dibayangkan terjadi pada umat kristen, Hindu, atau Buddha, maka akan jadi agak aneh. Dari dulu yang begini sifatnya cuma umat Islam. Yang berapi api marah ketika merasa ada yang menghina agama, nabi, atau Tuhannya, ya cuma umat Islam di jaman modern ini.

Ketika ada yang menghina Yesus, umat Kristen cuma bisa mendoakan karena si penghina tidak tau apa yang sedang ia perbuat. ketika ada yang menghina sang Buddha, umat Buddha tetap adem karena pengendalian diri adalah salah satuajaran Buddha. tapi ketika ada yang menghina Nabi Muhammad SAW, amarah umat Islam akan berkobar dan dengan kepalan tangan teracung, dan pekik takbir, mereka menuntut si penghina dihukum, bahkan ada yang ingin menghakimi sendiri si penghina.

balik ke topik tentang memilih pemimpin. Tidak ada aturan dalam agama lain tentang memilih pemimpin negara karena dalam agama lain itu yang dipentingkan adalah bagaimana menjadi manusia yang lebih baik tanpa menghitung untung ruginya golongan agama tertentu. pemimpinyang harus dipilih bukan dilihat dari agamanya apa, tapi dari kualitas manusianya. apakah bisa dipercaya? apakah punya keahlian yang dibutuhkan seorang pemimpin? dan lain lain.

tapi bagi umat Islam sepertinya memilih pemimpin pun harus yang beragama Islam, supaya secara politis, umat Islam punya bargaining power yang kuat. Supaya ketika umat Islam dibully,maka mereka punya bekingan legal yang bisa membela mereka. Hal ini menimbulkan kesan bahwa yang ada dibenak umat Islam itu begini. Kafir itu jahat semua sama umat Islam, mereka memusuhi Islam, maka umat Islam akan celaka jika negara tempat tinggalmereka dipimpin seorang kafir. Belum apa apa mereka sudah ketakutan bahwa si kafir ini akan membully Umat Islam.

nah kalau sudah begini jadi tidak enak kan bacanya? Seolah olah semua muslim itu kerdil nan picik begitu pemikirannya. padahal tidak demikian. habis mau bagaimana lagi, kan mereka mereka yang berpikiran begini selalu mengatasnamakan seluruh umat Islam. ya jadi stigma yang melekat pada umat islam adalah kepicikankepicikan tersebut. Dan seolah kepicikan tersebut di ajarkan dalam Islam. Ya dan tidak sih. karena ada yang namanya tafsir. penafsiran yang berbeda membuat Islam seolahmemiliki banyak wajah. tapi celakanya wajah yang paling kelihatan itu ya yang jeleknya.

Thursday, January 21, 2016

Lagi lagi Islam

Lagi lagi Islam. Beberapa saat yang lalu terjadi ledakan di sarinah, Jakarta. Konon pelakunya bagian dari Isis cabang Indonesia. Lepas dari benar atau tidaknya Isis cabang indonesia itu, jelas jelas pendukung atau simpatisan Isis di Indonesia tidak bisa dibilang sedikit jumlahnya. Banyak juga yang tidak berani menyatakan secara terbuka mendukung Isis, tapi dalam hatinya menginginkan khilafah juga, serta agak berharap Isis mencapai tujuannya.

Tidak lama berselang dari kejadian bom, penulis memperhatikan reaksi netizen. Mayoritas mengutuk perbuatan itu. Bahkan kalangan muslim sendiri mengutuknya dan menyatakan bahwa itu bukan tindakan Islami. Mereka menyatakan bahwa Islam adalah agama yang damai.

Penulis masih penasaran, apa kabar FPI yang notabene terkenal sebagai salah satu organisasi radikal bermental militan di Indonesia. Karena menurut hemat penulis, tindakan terorisme atas nama Islam itu justru merusak nama Islam itu sendiri, dan FPI yang merupakan Front Pembela Islam seharusnya tidak tinggal diam. Jika memang mereka pembela Islam, seharusnya mereka marah dengan adanya terorisme ini dan bangkit bergolak darahnya untuk memerangi para teroris, kalau perlu mereka korban nyawa untuk membasmi terorisme ini.

Tapi ternyata walaupun pemimpin mereka, Habib R, dalam salah satu dakwahnya menyatakan bahwa terorisme kemarin adalah tidakan keliru, tapi reaksinya lebih adem daripada yang saya bayangkan. Tidak ada kobaran semangat untuk mengajak pengikutnya memerangi terorisme. Hanya menganjurkan untuk tidak melakukan itu. Biasanya kan mereka ini paling semangat kalau diajak kemedan perang. Ok lah, sampai sini saya masih angkat topi buat Habib. Beliau melakukan tugasnya sebagai pemimpin agama untuk membantu memberangus terorisme. Hanya saja ternyata tidak seekstrim yang saya bayangkan sebelumnya. Kalau mereka begitu berapi api memerangi kafirun, seolah tangan gatal ingin menggasak kafir, tapi terhadap teroris itu mereka malah tidak se hot itu.

Hingga sampailah penulis pada suatu profile fb yang sepertinya merupakan salah seorang anggota dari organisasi itu. Status statusnya sudah menyiratkan bahwa dia seorang bermental militan kental, bisa disebut radikal. Dia menyatakan sudah saatnya bangsa Indonesia mendukung Isis. Dia juga menyebutkan dalam status statusnya yang lain tentang keinginannya untuk berjihad di jalan Allah. Ada kesan bahwa dia mendukung gerakan ekstrim yang biasanya dilakukan para teroris. Memang dia tidak secara gamblang menyatakan dukungan pada insiden sarinah, tapi dia seolah mendukung tindakan semacam itu. Dia menggunakan kutipan kutipan entah dari Quran atau Hadiths, saya lupa, untuk kemudian mengelaborasinya dengan pemahamannya.

Kemudian saya teringat kata kata Sam Harris, seorang atheis. Katanya kurang lebih, bagi dia, dia tidak ada masalah dengan muslim, masalahnya adalah dengan Islam. Yang berbahaya itu bukan radikalsime dalam beragama, tapi agama yang bagaimana dulu. Dia mencontohkan bahwa seorang berpaham jainisme yang radikal tidak akan berbahaya karena itu paham yang melarang menyakiti makhluk hidup. Tapi seorang muslim radikal sangat berbahaya karena unsur kekerasan itu memang ada dalam Islam. Penulis bisa memahami itu karena ada celah celah dalam Islam yang memang rentan diisi oleh kekerasan.

Penulis teringat lagi kata kata Dr. Zakir Naik, bahwa dalam Islam tidak diperkenankan seorang muslim membunuh orang yang tidak bersalah. Membunuh seorang yang tidak bersalah sama saja membunuh seluruh umat manusia. Sepintas memang ini kata kata dari sebuah agama damai. Tapi kata kata ini mengandung celah. Tempat dimana saya tersandung adalah kata kata 'yang tidak bersalah'. Pernyataan Dr. Zakir Naik itu menyiratkan bahwa jika seseorang dianggap bersalah berarti boleh dibunuh. Yang tidak boleh dibunuh adalah yang tidak bersalah.

Selama ini, jika kaum teroris ditanya apakah mereka menyasar orang orang tidak bersalah? Pasti jawabannya tidak. Dimata mereka, polisi, TNI, pemerintah, kafir, Islam liberal, Islam moderat, semua bukan orang tidak bersalah yang tidak boleh dibunuh. Darah mereka halal. Bagi mereka Isis dan al Qaeda itulah yang benar. Sehingga mereka merasa sedang menapaki jalan Allah dengan melakukan teror seperti kemarin. Jika mereka ditanya mengapa kamu melakukan tindaan terorisme? Mereka akan jawab, kami tidak melakukan tindakan terorisme, kami sedang berjihad.

Banyak yang bilang Islam bukan terorisme, dan terorisme bukan Islam. Pernyataan ini bisa memiliki dua arti. Yang pertama adalah sikap mengutuk tindakan terorisme, dan menyatakan bahwa Islam tidak seperti itu. Islam membenci kekerasan.

Yang kedua adalah, begini; Islam bukan terorisme, dan terorisme bukan Islam, kami bukan teroris, kami hanya laskar Allah yang berjihad di jalanNya. Kami ingin menegakkan syariat, kami ingin memerangi musuh musuh Islam sebagaimana diperintahkan oleh Rasullulah. Teroris itu adalah yahudi dan amerika yang selalu zalim terhadap saudara saudari kami kaum muslimin di palestina dan negara negara arab lainnya.

Jadi satu pernyataan yang sama bisa dimaknai berbeda. Artinya bahkan para teroris itu tidak akan merasa mereka melakukan teror. Mereka merasa melakukan jihad. Dan mereka merindukan mati syahid.

Jujur saya merasa muslim di Indonesia terbagi atas dua bagian pemahaman diatas. Artinya tidak semua bulat setuju pada interpretasi pertama, tapi ada juga yang memegang interpretasi kedua. Dan saya yakin jumlahnya cukup banyak, walaupun bukan mayoritas.

Situasi yang cukup ngeri. Melihat potensi munculnya teroris teroris baru yang tidak sadar bahwa apa yang mereka ingin lakukan itu adalah terorisme, bukan jalan putih nan suci. Teroris bisa muncul kapan saja dimana saja dalam melancarkan aksinya. Tunas tunas baru akan selalu bermunculan selama paham radikal dibiarkan. Selama kata kata Allahu Akbar dipekikkan dengan kepalan teracung diudara, teroris akan selalu memiliki persemaian. Selama ada pemimpin agama yang berseru dengan lantang 'takbir!' Dan disahut juga dengan lantang oleh pengikutnya, dengan semangat berkobar, maka radikalisme akan sulit dibungkam.

Andai saja yang diucapkan itu assalammualaikum dengan tersenyum. Dan pemimpin agama mengajak pengikutnya mengucap alhamdulillah dengan kelembutan, hasilnya tentu jauh berbeda. Ucapkan kebesaran Allah bukan dengan amarah, bukan dengan keinginan memuaskan nafsu binatang untuk mengakhiri hidup orang lain. Jangan kaitkan kebesaran Allah dengan kekerasan. Jika benar mencintai Islam, jangan lagi coreng wajahnya yang sudah cukup diacak acak oleh perbuatan para teroris.

Jadi masih mau dukung Isis wahai saudara saudaraku kaum muslimin?

Saturday, November 21, 2015

Jesus vs Muhammad

Jesus dan Muhammad. Dua figur terbesar sepanjang masa. Ketika ditanya siapakah figur yang lebih besar dan sukses? Jika dilihat dari jumlah pengikut, sementara Yesus unggul dengan 31% diseluruh dunia, sedangkan Muhammad mengekor pada 23%. Tapi banyak spekulasi bahwa dalam waktu tidak terlalu jauh, muslim akan menyusul. Ini terlihat dari perkembangan jumlah muslim diseluruh dunia. Sebelum kita sampai pada kesimpulan, mari kita lihat dulu kedua figur ini.

Muhammad dan Yesus seolah berada pada dunia yang berbeda. Keduanya terlihat membimbing umat manusia menuju Sang Pencipta, tapi cara yang digunakan, pendekatan yang dikembangkan sungguh berbeda.

Muhammad adalah seorang yang sangat cerdik. Beliau adalah seorang pemimpin yang lengkap. Bisa dibilang dalam hal kepemimpinan, beliau mengalahkan Yesus. Beliau ahli dalam berpolitik. Ini juga yang menyebabkan Islam menjadi agama yang sangat kental bau politiknya. Tapi hal ini justru sangat membantu Islam dalam melebarkan sayapnya, serta mempertahankan posisinya. Ada anggapan yang beredar bahwa sangat mudah masuk Islam, tapi jangan harap anda bisa keluar begitu saja. Ini karena banyak umat Islam percaya bahwa Islam mengajarkan bahwa murtad hukumannya adalah mati.

Yesus tidak memiliki pasukan. Beliau bahkan ditangkap tanpa ada perlawanan, dan kemudian diadili lalu akhirnya dibunuh. Ketika itu terjadi, tidak ada pemberontakan atau aksi membela Yesus. Untuk menjadi pengikut Kristus menurut alkitab, tidak perlu ada syarat macam macam, cukup menjadi manusia baru dan ikut jalan yang ditunjukkan Yesus. Dan tidak disebutkan sangsi duniawi apa yang dijatuhkan pada orang yang berpaling dari jalan tersebut. Tidak ada ketakutan apapun yang ditanamkan pada pengikut Yesus jika suatu hari mereka memutuskan untuk tidak mengikutiNya lagi. Sangat mudah bagi seseorang untuk melepaskan agama kristen dan beralih pada agama lain jika dia mau.

Muhammad adalah kebalikan dari Yesus dalam beberapa hal. Yang pertama adalah bahwa Muhammad memiliki istri, dan konon bukan hanya satu. Ini kemudian dijadikan teladan oleh banyak laki laki muslim. Rasullulah mengajarkan bagaimana berpoligami yang baik, dengan berlaku adil pada setiap istrinya. Tentu bukan hal yang mudah dilakukan, tidak sembarangan orang bisa melakukannya. Tapi Beliau bukan orang biasa. Segala kharisma yang dimilikinya bisa membuat takluk para istri beliau, beserta para wanita muslim pada jaman jaman berikutnya. Hingga kini, walaupun banyak wanita muslim secara hati tidak rela diduakan, tapi oleh karena pengaruh ajaran agama, mereka terpaksa merelakan suaminya menikah lagi.

Yesus tidak beristri, bahkan pacar pun tidak punya. Jadi apakah beliau gay? Tidak juga. Ini justru teladan yang harus diberikan oleh seorang pemimpin agama yang sesungguhnya. Ini yang dilakukan oleh pastor dan bikhu yang tidak menikah, tidak memiliki pasangan, tidak berketurunan. Mengapa seorang pemimpin agama harusnya tidak menikah? Seorang pemimpin agama hidup bukan untuk dirinya, tapi untuk umat. Artinya tidak layak bagi seorang pemimpin agama untuk memperkaya dirinya. Dan ketika seorang pemimpin agama memiliki keluarga, maka akan menjadi tidak adil bagi keluarganya jika dia tidak memperkaya dirinya dengan harta duniawi. Lalu bagaimana dengan pendeta Kristen yang naik mobil mewah punya rumah megah? Kita bahas lain kali. Tapi yang jelas Yesus tidak hidup dalam kemewahan. Pengikutnya banyak, tapi mereka tidak militan. Baru setelah kematian Yesus, jumlah pengikutnya diseluruh dunia meningkat hingga hasilnya kita lihat sekarang ini. Senjata utama Yesus bukan kemampuannya berpolitik, tapi ketulusannya yang hingga rela mengorbankan nyawanya sendiri. Bisa dibilang Yesus membeli follower.  Yesus membayar jumlah follower sekarang ini dengan nyawa Nya.

Muhammad memiliki pedang yang pernah berlumuran darah. Beliau menggunakan segala cara baik dakwah maupun perang untuk mencapai tujuannya. Tapi bukan berarti Muhammad itu liar. Beliau mengajarkan aturan aturan dalam perang supaya para muslimin tidak bertindak berlebihan dan melewati batas. Anak anak, dan mereka yang menyerah tidak boleh dibunuh. Tempat ibadah tidak boleh dirusak, dan sebagainya. Jadi Muhammad itu bukan seorang anarkis, tapi seorang panglima yang hebat dan memiliki respek terhadap orang lain. Beliau bukan orang yang haus darah dan gemar membunuh, tapi beliau memperbolehkan pengikutnya menumpahkan darah atas dasar alasan yang kuat. Muhammad bukanlah pemimpin yang mengawang awang, tapi menapak dibumi. Artinya beliau realistis, jika diserang masa berdiam diri menunggu mati? Tapi beliau tidak mengajarkan umat Islam untuk cari gara gara.

Yesus berada pada sisi sebaliknya. Ajaran Yesus adalah ajaran yang sama sekali tidak mengemukakan aturan tentang perang. Ajaran Yesus ini sungguh simpel, tapi bikin orang mengerutkan dahi. Cintai musuhmu, jika ditampar satu sisi pipi, kasih sisi lainnya. Artinya jangankan membunuh, melawan saja tidak dianjurkan. Artinya jika dibuli orang lain, kita jangan membalas, jangan menyimpan kebencian, tapi balas orang itu dengan cara mengasihinya. Kesimpulannya, ajaran Yesus ini merupakan ajaran yang paling bodoh diseluruh penjuru dunia. Ini bertentangan dengan insting dasar makhluk hidup yaitu mempertahankan eksistensinya. Tapi justru ajaran bodoh ini adalah ajaran yang paling mulia. Ini bukan ajaran duniawi, tapi ajaran surgawi. Artinya Yesus tidak mengajarkan kita untuk mengejar sesuatu di dunia ini. Tapi sesuatu yang hanya akan didapat disurga, dan itu berarti mengesampingkan insting dasar makhluk hidup tersebut. Ajaran Yesus menempatkan kehidupan duniawi tidak berada pada level yang penting. Tapi bukan berarti kita menyianyiakan hidup. Justru karena kita menghargai hidup, kita mengasihi musuh. Kita dianjurkan menghargai hidup orang yang memusuhi kita, mengenai apakah orang itu menghargai hidup kita, itu hal lain.

So penilaian penulis bagaimana? Muhammad adalah sosok yang lebih hebat dari Yesus dalam banyak hal. Beliau adalah orang yang bisa dibilang berada diatas manusia lain dibumi ini. Pencapaiannya hingga kini adalah warisan hasil jerih payah beliau. Ini adalah prestasi beliau. Sedangkan jumlah follower Yesus sekarang ini dibayar mahal oleh nyawa Yesus, dan sejujurnya jumlah follower ini banyak hasil jerih payah pengikut Yesus, bukan Yesus itu sendiri. Jadi menurut penulis pribadi, skor sebenarnya dipegang Muhammad, karena Yesus curang beli follower dengan darahNya sendiri. Tapi kalau ditanya siapa yang lebih mulia, Yesus atau Muhammad, jawabannya tanpa harus diragukan lagi, adalah Yesus. Dia tidak mengejar kemenangan duniawi. Kemenangan Dia bukan ketika orang Kristen lebih banyak populasinya dari orang Islam, tapi ketika seluruh umat manusia bisa bersatu saling membantu saling menyayangi dan saling menjaga eksistensi masing masing. Itu tujuan Yesus!!

Thursday, October 22, 2015

Kelebihan dan Kekurangan Agama Kristen

Disclaimer: penulis berusaha seobjektif mungkin dalam memaparkan kelebihan dan kekurangan agama ini. Penulis sendiri berada dalam posisi agnostik-pantheis, jadi tidak memihak agama manapun di Indonesia. Jika ada ketidaksetujuan, itu hal yang wajar dan penulis menghargai perbedaan pendapat. Apa yang ditulis disini belum tentu 100% benar dan penulis menerima koreksi jikaada kesalahan.

Kelebihan agama Kristen yang utama adalah pada kemuliaan ajaran kasih. Ajaran ini menurut penulis merupakan hal mendasar yang paling mulia. Gak usah ribet mengikuti semua detail doktrin dsb, cukup dengan memegang ajaran utama ini, anda sudah bisa menjadi manusia yang baik. Ajaran kasih ini terutama tercermin dari perintah untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri yang disatukam dengan perintah untuk mengasihi Sang Pencipta. Suatu tujuan yang sangat muluk, tapi itu target yang pantas jika kita ingin menjadi manusia yang baik.

Orang Kristen yang baik tidak mengenal dendam, hanya mengenal pengampunan. Ini membuat orang Kristen seharusnya tidak punya musuh. Sekalipun orang lain memusuhi, perintah dalam agama Kristen adalah untuk mengasihi orang yang memusuhi. Bukan memerangi, apalagi membinasakan. Jadi dalam agama Kristen membunuh untuk alasan apapun tidak dibenarkan. Ajaran Kristen tidak mengenal mata ganti mata gigi ganti gigi. Bagi banyak orang, ini merupakan kebodohan, tapi bagi penulis, ini merupakan kelebihan agama Kristen. Kita tidak bicara kepintaran dalam hal ini, tapi kemuliaan.

Dalam agama Kristen penafsiran alkitab itu seharusnya tidak dilakukan secara literal, walaupun masih banyak orang Kristen yang melakukannya. Penafsiran non literal ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan. Kelebihannya adalah orang Kristen bisa menggunakan akal budi dan hati nurani dalam hidup sesuai ajaran Kristen. Ini menjadikan orang Kristen lebih dewasa dalam pemahaman kerohanian. Dia mengikuti perintah bukan karena secara literal diperintahkan dan taat buta, tapi karena dia mengerti mengapa harus demikian.

Kekurangan poin diatas adalah adanya penafsiran berbeda dari tiap orang atau multitafsir terhadap satu ayat. Hikmat manusia terbatas dan tidak sama pada setiap orangnya. Perbedaan tafsir ini bisa menimbulkan perpecahan, bahkan perselisihan.

Kelebihan lain dari agama kristen adalah fleksibilitas dan adaptabilitas terhadap budaya. Tidak seperti Islam yang sangat arabi, Kristen modern tidak memiliki satu warna yang kental budaya. Ini memungkinkan orang Kristen untuk menjadi kristen sesuai budaya daerahnya.

Kekurangan utama dari agama Kristen adalah konsep tritunggal yang membingungkan banyak orang dan sering menjadi daerah serangan dari agama lain. Konsep ini memang bukan konsep yang mudah dijelaskan nalar dan banyak orang Kristen sendiri tidak mempu menjelaskannya serta menelannya bulat bulat sebagai iman yang tidak patut dipertanyakan. Konsep ini pun tidak bisa dibuktikan secara empiris walaupun bisa dibuktikan secara ilmiah.

Klaim bahwa Yesus adalah Tuhan juga merupakan titik serang utama dari penganut agama lain. Dalam Agama Islam, Yesus dikenal dengan nama Isa. Isa dikenal sebagai seorang manusia, bukan Tuhan seperti yang dipercaya orang Kristen. Iman Kristiani terhadap Yesus itu seringkali ditantang oleh non Kristen dengan menyebutkan beberapa perkataan Yesus yang seolah mengindikasikan bahwa Dia bukanlah Tuhan. Sebutan Yesus pada Allah, yaitu Bapa, membuat banyak orang berpikir bahwa Yesus adalah anak Allah, tapi bukan Allah itu sendiri. Orang Islam bahkan tidak mengakui Isa sebagai anak Allah. Allah diyakini tidak berketurunan. Dalam konsep Kristiani sekalipun, Yesus yang dianggap anak Allah, tidak dipercaya sebagai anak biologis dari Tuhan. Iman Kristiani mempercayai bahwa yesus itu manusia yang berdaging dan bisa mati, tapi Dia merupakan perwujudan Tuhan dalam bentuk nyata. Allah dipercaya begitu mengasihi manusia sampai rela turun ke dunia dalam bentuk fisik sehingga bisa bersentuhan langsung dengan manusia. Tapi dilain pihak dipercaya juga bahwa Allah bgitu mengasihi manusia sehingga rela mengirimkan putranya yang tunggal Yesus Kristus untuk mati di kayu salib menebus dosa seluruh umat manusia. Sehingga jiwa kita semua sudah "dibeli" oleh Yesus dari tangan kebinasaan kekal di neraka.

Kelemahan dari pandangan bahwa manusia tidak bisa mencapai keselamatan dengan usaha sendiri adalah munculnya kecenderungan orang Kristen untuk menitikberatkan pada "percaya" bahwa Yesus adalah Tuhan dan berhenti sampai disitu. Pandangan begini berefek terhadap maraknya praktek kristenisasi dengan alasan bahwa hanya Yesus sumber keselamatan.

Yohanes 14:6 (TB)  Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Kata kata inilah yang dianggap kontroversial. Entah benar atau tidak Yesus berkata demikian pada si penulis injil, tapi kata kata ini sering diartikan oleh orang Kristen bahwa untuk mencapai keselamatan harus melalui Yesus seorang. Tapi sebetulnya jika memang Yesus adalah Tuhan, maka logikanya adalah tiada jalan mencapai Tuhan selain lewat Tuhan itu sendiri. Masuk akal. Cuma artinya, tidak harus melalui sosok Yesus jika ingin mencapai Tuhan atau keselamatan. Ini berlaku jika Tuhan yang ada pada agama lainpun sama dengan Tuhan agama Kristen. Artinya tidak peduli agama apapun yang dipilih selama mengarah pada Tuhan YME, maka sama saja. Ironisnya hal ini akan mengarah pada pluralisme agama yang begitu dibeci oleh kaum agamis fundamentalis.

Kelemahan berikutnya dari agama Kristen adalah adanya perjanjian baru dan lama dalam alkitab. Banyak orang yang mempertentangkan perjanjian baru dan lama, ada pula yang mengatakan bahwa perjanjian baru itu menggenapi perjanjian lama sehingga menjadi lengkap.

Perjanjian baru adalah salah satu penyebab mengapa Kristen berbeda dengan agama yahudi dan Islam. Perjanjian baru lebih berisi tentang tulisan para pengikut Kristus dan berkaitan dengan teladan dalam hidup Yesus serta pesan dari para pengikut Yesus pasca Yesus. Dari apa yang penulis baca, isi perjanjian baru adalah baik. Kesimpulan penulis adalah, jiwa Kristiani sejati justru bukan terletak pada perjanjian lama, tapi perjanjian baru. Perjanjian baru membuat seorang Kristen lebih dewasa dalam beriman. Hanya saja memang ada kesan bahwa dalam perjanjian baru ini, banyak andil pemikiran dari para penulisnya daripada kata kata langsung dari Tuhan. Bagi saya bukan sesuatu yang jelek karena saya banyak mengandalkan akal pikiran dalam mencerna segala sesuatu. Tapi bagi kaum agamis fundamentalis, ini suatu hal yang kurang keramat, karena terlalu berbau manusia.

Para penganut agama Kristen menggantungkan nasib mereka pada perjanjian baru ini. Jika apa yang disampaikan dalam perjanjian baru ini benar maka benarlah mereka akan segalanya, tapi jika tidak, maka iman terhadap Yesus sebagai Tuhan selama ini adalah sebuah kekeliruan besar.

Adanya segmentasi antara perjanjian baru dan lama sering membuat orang cenderung tidak berimbang dalam menjadikan alkitab sebagai pegangan. Salah? Tidak juga, akan tetapi penulis secara pribadi malah berpendapat bahwa jika seseorang yang terlalu menitikberatkan perjanjian lama sebagai patokan menilai sesuatu, maka orang ini bisa masuk kategori menyebalkan kalau tidak menakutkan. Mengapa demikian? Seperti saya pernah katakan sebelumnya bahwa perjanjian baru mendewasakan pemikiran. Tanpa imbangan yang cukup dari perjanjian baru, maka muncullah orang orang Kristen yang kolot, kadang kekanak-kanakan. Detailnya saya akan bahas lain waktu dengan pokok bahasan yang berbeda.

Kelemahan berikutnya dari agama Kristen juga menjadi kelemahan dari agama-agama tetangganya, terutama Islam. Apakah itu? Kelemahan tersebut adalah banyaknya denominasi atau juga aliran intra agama itu sendiri. Perbedaan ini timbul karena perpecahan, perbedaan pendapat, tafsir, atau bahkan kebudayaan. Masing masing denominasi memiliki ciri khasnya sendiri, dan punya karakteristik khas pengikutnya. Tidak jarang antar aliran ini bisa juga berselisih, para pengikutnya saling menjelekkan. Sebuah perilaku yang tidak seharusnya ditunjukkan orang berTuhan bukan?

Matius 4:19 (TB)  Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."

Seringkali ayat diatas menjadi alasan orang Kristen untuk merekrut orang masuk bukan hanya menjadi Kristen, tapi menjadi jemaat gerejanya. Maka muncullah istilah Kristenisasi. Banyak orang Kristen, kalau bukan mayoritas, berpendapat bahwa menjadi 'penjala manusia' itu menjadi kewajiban bagi orang Kristen. Memberitakan injil seolah menjadi cara paling umum digunakan dalam rangka menjala manusia. Alhasil banyak orang Kristen bermental salesman seperti penulis pernah paparkan di beberapa post yang lalu. Ayat diatas memang tidak berarti buruk, tapi jujur itu kontroversial dan untuk bisa mengartikannya dengan benar butuh pemikiran lebih jauh, bukan sekedar mencari pengikut sebanyak banyaknya. Lagi lagi mungkin ini membutuhkan pembahasan terpisah. Tapi hal ini sepertinya tidak menjadi sebuah strong point dalam agama ini. Penafsiran yang dangkal tentang menjala manusia akan melahirkan bibit perselisihan dengan penganut agama lain.

Matius 10:34 (TB)  "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.

Lagi lagi Yesus dilaporkan mengucapkan kata kata yang kontroversial. Ayat ini tidak bisa dibaca sepenggal lalu berharap mengerti artinya. Arti sebenarnya jauh dari yang tersurat di penggalan ayat ini. Tapi ini bisa dijadikan serangan oleh non Kristen untuk melegitimasi tuduhan mereka bahwa ada kekerasan dalam Kristen. Celakanya, ada kaum Kristen sendiri yang salah mengartikan ayat tersebut sehingga muncul jiwa 'perjanjian lama' nya dan berani membalas kekerasan dengan kekerasan. Apa maksudnya jiwa 'perjanjian lama'? Dalam perjanjian lama, ada istilah bahwa Tuhan berperang dipihak kita. Sehingga pembunuhan dengan alasan bagus dihalalkan. Perjanjian baru tidak memperkenankan membunuh atas alasan apapun. Bagaimana seseorang bisa mencintai musuhnya tapi membunuhnya? Perintah terbaru adalah untuk mengasihi sesama, tidak peduli lawan atau kawan.

Kesimpulannya apa? Yesus dan para penulis injil terlalu banyak mengeluarkan statement yang kontroversial. Ini juga yang menjadi kelemahan di agama Kristen. Akan tetapi kelemahan model ini juga dijumpai dalam agama lain.

Kelemahan terakhir adalah korupnya gereja. Korup yang saya nyatakan disini bukan melulu berkaitan dengan uang, tapi lebih berarti bahwa Gereja telah melenceng dari yang seharusnya. Penyimpangan Gereja misalnya ditemukan pada kasus perpecahan antara Katholik dan Protestan. Protestan memisahkan diri dari Katholik karena Gereja Katholik pada saat itu dinilai korup. Perpecahan tidak berhenti sampai disitu. Hingga sekarang kita sering lihat juga ada persaingan antar gereja.
Saling sikut dan tarik menarik jemaat antar gereja menjadi fenomena biasa dalam hidup bergereja.

Sebenarnya ada kelebihan dan kekurangan masing masing aliran dalam Kristen sendiri. Tapi sepertinya itu membutuhkan bahasan tersendiri lagi. Sejauh ini secara umum saya sudah menjelaskan kelebihan serta kekurangan dari agama Kristen. Supaya tidak terlalu panjang saya rasa cukup sampai disini, dan jika ada yang perlu dibahas lebih mendalam lagi, bisa kita telaah lebih jauh pada pembahasan khusus.

Tuesday, September 9, 2014

Alergi Pluralisme

Waktu penulis kuliah dulu, dosen mata kuliah agama pernah menyampaikan materi tentang pluralisme. Ada kesan bahwa banyak masyarakat Indonesia, terutama kaum agamis sangat alergi dengan yang namanya pluralisme dan sinkretisme agama.

Secara singkat, pluralisme agama bisa diartikan sebagai paham yang memandang bahwa kebenaran juga terdapat dalam agama lain. Semua agama memiliki tujuan yang sama, menyembah Tuhan yang sama, hanya ritualnya yang berbeda, atau cara caranya berbeda. Seorang pluralis agama akan memandang agama lain sama baiknya dengan yang dia anut. Ia hanya menganggap agama lain merupakan kendaraan lain menuju kebenaran dan keselamatan. Jadi tidak masalah menganut agama apapun. Sedangkan sinkretisme agama adalah paham yang membolehkan mencampuradukkan praktek praktek beragama.

Sang dosen waktu itu menegaskan bahwa di hati seorang pemeluk agama hanya boleh ada satu agama yang benar. Maka paham pluralisme itu harus dijauhi. Semua agama tidaklah sama. Hanya ada satu agama yang lebih baik dari yang lain. Dan dengan demikian pula maka tidak ada alasan untuk juga mempraktekkan sinkretisme agama.

Penulis berpendapat bahwa ini adalah manuver yang menampakkan ketakutan suatu kelompok agama, bahwa pengikut setianya akan berkurang atau lebih parah lagi beralih ke agama lain. Dan dengan demikian maka tidak ada kemuliaan dalam sikap demikian.

Agama yang baik tidak egois, tidak politis. Agama yang baik bukan agama yang mementingkan lomba jumlah pengikut. Kenyataannya, ada agama agama tertentu yang seolah saling berlomba, tarik menarik pengikut. Jika ada yang dari agama lain masuk ke agamanya, maka betapa bangga mereka dan pameran dimana mana. Sekian ribu orang langsung memeluk agama tersebut setelah kejadian tertentu. Hal ini langsung diberitakan kemana mana. Sebaliknya jika ada yang keluar dari agamanya, dia akan mendapat hujatan, caci maki, dan bahkan kutukan, atau kasus terparah adalah dibunuh. Jika anda punya hati nurani yang sehat, tentu anda akan merasa ada yang salah dengan praktek beragama yang demikian.

Akui saja bahwa mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama warisan dari orang tuanya. Dan kalaupun seseorang memeluk agama tertentu bukan karena orang tuanya, dia belum mempelajari semua agama yang sah. Dari situ sebenarnya kita belum bisa mengatakan bahwa agama a lebih baik dari agama b, c, d, dan e. Kenapa? Bagaimana kita bisa menilai sesuatu yang tidak kita pahami? Lain halnya jika setelah mempelajari semua agama yang ada, dan kita memahami semua agama itu, baru kemudian kita menilai, mana agama yang terbaik. Dari seluruh rakyat Indonesia yang diwajibkan beragama, berapa persennya kah yang telah mempelajari semua agama resmi Indonesia?

Walaupun demikian kita dianjurkan untuk merasa bahwa agama kita yang paling benar. Ini bukan edukasi, tapi pembodohan dan pemecah belah. Sikap demikian yang melahirkan fanatisme agama. Dan fanatisme agama akan melahirkan radikalisme agama. Dan sejauh pantauan penulis, nyaris tidak ada sisi positif dari beragama secara radikal. Ditengah kebhinekaan Indonesia, sepertinya sikap anti pluralisme agama ini memiliki potensi bahaya yang bisa mengancam kerukunan antar umat beragama. Tidak semua orang sanggup menghargai perbedaan. Dan tidak semua pemeluk agama memahami esensi ajaran agamanya dengan baik. Maka seringkali pemeluk agama terseret pada kesombongan yang merupakan akar dari perpecahan.

Penulis tidak bermaksud untuk mempromosikan pluralisme agama dan sinkretisme agama, tapi juga tidak menentang keduanya. Bagi penulis, bukan kemurnian agama yang sakral dan suci, tapi nilai kebenaran yang ada dalam tiap agama itu yang suci. Jadi tidak ada salahnya mengadopsi nilai nilai kebenaran yang tersebar dalam agama agama tersebut karena kebenaran yang sesungguhnya bersifat universal, lepas dari ikatan agama manapun. Dimata penulis, tidak ada agama yang sempurna, karena agama dijaman sekarang sudah terlalu banyak campur tangan manusianya. Agama sekarang sudah tercemar politik, mementingkan golongan daripada kemanusiaan. Dan larangan terhadap pluralisme agama adalah bukti bahwa komunitas agama sekarang lebih mementingkan golongan mereka daripada kebenaran dan kebaikan universal.

Jadi apa sebenarnya kebenaran dan kebaikan universal itu? Kalau mau dibuat simpel, intinya hanya kasih. Ajaran tentang kasih adalah ajaran yang universal. Dan penulis yakin semua agama yang legal di Indonesia mengajarkan bagaimana mengasihi sesama manusia, dan bahkan mengasihi semua makhluk. Jadi sebenarnya ada benang merah yang menghubungkan agama yang berbeda beda ini.

Agak sulit menilai agama mana yang lebih baik dari yang lain karena belum ada yang  membuat skor perbandingan secara lengkap dari semua agama. Selama ini yang ada cuma klaim. Masing masing agama mengklaim bahwa dialah yang terbaik (kecuali agama Buddha yang saya tahu tidak mengklaim demikian). Tapi saya percaya bahwa tiap agama punya kelebihan dan kelemahannya masing masing. Dan tidaklah salah bersikap objektif terhadap agama sendiri. Mengakui kelemahan dalam agama sendiri adalah langkah awal mendekati kebenaran yang sesungguhnya.

Boleh boleh saja menganggap agama sendiri sebagai yang terbaik, tapi itu jangan dijadikan alasan untuk merendahkan agama lain. Itu hanya untuk dipegang oleh diri sendiri. Dan kecintaan terhadap agama seharusnya akan membuat kita manusia yang lebih baik. Jika memang benar agama kita lebih baik dari agama lain, agama kita akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik juga. Dan itu akan dinilai langsung di masyarakat, bukan dari klaim.

Saturday, September 6, 2014

Berhijab, Dilihat Secara Objektif

Tanpa bermaksud sara, penulis berusaha menuangkan pikiran tentang berhijab. Berhijab bagi wanita muslim adalah anjuran, atau bahkan beberapa kalangan menganggaonya keharusan yang tidak bisa dibantah. Lalu bagaimana pandangan penulis mengenai berhijab? Baikkah? Burukkah? Atau ada keburukan ditengah kebaikannya, dan sebaliknya?

Dari satu sisi, kebaikan dari berhijab adalah membantu kaum pria untuk tidak naik hasratnya ketika melihat sosok seorang wanita. Tubuh wanita itu suatu keindahan alami yang disukai baik pria ataupun wanita. Dan bagi pria normal, akan menjadi sesuatu yang merangsang syahwat jika menyaksikan bagian bagian tubuh tertentu dari seorang wanita. Biasanya bagian bagian itu adalah paha, belahan dada, atau lekuk tubuh semisal daerah pinggul, pantat dan dada.

Penulis berpendapat bahwa berhijab bukan hanya menutup kepala dengan kerudung atau jilbab, tapi menutup semua bagian bagian tubuh yang disebut diatas, juga termasuk bagian tubuh lainnya sehingga hanya menyisakan wajah dan telapak tangan. Dan busana yang dikenakan tidak ketat.

Jujur hijab adalah cara yang efektif untuk membuat seorang wanita tampak jauh dari menarik secara fisik. Penulis sendiri sangat tidak berselera kepada wanita berhijab. Tapi ternyata tidak demikian halnya dengan banyak orang diluar sana.

Penulis pernah iseng iseng menjelajah situs dewasa lokal yang ternyata didalamnya ada juga peminat gambar gambar dewasa dengan 'fetish' jilbab. Tandanya sebenarnya pengekangan syahwat tidak seharusnya berpusat pada pembungkusan wanita. pikiran pria tidak semudah itu dikekang. Ketika diberi penghalang, pikiran nakal itu akan mencari jalan baru.

Sejujurnya penulis tidak begitu menyukai ide hijab itu, terlepas dari bahwa berhijab itu anjuran agama. Penulis memandang hijab adalah bentuk 'pelecehan' terhadap manusia, baik pria maupun wanita. Yang wanita direndahkan karena dianggap objek pembangkit birahi, yang sehingga harus dibelenggu. Wanita seolah dianggap sumber gangguan bagi pria dalam menyucikan pikiran. Dan kaum pria dianggap serendah binatang sehingga tidak mampu mengendalikan pikiran dan perbuatan ketika melihat wanita. (Kenyataannya ada saja kaum pria yang demikian, tapi tidak semuanya)

Intinya, paksaan berhijab bukanlah suatu tindakan yang 'mendewasakan' manusia. Seorang manusia yang dewasa tidak berpikiran bersih karena tidak ada godaan apapun, tapi justru seorang manusia dewasa mampu menjaga kebersihan pikiran ketika disekelilingnya banyak hal-hal yang bersifat godaan.

Tapi penulis paham bahwa tidak semua pria mampu mengendalikan pikiran dan kemudian perbuatannya. Perbuatan datang dari pikiran, tapi kadang hasrat yang bergejolak justru mampu diredam oleh pikiran yang sehat. Penulis melihat, semakin tinggi tingkat kesejahteraan seseorang, maka semakin kecil kemungkinan dia untuk melakukan perbuatan perbuatan yang bisa menghancurkan hidupnya. Karena orang yang hidup bahagia dan sejahtera dan dalam kondisi waras, tidak akan mau mempertaruhkan apa yang dia miliki hanya karena godaan sesaat. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki apapun, berani melakukan apapun karena prinsipnya nothing to lose.

Maka sampailah kita pada dilema berhijab. Di satu sisi hijab itu bukan memuliakan, justru merendahkan dan masih belum sepenuhnya mampu mengekang hasrat pria, di lain sisi, memang banyak laki laki yang tidak mampu menguasai pikiran nakalnya. Solusinya sementara adalah hukum dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sanksi untuk pemerkosa harus diberatkan dan memiliki efek menakuti, sehingga orang akan berpikir lagi jika muncul niat memperkosa. Kemudian seperti telah diulas diatas bahwa tingkat kesejahteraan berpengaruh juga pada tingkat kemungkinan perkosaan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah pendidikan moral yang dimulai sejak dini di keluarga. Anak yang tumbuh dilingkungan yang baik akan cenderung memiliki moral yang baik. Orang yang memiliki moral yang baik akan relatif resistan terhadap godaan.

Akan tetapi, penulis sendiri tidak punya kuasa menentang hukum agama. Maka jangan jadikan tulisan ini sebagai sandungan anda dalam beragama. Ini hanyalah pemikiran pribadi yang sama sekali tidak mengikat pembacanya. Silakan berhijab jika memang hati anda menginginkannya karena agama anda mengharuskannya.

Jadi, sikap penulis pribadi terhadap hijab yang digunaka sebagai 'belenggu' wanita adalah no, tapi hijab yang digunakan sebagai fashion atau preferensi pribadi, yes. Karena tidak ada alasan untuk melarangnya. Tapi jika seorang wanita tidak ingin berhijab dan masyarakat sekitar memaksanya karena dia dianggap godaan, it's a big NO.