Tuesday, October 11, 2016

Mengapa wajib memilih pemimpin yang muslim?

Ahok, suatu sosok yang sangat fenomenal di ranah politik Indonesia sekarang ini. Bagaiman tidak, dia seorang berdarah tionghoa yang bisa sampai kursi gubernur dki. Belum lagi dia akan mencalonkan diri lagi sebagai gubernur DKI untuk kedua kalinya. Lebih tepatnya, kali ini dia dari awal mencalonkan diri sebagai Gubernur. Skip, sampai sini semua sudah tau. Masalah belum berhenti sampai disitu, beliau beragama Kristen. Jadi udah cina, kristen pula. Jujur walaupun kinerja beliau bagus, tapi banyak orang seperti gak rela kalau dia bisa jadi gubernur. Kenapa? Selain karena beliau anti korupsi dan blak blakan, pastinya unsur sara itu yang berat. Belakangan muncul kalimat bahwa umat Islam dilarang memilih pemimpin yang non muslim. Konon itu ada di Al Quran. Ya, dan memang demikianlah adanya. Lalu kenapa Islam melarang muslim untuk memilih non muslim sebagai pemimpinnya?

Alasan yang terutama adalah karena Islam adalah agama yang politis. Artinya, politik dan Islam tidak dapat dipisahkan. Islam sendiri bisa dianggap sebagai sebuah ideologi politik dan sosial. Maka menjadi suatu hal yang penting bagi umat Islam untuk memilih pemimpin yang muslim, demi meraih keuntungan politik bagi kaum muslimin.

Islam bukan hanya suatu agama yang berurusan dengan hal hal yang sifatnya spiritual, tapi juga hal hal dunawi. mulai dari kesejahteraan,sampai kekuasaan. Maka bagi umat muslim, jadi satu hal yang sangat penting bahwa mereka harus tetap berada diatas non muslim.

Memang tidak semua muslim pasti baik, dan tidak semua non muslim pasti tidak baik. Berapa banyak pejabat yang notabene muslim tapi terjerat kasus korupsi. dan kali ini jagad politik Indonesia sedang dihebohkan oleh seorang Ahok yang non muslim, tapi berjuang bagi kepentingan orang banyak, bersih dari korupsi, dan popularitasnya menanjak dengan cukup cepat.

soal porsi politiknya, saya enggan berkomentar. tapi dari segi agama, disini umat Islam indonesia sedang heboh dengan sosok ahok yang kontroversial ini. bagaimana tidak, banyak sekali muslim yang justru malah mendukung ahok. walaupun sudah mulai terkena efek kasus penistaan agama, masih banyak muslim yang mendukung ahok untuk kembali menjabat gubernur. Tidak sedikit pula yang membela sang gubernur.

Lalu, para muslim yang militan dan fundamentalis mulai kebakaran jenggot dan berusaha sebisa mungkin menghalau dukungan yang mengalir buat Ahok. Coba pikir, Ahok itu satu satunya pejabat yang terang terangan berniat membubarkan FPI. Maka jika sampai dia memiliki cukup kuasa untuk melakukannya, maka celakalah FPI. Itu sebabnya juga bagi FPI, Ahok wajib lengser. bahkan mungkin bagi mereka lebih bagus jika ada orang yang rela membunuh Ahok. Ini sudah menjadi sesuatu yang sifatnya personal bagi mereka.

Demi bisa menjegal Ahok menuju DKI 1, para muslim militan sampai harus melibatkan muslim yang berada diluar DKI dan mengatasnamakanseluruh umat Islam. Disini dibuat seolah olah Ahok itu adalah musuhnya seluruh umat Islam. Diciptakan kesan bahwa ahok melecehkan ulama. (baca: semua orang yang termasuk ulama tanpa kecuali.) Padahal, jelas jelas kalangan ulama sekalipun belum satu suara sependapat bahwa ahok menistakan agama Islam. Dan tidak semua ulama berseberangan dengan ahok.

yak, cukup tentang ahoknya. Yang jelas, jika hal ini dibayangkan terjadi pada umat kristen, Hindu, atau Buddha, maka akan jadi agak aneh. Dari dulu yang begini sifatnya cuma umat Islam. Yang berapi api marah ketika merasa ada yang menghina agama, nabi, atau Tuhannya, ya cuma umat Islam di jaman modern ini.

Ketika ada yang menghina Yesus, umat Kristen cuma bisa mendoakan karena si penghina tidak tau apa yang sedang ia perbuat. ketika ada yang menghina sang Buddha, umat Buddha tetap adem karena pengendalian diri adalah salah satuajaran Buddha. tapi ketika ada yang menghina Nabi Muhammad SAW, amarah umat Islam akan berkobar dan dengan kepalan tangan teracung, dan pekik takbir, mereka menuntut si penghina dihukum, bahkan ada yang ingin menghakimi sendiri si penghina.

balik ke topik tentang memilih pemimpin. Tidak ada aturan dalam agama lain tentang memilih pemimpin negara karena dalam agama lain itu yang dipentingkan adalah bagaimana menjadi manusia yang lebih baik tanpa menghitung untung ruginya golongan agama tertentu. pemimpinyang harus dipilih bukan dilihat dari agamanya apa, tapi dari kualitas manusianya. apakah bisa dipercaya? apakah punya keahlian yang dibutuhkan seorang pemimpin? dan lain lain.

tapi bagi umat Islam sepertinya memilih pemimpin pun harus yang beragama Islam, supaya secara politis, umat Islam punya bargaining power yang kuat. Supaya ketika umat Islam dibully,maka mereka punya bekingan legal yang bisa membela mereka. Hal ini menimbulkan kesan bahwa yang ada dibenak umat Islam itu begini. Kafir itu jahat semua sama umat Islam, mereka memusuhi Islam, maka umat Islam akan celaka jika negara tempat tinggalmereka dipimpin seorang kafir. Belum apa apa mereka sudah ketakutan bahwa si kafir ini akan membully Umat Islam.

nah kalau sudah begini jadi tidak enak kan bacanya? Seolah olah semua muslim itu kerdil nan picik begitu pemikirannya. padahal tidak demikian. habis mau bagaimana lagi, kan mereka mereka yang berpikiran begini selalu mengatasnamakan seluruh umat Islam. ya jadi stigma yang melekat pada umat islam adalah kepicikankepicikan tersebut. Dan seolah kepicikan tersebut di ajarkan dalam Islam. Ya dan tidak sih. karena ada yang namanya tafsir. penafsiran yang berbeda membuat Islam seolahmemiliki banyak wajah. tapi celakanya wajah yang paling kelihatan itu ya yang jeleknya.