Tuesday, September 9, 2014

Alergi Pluralisme

Waktu penulis kuliah dulu, dosen mata kuliah agama pernah menyampaikan materi tentang pluralisme. Ada kesan bahwa banyak masyarakat Indonesia, terutama kaum agamis sangat alergi dengan yang namanya pluralisme dan sinkretisme agama.

Secara singkat, pluralisme agama bisa diartikan sebagai paham yang memandang bahwa kebenaran juga terdapat dalam agama lain. Semua agama memiliki tujuan yang sama, menyembah Tuhan yang sama, hanya ritualnya yang berbeda, atau cara caranya berbeda. Seorang pluralis agama akan memandang agama lain sama baiknya dengan yang dia anut. Ia hanya menganggap agama lain merupakan kendaraan lain menuju kebenaran dan keselamatan. Jadi tidak masalah menganut agama apapun. Sedangkan sinkretisme agama adalah paham yang membolehkan mencampuradukkan praktek praktek beragama.

Sang dosen waktu itu menegaskan bahwa di hati seorang pemeluk agama hanya boleh ada satu agama yang benar. Maka paham pluralisme itu harus dijauhi. Semua agama tidaklah sama. Hanya ada satu agama yang lebih baik dari yang lain. Dan dengan demikian pula maka tidak ada alasan untuk juga mempraktekkan sinkretisme agama.

Penulis berpendapat bahwa ini adalah manuver yang menampakkan ketakutan suatu kelompok agama, bahwa pengikut setianya akan berkurang atau lebih parah lagi beralih ke agama lain. Dan dengan demikian maka tidak ada kemuliaan dalam sikap demikian.

Agama yang baik tidak egois, tidak politis. Agama yang baik bukan agama yang mementingkan lomba jumlah pengikut. Kenyataannya, ada agama agama tertentu yang seolah saling berlomba, tarik menarik pengikut. Jika ada yang dari agama lain masuk ke agamanya, maka betapa bangga mereka dan pameran dimana mana. Sekian ribu orang langsung memeluk agama tersebut setelah kejadian tertentu. Hal ini langsung diberitakan kemana mana. Sebaliknya jika ada yang keluar dari agamanya, dia akan mendapat hujatan, caci maki, dan bahkan kutukan, atau kasus terparah adalah dibunuh. Jika anda punya hati nurani yang sehat, tentu anda akan merasa ada yang salah dengan praktek beragama yang demikian.

Akui saja bahwa mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama warisan dari orang tuanya. Dan kalaupun seseorang memeluk agama tertentu bukan karena orang tuanya, dia belum mempelajari semua agama yang sah. Dari situ sebenarnya kita belum bisa mengatakan bahwa agama a lebih baik dari agama b, c, d, dan e. Kenapa? Bagaimana kita bisa menilai sesuatu yang tidak kita pahami? Lain halnya jika setelah mempelajari semua agama yang ada, dan kita memahami semua agama itu, baru kemudian kita menilai, mana agama yang terbaik. Dari seluruh rakyat Indonesia yang diwajibkan beragama, berapa persennya kah yang telah mempelajari semua agama resmi Indonesia?

Walaupun demikian kita dianjurkan untuk merasa bahwa agama kita yang paling benar. Ini bukan edukasi, tapi pembodohan dan pemecah belah. Sikap demikian yang melahirkan fanatisme agama. Dan fanatisme agama akan melahirkan radikalisme agama. Dan sejauh pantauan penulis, nyaris tidak ada sisi positif dari beragama secara radikal. Ditengah kebhinekaan Indonesia, sepertinya sikap anti pluralisme agama ini memiliki potensi bahaya yang bisa mengancam kerukunan antar umat beragama. Tidak semua orang sanggup menghargai perbedaan. Dan tidak semua pemeluk agama memahami esensi ajaran agamanya dengan baik. Maka seringkali pemeluk agama terseret pada kesombongan yang merupakan akar dari perpecahan.

Penulis tidak bermaksud untuk mempromosikan pluralisme agama dan sinkretisme agama, tapi juga tidak menentang keduanya. Bagi penulis, bukan kemurnian agama yang sakral dan suci, tapi nilai kebenaran yang ada dalam tiap agama itu yang suci. Jadi tidak ada salahnya mengadopsi nilai nilai kebenaran yang tersebar dalam agama agama tersebut karena kebenaran yang sesungguhnya bersifat universal, lepas dari ikatan agama manapun. Dimata penulis, tidak ada agama yang sempurna, karena agama dijaman sekarang sudah terlalu banyak campur tangan manusianya. Agama sekarang sudah tercemar politik, mementingkan golongan daripada kemanusiaan. Dan larangan terhadap pluralisme agama adalah bukti bahwa komunitas agama sekarang lebih mementingkan golongan mereka daripada kebenaran dan kebaikan universal.

Jadi apa sebenarnya kebenaran dan kebaikan universal itu? Kalau mau dibuat simpel, intinya hanya kasih. Ajaran tentang kasih adalah ajaran yang universal. Dan penulis yakin semua agama yang legal di Indonesia mengajarkan bagaimana mengasihi sesama manusia, dan bahkan mengasihi semua makhluk. Jadi sebenarnya ada benang merah yang menghubungkan agama yang berbeda beda ini.

Agak sulit menilai agama mana yang lebih baik dari yang lain karena belum ada yang  membuat skor perbandingan secara lengkap dari semua agama. Selama ini yang ada cuma klaim. Masing masing agama mengklaim bahwa dialah yang terbaik (kecuali agama Buddha yang saya tahu tidak mengklaim demikian). Tapi saya percaya bahwa tiap agama punya kelebihan dan kelemahannya masing masing. Dan tidaklah salah bersikap objektif terhadap agama sendiri. Mengakui kelemahan dalam agama sendiri adalah langkah awal mendekati kebenaran yang sesungguhnya.

Boleh boleh saja menganggap agama sendiri sebagai yang terbaik, tapi itu jangan dijadikan alasan untuk merendahkan agama lain. Itu hanya untuk dipegang oleh diri sendiri. Dan kecintaan terhadap agama seharusnya akan membuat kita manusia yang lebih baik. Jika memang benar agama kita lebih baik dari agama lain, agama kita akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik juga. Dan itu akan dinilai langsung di masyarakat, bukan dari klaim.

Saturday, September 6, 2014

Berhijab, Dilihat Secara Objektif

Tanpa bermaksud sara, penulis berusaha menuangkan pikiran tentang berhijab. Berhijab bagi wanita muslim adalah anjuran, atau bahkan beberapa kalangan menganggaonya keharusan yang tidak bisa dibantah. Lalu bagaimana pandangan penulis mengenai berhijab? Baikkah? Burukkah? Atau ada keburukan ditengah kebaikannya, dan sebaliknya?

Dari satu sisi, kebaikan dari berhijab adalah membantu kaum pria untuk tidak naik hasratnya ketika melihat sosok seorang wanita. Tubuh wanita itu suatu keindahan alami yang disukai baik pria ataupun wanita. Dan bagi pria normal, akan menjadi sesuatu yang merangsang syahwat jika menyaksikan bagian bagian tubuh tertentu dari seorang wanita. Biasanya bagian bagian itu adalah paha, belahan dada, atau lekuk tubuh semisal daerah pinggul, pantat dan dada.

Penulis berpendapat bahwa berhijab bukan hanya menutup kepala dengan kerudung atau jilbab, tapi menutup semua bagian bagian tubuh yang disebut diatas, juga termasuk bagian tubuh lainnya sehingga hanya menyisakan wajah dan telapak tangan. Dan busana yang dikenakan tidak ketat.

Jujur hijab adalah cara yang efektif untuk membuat seorang wanita tampak jauh dari menarik secara fisik. Penulis sendiri sangat tidak berselera kepada wanita berhijab. Tapi ternyata tidak demikian halnya dengan banyak orang diluar sana.

Penulis pernah iseng iseng menjelajah situs dewasa lokal yang ternyata didalamnya ada juga peminat gambar gambar dewasa dengan 'fetish' jilbab. Tandanya sebenarnya pengekangan syahwat tidak seharusnya berpusat pada pembungkusan wanita. pikiran pria tidak semudah itu dikekang. Ketika diberi penghalang, pikiran nakal itu akan mencari jalan baru.

Sejujurnya penulis tidak begitu menyukai ide hijab itu, terlepas dari bahwa berhijab itu anjuran agama. Penulis memandang hijab adalah bentuk 'pelecehan' terhadap manusia, baik pria maupun wanita. Yang wanita direndahkan karena dianggap objek pembangkit birahi, yang sehingga harus dibelenggu. Wanita seolah dianggap sumber gangguan bagi pria dalam menyucikan pikiran. Dan kaum pria dianggap serendah binatang sehingga tidak mampu mengendalikan pikiran dan perbuatan ketika melihat wanita. (Kenyataannya ada saja kaum pria yang demikian, tapi tidak semuanya)

Intinya, paksaan berhijab bukanlah suatu tindakan yang 'mendewasakan' manusia. Seorang manusia yang dewasa tidak berpikiran bersih karena tidak ada godaan apapun, tapi justru seorang manusia dewasa mampu menjaga kebersihan pikiran ketika disekelilingnya banyak hal-hal yang bersifat godaan.

Tapi penulis paham bahwa tidak semua pria mampu mengendalikan pikiran dan kemudian perbuatannya. Perbuatan datang dari pikiran, tapi kadang hasrat yang bergejolak justru mampu diredam oleh pikiran yang sehat. Penulis melihat, semakin tinggi tingkat kesejahteraan seseorang, maka semakin kecil kemungkinan dia untuk melakukan perbuatan perbuatan yang bisa menghancurkan hidupnya. Karena orang yang hidup bahagia dan sejahtera dan dalam kondisi waras, tidak akan mau mempertaruhkan apa yang dia miliki hanya karena godaan sesaat. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki apapun, berani melakukan apapun karena prinsipnya nothing to lose.

Maka sampailah kita pada dilema berhijab. Di satu sisi hijab itu bukan memuliakan, justru merendahkan dan masih belum sepenuhnya mampu mengekang hasrat pria, di lain sisi, memang banyak laki laki yang tidak mampu menguasai pikiran nakalnya. Solusinya sementara adalah hukum dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sanksi untuk pemerkosa harus diberatkan dan memiliki efek menakuti, sehingga orang akan berpikir lagi jika muncul niat memperkosa. Kemudian seperti telah diulas diatas bahwa tingkat kesejahteraan berpengaruh juga pada tingkat kemungkinan perkosaan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah pendidikan moral yang dimulai sejak dini di keluarga. Anak yang tumbuh dilingkungan yang baik akan cenderung memiliki moral yang baik. Orang yang memiliki moral yang baik akan relatif resistan terhadap godaan.

Akan tetapi, penulis sendiri tidak punya kuasa menentang hukum agama. Maka jangan jadikan tulisan ini sebagai sandungan anda dalam beragama. Ini hanyalah pemikiran pribadi yang sama sekali tidak mengikat pembacanya. Silakan berhijab jika memang hati anda menginginkannya karena agama anda mengharuskannya.

Jadi, sikap penulis pribadi terhadap hijab yang digunaka sebagai 'belenggu' wanita adalah no, tapi hijab yang digunakan sebagai fashion atau preferensi pribadi, yes. Karena tidak ada alasan untuk melarangnya. Tapi jika seorang wanita tidak ingin berhijab dan masyarakat sekitar memaksanya karena dia dianggap godaan, it's a big NO.