Tuesday, September 9, 2014

Alergi Pluralisme

Waktu penulis kuliah dulu, dosen mata kuliah agama pernah menyampaikan materi tentang pluralisme. Ada kesan bahwa banyak masyarakat Indonesia, terutama kaum agamis sangat alergi dengan yang namanya pluralisme dan sinkretisme agama.

Secara singkat, pluralisme agama bisa diartikan sebagai paham yang memandang bahwa kebenaran juga terdapat dalam agama lain. Semua agama memiliki tujuan yang sama, menyembah Tuhan yang sama, hanya ritualnya yang berbeda, atau cara caranya berbeda. Seorang pluralis agama akan memandang agama lain sama baiknya dengan yang dia anut. Ia hanya menganggap agama lain merupakan kendaraan lain menuju kebenaran dan keselamatan. Jadi tidak masalah menganut agama apapun. Sedangkan sinkretisme agama adalah paham yang membolehkan mencampuradukkan praktek praktek beragama.

Sang dosen waktu itu menegaskan bahwa di hati seorang pemeluk agama hanya boleh ada satu agama yang benar. Maka paham pluralisme itu harus dijauhi. Semua agama tidaklah sama. Hanya ada satu agama yang lebih baik dari yang lain. Dan dengan demikian pula maka tidak ada alasan untuk juga mempraktekkan sinkretisme agama.

Penulis berpendapat bahwa ini adalah manuver yang menampakkan ketakutan suatu kelompok agama, bahwa pengikut setianya akan berkurang atau lebih parah lagi beralih ke agama lain. Dan dengan demikian maka tidak ada kemuliaan dalam sikap demikian.

Agama yang baik tidak egois, tidak politis. Agama yang baik bukan agama yang mementingkan lomba jumlah pengikut. Kenyataannya, ada agama agama tertentu yang seolah saling berlomba, tarik menarik pengikut. Jika ada yang dari agama lain masuk ke agamanya, maka betapa bangga mereka dan pameran dimana mana. Sekian ribu orang langsung memeluk agama tersebut setelah kejadian tertentu. Hal ini langsung diberitakan kemana mana. Sebaliknya jika ada yang keluar dari agamanya, dia akan mendapat hujatan, caci maki, dan bahkan kutukan, atau kasus terparah adalah dibunuh. Jika anda punya hati nurani yang sehat, tentu anda akan merasa ada yang salah dengan praktek beragama yang demikian.

Akui saja bahwa mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama warisan dari orang tuanya. Dan kalaupun seseorang memeluk agama tertentu bukan karena orang tuanya, dia belum mempelajari semua agama yang sah. Dari situ sebenarnya kita belum bisa mengatakan bahwa agama a lebih baik dari agama b, c, d, dan e. Kenapa? Bagaimana kita bisa menilai sesuatu yang tidak kita pahami? Lain halnya jika setelah mempelajari semua agama yang ada, dan kita memahami semua agama itu, baru kemudian kita menilai, mana agama yang terbaik. Dari seluruh rakyat Indonesia yang diwajibkan beragama, berapa persennya kah yang telah mempelajari semua agama resmi Indonesia?

Walaupun demikian kita dianjurkan untuk merasa bahwa agama kita yang paling benar. Ini bukan edukasi, tapi pembodohan dan pemecah belah. Sikap demikian yang melahirkan fanatisme agama. Dan fanatisme agama akan melahirkan radikalisme agama. Dan sejauh pantauan penulis, nyaris tidak ada sisi positif dari beragama secara radikal. Ditengah kebhinekaan Indonesia, sepertinya sikap anti pluralisme agama ini memiliki potensi bahaya yang bisa mengancam kerukunan antar umat beragama. Tidak semua orang sanggup menghargai perbedaan. Dan tidak semua pemeluk agama memahami esensi ajaran agamanya dengan baik. Maka seringkali pemeluk agama terseret pada kesombongan yang merupakan akar dari perpecahan.

Penulis tidak bermaksud untuk mempromosikan pluralisme agama dan sinkretisme agama, tapi juga tidak menentang keduanya. Bagi penulis, bukan kemurnian agama yang sakral dan suci, tapi nilai kebenaran yang ada dalam tiap agama itu yang suci. Jadi tidak ada salahnya mengadopsi nilai nilai kebenaran yang tersebar dalam agama agama tersebut karena kebenaran yang sesungguhnya bersifat universal, lepas dari ikatan agama manapun. Dimata penulis, tidak ada agama yang sempurna, karena agama dijaman sekarang sudah terlalu banyak campur tangan manusianya. Agama sekarang sudah tercemar politik, mementingkan golongan daripada kemanusiaan. Dan larangan terhadap pluralisme agama adalah bukti bahwa komunitas agama sekarang lebih mementingkan golongan mereka daripada kebenaran dan kebaikan universal.

Jadi apa sebenarnya kebenaran dan kebaikan universal itu? Kalau mau dibuat simpel, intinya hanya kasih. Ajaran tentang kasih adalah ajaran yang universal. Dan penulis yakin semua agama yang legal di Indonesia mengajarkan bagaimana mengasihi sesama manusia, dan bahkan mengasihi semua makhluk. Jadi sebenarnya ada benang merah yang menghubungkan agama yang berbeda beda ini.

Agak sulit menilai agama mana yang lebih baik dari yang lain karena belum ada yang  membuat skor perbandingan secara lengkap dari semua agama. Selama ini yang ada cuma klaim. Masing masing agama mengklaim bahwa dialah yang terbaik (kecuali agama Buddha yang saya tahu tidak mengklaim demikian). Tapi saya percaya bahwa tiap agama punya kelebihan dan kelemahannya masing masing. Dan tidaklah salah bersikap objektif terhadap agama sendiri. Mengakui kelemahan dalam agama sendiri adalah langkah awal mendekati kebenaran yang sesungguhnya.

Boleh boleh saja menganggap agama sendiri sebagai yang terbaik, tapi itu jangan dijadikan alasan untuk merendahkan agama lain. Itu hanya untuk dipegang oleh diri sendiri. Dan kecintaan terhadap agama seharusnya akan membuat kita manusia yang lebih baik. Jika memang benar agama kita lebih baik dari agama lain, agama kita akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik juga. Dan itu akan dinilai langsung di masyarakat, bukan dari klaim.

Saturday, September 6, 2014

Berhijab, Dilihat Secara Objektif

Tanpa bermaksud sara, penulis berusaha menuangkan pikiran tentang berhijab. Berhijab bagi wanita muslim adalah anjuran, atau bahkan beberapa kalangan menganggaonya keharusan yang tidak bisa dibantah. Lalu bagaimana pandangan penulis mengenai berhijab? Baikkah? Burukkah? Atau ada keburukan ditengah kebaikannya, dan sebaliknya?

Dari satu sisi, kebaikan dari berhijab adalah membantu kaum pria untuk tidak naik hasratnya ketika melihat sosok seorang wanita. Tubuh wanita itu suatu keindahan alami yang disukai baik pria ataupun wanita. Dan bagi pria normal, akan menjadi sesuatu yang merangsang syahwat jika menyaksikan bagian bagian tubuh tertentu dari seorang wanita. Biasanya bagian bagian itu adalah paha, belahan dada, atau lekuk tubuh semisal daerah pinggul, pantat dan dada.

Penulis berpendapat bahwa berhijab bukan hanya menutup kepala dengan kerudung atau jilbab, tapi menutup semua bagian bagian tubuh yang disebut diatas, juga termasuk bagian tubuh lainnya sehingga hanya menyisakan wajah dan telapak tangan. Dan busana yang dikenakan tidak ketat.

Jujur hijab adalah cara yang efektif untuk membuat seorang wanita tampak jauh dari menarik secara fisik. Penulis sendiri sangat tidak berselera kepada wanita berhijab. Tapi ternyata tidak demikian halnya dengan banyak orang diluar sana.

Penulis pernah iseng iseng menjelajah situs dewasa lokal yang ternyata didalamnya ada juga peminat gambar gambar dewasa dengan 'fetish' jilbab. Tandanya sebenarnya pengekangan syahwat tidak seharusnya berpusat pada pembungkusan wanita. pikiran pria tidak semudah itu dikekang. Ketika diberi penghalang, pikiran nakal itu akan mencari jalan baru.

Sejujurnya penulis tidak begitu menyukai ide hijab itu, terlepas dari bahwa berhijab itu anjuran agama. Penulis memandang hijab adalah bentuk 'pelecehan' terhadap manusia, baik pria maupun wanita. Yang wanita direndahkan karena dianggap objek pembangkit birahi, yang sehingga harus dibelenggu. Wanita seolah dianggap sumber gangguan bagi pria dalam menyucikan pikiran. Dan kaum pria dianggap serendah binatang sehingga tidak mampu mengendalikan pikiran dan perbuatan ketika melihat wanita. (Kenyataannya ada saja kaum pria yang demikian, tapi tidak semuanya)

Intinya, paksaan berhijab bukanlah suatu tindakan yang 'mendewasakan' manusia. Seorang manusia yang dewasa tidak berpikiran bersih karena tidak ada godaan apapun, tapi justru seorang manusia dewasa mampu menjaga kebersihan pikiran ketika disekelilingnya banyak hal-hal yang bersifat godaan.

Tapi penulis paham bahwa tidak semua pria mampu mengendalikan pikiran dan kemudian perbuatannya. Perbuatan datang dari pikiran, tapi kadang hasrat yang bergejolak justru mampu diredam oleh pikiran yang sehat. Penulis melihat, semakin tinggi tingkat kesejahteraan seseorang, maka semakin kecil kemungkinan dia untuk melakukan perbuatan perbuatan yang bisa menghancurkan hidupnya. Karena orang yang hidup bahagia dan sejahtera dan dalam kondisi waras, tidak akan mau mempertaruhkan apa yang dia miliki hanya karena godaan sesaat. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki apapun, berani melakukan apapun karena prinsipnya nothing to lose.

Maka sampailah kita pada dilema berhijab. Di satu sisi hijab itu bukan memuliakan, justru merendahkan dan masih belum sepenuhnya mampu mengekang hasrat pria, di lain sisi, memang banyak laki laki yang tidak mampu menguasai pikiran nakalnya. Solusinya sementara adalah hukum dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sanksi untuk pemerkosa harus diberatkan dan memiliki efek menakuti, sehingga orang akan berpikir lagi jika muncul niat memperkosa. Kemudian seperti telah diulas diatas bahwa tingkat kesejahteraan berpengaruh juga pada tingkat kemungkinan perkosaan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah pendidikan moral yang dimulai sejak dini di keluarga. Anak yang tumbuh dilingkungan yang baik akan cenderung memiliki moral yang baik. Orang yang memiliki moral yang baik akan relatif resistan terhadap godaan.

Akan tetapi, penulis sendiri tidak punya kuasa menentang hukum agama. Maka jangan jadikan tulisan ini sebagai sandungan anda dalam beragama. Ini hanyalah pemikiran pribadi yang sama sekali tidak mengikat pembacanya. Silakan berhijab jika memang hati anda menginginkannya karena agama anda mengharuskannya.

Jadi, sikap penulis pribadi terhadap hijab yang digunaka sebagai 'belenggu' wanita adalah no, tapi hijab yang digunakan sebagai fashion atau preferensi pribadi, yes. Karena tidak ada alasan untuk melarangnya. Tapi jika seorang wanita tidak ingin berhijab dan masyarakat sekitar memaksanya karena dia dianggap godaan, it's a big NO.

Monday, August 18, 2014

Melamun tentang Konsep Tuhan

Ini biasanya adalah hal yang tabu. Tapi kesatu karena ini ditulis tanpa ada niatan menghujat, dan kedua, tidak ada orang yang baca blog ini, maka penulis memberanikan diri mengupas tentang konsep Tuhan bagi pribadi penulis.

Disclaimer: penulis tidak berniat memaksakan apa yang penulis percaya kepada pembaca. Read at your own risk! Freedom of thought ya.

Penulis bukanlah seorang theist konvensional. Artinya penulis memiliki pemahaman lain tentang Tuhan. Apa yang penulis ungkapkan disini merupaka hasil perenungan penulis sendiri. Dan jika terdapat kesamaan atau kemiripan dengan konsep yang sudah diungkapkan oleh orang lain, itu berarti kami memiliki kesamaan dalam berpikir, jadi penulis tidak menjiplak ide siapapun.

Tuhan bagi saya tidak seperti yang dipercaya banyak orang beragama. Tuhan yang penulis percaya bukan Tuhan yang manusiawi. Tuhan tidak memiliki campur tangan terhadap penulisan "takdir". Dan bahkan penulis tidak mempercayai bahwa ada yang namanya suratan takdir, yaitu segala sesuatu yang sudah direncanakan oleh sesosok ultimate being.

Mengapa begitu? Adalah seauatu yang konyol jika semuanya telah direncanakan tapi seolah kita memiliki kehendak bebas untuk menentukan langkah. Bukankah itu suatu kesia-siaan. Jikalau memang takdir, maka apapun yang kita lakukan akan membuat kita menemui takdir tersebut. Maka saya berpendapat ketika seseorang mengatakan, bahwa itu sudah takdir, hanya merupakan cara untuk menghibur diri bahwa ketika ia menghadapi kegagalan, itu adalah kehendak yang Kuasa.

Manusia, bumi, dan alam semesta tidak diciptakan oleh suatu entitas. Semua terjadi secara alami. Orang hanya berpikir, tidak mungkin sesuatu yang begitu kompleksnya dan teratur ini terjadi tanpa ada campur tangan suatu entitas yang merencanakan semuanya. Ini adalah kerangka berpikir manusia karena manusia membandingkan alam semesta dengan mobil-gadget-komputer ciptaannya, yang juga memiliki pola dan keteraturan, serta kerumitan. Dan ketika manusia melihat suatu mesin aneh yang luar biasa canggih otomatis dia akan berpikir bahwa tidak mungkin mesin ini ada dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakannya.

Demikian juga ketika manusia melihat alam semesta yang menakjubkan ini, maka terpikirlah bahwa pasti ada penciptanya, ada seorang desainer hebat yang merancang semuanya. Kenyataannya sang desainer itu adalah alam sendiri. Segala sesuatu itu terjadi atas dasar sebab akibat. Hanya saja pengetahuan manusia masih terbatas untuk bisa mengetahui apakah ada sebuah penyebab utama, ataukah semuanya terjadi tanpa ada awal yang jelas atau tidak ada ujung awal dari semua ini. Sampai sekarang tidak ada yang bisa membuktikannya secara ilmiah.

Maka orang banyak mengambil jalan pintas dengan meng ada kan sosok Sang Pencipta ini. Karena kebiasaan manusia untuk mempersonifikasikan segala sesuatu, maka terpikir pulalah sang Pencipta yang memiliki kualitas kualitas manusia, seperti memiliki kehendak, memiliki perasaan dan emosi seperti senang dan marah. Disini manusia menempatkan dirinya dalam posisi sang pencipta. Artinya bagaimana perilaku serta sikap Nya dipercaya berdasarkan 'pengandaian' jika manusia yang berada dalam posisi-Nya.

Misalkan, jika sang ciptaan tidak berfungsi sebagaimana kehendak penciptanya, maka sang pencipta akan merasa kecewa. Jika bawahan melawan atasan, maka atasan akan marah dan menghukum bawahan. Jika fans kita megidolakan idola lain, maka ada rasa cemburu, dan ada rasa ingin memonopoli cinta sang fans. Ingin menjadi nomor satu dihati fans. Perasaan-perasaan manusiawi demikian yang kemudian diterapkan dalam sosok Tuhan ini.

Penulis berpendapat bahwa Tuhan tidak memerintahkan umatnya untuk berbuat ini dan menjauhi itu. Semua perintah itu disuarakan oleh para pendiri agama. Entah mereka mengalami delusi bahwa mereka merasa diperintah langsung oleh Tuhan untuk menyebarkan hukum tersebut, atau mereka secara sadar melahirkan ajaran
Agama tersebut dari hasil pemikirannya, tapi kemudian untuk melegitimasinya, ia menggunakan nama Tuhan.

Adapun tujuan para pendiri agama tersebut baik, yaitu untuk mengekang kebinatangan manusia. Sebelum adanya hukum negara yang kompleks dan detail seperti sekarang, hukum agama adalah cara yang efektif meredam kebinatangan tersebut. Akan tetapi dalam perjalanan dan perkembangannya hal-hal negatif pun bisa lahir dari tujuan mulia tersebut. Anda tentu sudah paham maksud saya.

Setiap malapetaka bukanlah hukuman dari Tuhan, dan setiap keberuntungan bukanlah reward dariNya karena kita telah berkenan dihadapanNya. Semua itu terjadi entah karena sebab akibat, atau bisa pula karena kebetulan.

Karena sebab akibat misalnya, ketika kita mengemudi ugal-ugalan, akibatnya adalah kecelakaan. Karma yang sesungguhnya adalah akibat dari perbuatan yang kita lakukan sebelumnya. Bukan berupa balasan atau hukuman. Tidak ada proses pencatatan perbuatan baik dan jahat yang kemudian dihitung dan kemudian dikompensasikan. Banyak orang jahat yang selalu beruntung hingga akhir hayatnya dan banyak orang baik yang sengsara. Ketika dibilang semuanya akan diperhitungkan di akhirat, itu adalah lagi lagi jalan pintas ketika hal diatas tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tidak akan ada yang bisa menyangkal akhirat sebagaimana tidak ada yang bisa membuktikan keberadaannya selain dari klaim. Lagi lagi akhirat adalah bentuk lain dari 'personifikasi' atau metafora yang diciptakan manusia untuk bisa menggambarkan dengan nyata sebuah konsep.

Lalu, dengan demikian, apakah pemikiran penulis adalah pemikiran seorang atheis? Antara ya dan tidak. Seorang atheis adalah seorang yang menolak adanya Tuhan dalam bentuk apapun. Sikap penulis adalah, membuka peluang akan adanya sebuah entitas yang menguasai manusia, bertindak sebagai penguasa. Tapi dia bukanlah yang menciptakan semuanya. Atau kemungkinan yang kedua adalah Dia bukanlah sebuah entitas, tapi merupakan sebuah konsep yang diciptakan manusia dalam usahanya memahami misteri alam semesta. Dia bisa jadi adalah jalan pintas atau keengganan manusia menyatakan ketidaktahuan dirinya. Atau jika bukan keengganan mungkin merupakan ketakutan. Manusia takut berada dalam alam semesta yang tidak dipahaminya, maka mereka membutuhkan pegangan, suatu sosok yang bisa dijadikan sandaran ketika mereka sedang berbeban berat. Atau ketika mereka sedang membutuhkan penghiburan.

Apapun itu, ada atau tidak Tuhan itu, penulis berpendapat, jika mempercayai Tuhan bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih baik, kenapa tidak? Tapi jika mempercayai Tuhan membuat kita menjadi manusia yang sombong, yang merasa lebih baik hanya karena kita merasa mempunyai backing, mempunyai sosok jagoan yang membela kita, atau kita merasa lebih suci, maka sia sia kita berTuhan.

Maka penulis tidak bisa sepakat dengan pendapat banyak theis yang berpendapat, sejahat jahatnya seorang theis masih lebih baik dari seorang atheis yang budiman.

Sebenarnya masih banyak hal yang bisa dikupas lagi, jadi, mari kita jumpa dilain waktu untuk melanjutkan pembicaraan tentang konsep Tuhan ini. Jadikan semua ini bahan renungan, kalau setuju, berarti kita sepikiran, kalau tidak setuju, jangan tersinggung. Tidak ada pemaksaan disini, dan tidak ada tujuan untuk mengatakan pemikiran lain sesat. Jika pemikiran ini dianggap sesat oleh theis, maka itu tandanya orang berTuhan tidak bisa menghargai perbedaan. Jadi semoga anda tidak berpikir demikian.

Sebuah Kritik bagi "Islam"

Wow, berani beraninya penulis melayangkan kritik bagi "Islam". Tunggu dulu, penulis tidak berani selancang itu. Kenapa kata Islam ditempatkan diantara ""? Karena penulis yakin bahwa Islam yang sesungguhnya bukan Islam yang akan dikritik oleh penulis.

To the point, saya prihatin dengan isu yang merebak akhir akhir ini tentang Isis. Satu pihak mengklaim bahwa Isis adalah kelompok ekstrimis Islam yang bercita cita menyatukan umat Islam seluruh dunia dalam sebuah 'negara' Islam yang tentunya didalamnya nanti hukum Islam yang akan dijalankan. Atau saya juga bisa mencium aroma usaha mengislamkan dunia oleh kelompok tersebut.

Yang jadi masalah adalah ketika kelompok tersebut dicap menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, termasuk dengan cara cara yang melibatkan kekerasan. Ada isu bahwa bahkan Isis sendiri membunuh umat Islam yang tidak sependapat dengan mereka dsb. Tidak usah saya uraikan lagi disini karena paparan lengkapnya bisa anda lihat sendiri di media.

Di satu sisi, Isis dan kelompok-kelompok sejenisnya dianggap sebagai pahlawan Islam, tapi disisi lain, mereka dianggap teroris. Bahkan oleh umat Islam sendiri. Kemudian ada kelompok pro Isis yang menuding bahwa Israel dan US berada dibalik Isis. Menurut saya bisa saja, cuma agak menggelikan juga. Toh kalaupun benar negara negara teersebut mendirikan Isis karena tujuan politik, tapi pendukung Isis mendukung Isis karena masalah ideologi.

Di Indonesia, Isis sudah dinyatakan sebagai organisasi yang terlarang dan langsung dihubungkan dengan kegiatan terorisme. Tapi itu tidak menghalangi beberapa pihak untuk tetap mendukung Isis. Di jejaring sosial seperti facebook misalnya, para pendukung Isis tetap berpropaganda dan menyuiarakan dukungan bagi Isis. Tapi tentu mereka berlindung dibalik anonimitas.

Yang membuat saya prihatin adalah, masih banyak juga umat Islam di Indonesia yang punya pemikiran seperti yang digagaskan Isis tersebut. Mereka punya keinginan bahwa Islam harus menguasai dunia. Dan penaklukan itu dilakukan dengan mengangkat senjata. Siapa yang menentang ide itu akan langsung dicap sebagai musuh Islam.

Menyedihkan bahwa di Indonesia, paham Islam garis keras sepertinya mampu berkembang. Sedikit demi sedikit para pemuda Muslim kita mulai diausupi paham paham demikian. Mereka mulai menyalahgunakan kata-kata 'Allahu akbar' yang mereka padukan dengan kepalan tangan yang terangkat serta wajah yang beringas. Mereka bersikap seolah-olah Allah berada di pihak mereka dan dengan demikian apapun tindakan mereka adalah benar.

Kalimat yang menyatakan kemaha besaran Sang Pencipta digunakan untuk merampas hak orang lain dan memaksakan ideologi. Mereka tidak lagi menaruh hormat pada takbir yang mereka ucapkan untuk hal-hal yang kejam. Sedikitpun tidak nampak kebesaran Allah dalam perilaku yang tidak manusiawi.

Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang haus darah dan miskin kerendahan hati. Hasrat mereka yang sesungguhnya adalah membunuh. Mereka mencari cara melegimitasi pembunuhan dengan dalih berperang di jalan Allah. Padahal mereka sendiri belum tentu mengetahui jalan seperti apa yang diinginkan Allah. Sesosok Tuhan yang Maha Besar dikerdilkan dengan sikap premanisme.

Adalah hak umat Islam jika mereka menginginkan kesatuan bagi dunia Islam. Dan tidak ada orang yang berhak menghalanginya. Tapi adalah hak umat beragama lain dan yang tidak beragama untuk tidak di Islamkan.

Berpikirlah begini. Jika memang benar Islam adalah agama yang terbenar atau seperti yang diklaim mereka bahwa satu satunya agama yang benar adalah Islam, maka cahaya yang dipancarkan Islam itu akan menyinari dunia dengan sendirinya. Dan dengan demikian maka tidak perlu lagi ada yang mengangkat senjata untuk mengislamkan dunia. Semua orang normal ingin berbahagia. Maka jika Islam adalah jalan menuju kebahagiaan, maka tanpa diminta, apalagi dipaksa, maka dengan sendirinya semua orang waras akan memeluk Islam. Kebenaran agama tersebut akan terlihat dari perilaku, perkataan dan pemikiran pemeluknya.

Maka kritik saya bagi "Islam"; saatnya berbenah diri. Analisa apa yang salah sehingga terjadi hal-hal seperti ini. Jangan dengan mudahnya mencap pihak lain sebagai "musuh Islam". Jika demikian, maka andalah yang memusuhi mereka dan jika dengan mudahnya anda memusuhi orang lain, maka benarlah adanya bahwa anda adalah manusia yang haus akan perang. Dan hati anda kotor oleh nafsu membunuh, nafsu ingin berkuasa atas orang lain. Dan artinya saatnya anda mulai mempertanyakan tentang keIslaman anda.

Saya rasa banyak umat Islam sendiri akan setuju bahwa penyebaran agama Islam sendiri yang diutamakan adalah dakwah, bukan senjata. Tidak ada paksaan untuk masuk Islam. Orang masuk Islam bukan karena todongan senjata, tapi karena mendapat hidayah. Maka dengan demikian, apa yang dilakukan Isis dan operasi sejenisnya harus dipertanyakan kebenarannya dalam Islam sendiri.

Dan jika kelompok pro Isis berdalih bahwa Isis tidak bertujuan mengIslamkan orang lain, hanya mempersatukan Islam sedunia dan menegakkan syariah bagi selurih umat Islam diseluruh dunia, tanyakan pada diri sendiri, apakah cara-cara yang dilakukan sudah tepat. Mengapa masih dengan mudahnya menuduh Syiah dan sebagainya sebagai pembenaran atas kekerasan yang dilakukan.

Saya sangat menyayangkan mengapa banyak umat Islam yang seperti bensin, sekali tersulut api langsung meledak, bukan terbakar lagi. Sudah menjadi sebegitu arogannyakah umat Islam sehingga setiap hinaan, sindiran, bahkan kritik sekalipun membuat mereka naik darah dan harus menggunakan kekerasan menanggapinya? Apakah begitu rendahnya kontrol diri umat Islam terhadap hawa nafsu?

Saudara saudariku umat Islam, jangan lagi biarkan paham paham demikian merusak citra Islam dimata dunia. Haters akan selalu ada, tinggal bagaimana kita bersikap terhadap mereka. Sikap dan reaksi umat Islam terhadap pihak pihak yang membenci Islam akan menentukan kualitas dari umat Islam itu sendiri.

Penulis bukanlah orang yang ahli dalam agama, tapi tidak harus menjadi ahli dalam sebuah agama untuk bisa menyadari bagaimana seorang beragama seharusnya bersikap. Selama kita punya hati nurani yang bersih, kita akan bisa memilah yang baik dari yang buruk. Ahli dalam agama akan membuat kita lebih paham detail. Tapi hati nurani yang bersih akan membuat kita paham inti dari ajaran agama. Dan ketika ada kemunkaran yang bertopeng kebenaran, hati nurani kita akan tetap menolaknya. Sekalipun ada pemuka agama yang menyatakan bahwa darah kafir itu halal ditumpahkan, seorang yang berhati bersih tidak akan mau menumpahkannya setetespun. Tapi ia akan menjadi teladan yang bisa menyentuh si 'kafir' tersebut sehingga ia bisa melihat kebenaran dalam Islam.

Tuesday, August 12, 2014

Cantik Itu Relatif, Jelek itu Mut....Relatif Juga

Asda joke bahwa cantik itu relatif dan jelek itu mutlak. Lucu juga sih. Tapi faktanya bahkan jelek pun relatif. Tapi cantik atau jelek sekalipun ada standar yang berlaku cukup umum yang nantinya akan ada banyak orang setuju akan suatu rumusan cantik atau jelek.

Rumusan umum tentang seorang perempuan yang cantik itu adalah:

1. Kulit mulus, tidak harus putih atau apa warnanya, yang penting mulus. Orang di kebudayaan manapun umumnya suka perempuan berkulit mulus.

2. Langsing. Umumnya pria suka wanita langsing, artinya tidak kurus kering tapi tidak gemuk. Ada pula pria yang suka perempuan yang montok atau chubby, dan ini masih masuk kategori rumusan umum.

3. Hidung mancung. Tidak semua ras memiliki hidung mancung, tapi mayoritas orang menyukai perempuan berhidung mancung.

4. Mata besar. Banyak sekali perempuan yang kurang beruntung memiliki mata besar sampai nekat mengoperasi matanya supaya terlihat besar dan ada lipatannya. Maka gambar anime membuat mata karakter perempuannya super besar.

5. Mulut kecil. Mulut kecil dianggap lebih manis daripada mulut yang besar dan lebar berisi gigi gigi yang besar besar.

6. Gigi putih. Gigi putih dianggap lebih bersih, dan efeknya adalah relatif lebih terbebas dari gangguan bau mulut.

7. Leher jenjang. Leher jenjang lebih disukai dan biasanya cewek yang langsing atau juga kurus lebih terlihat memiliki leher ketimbang yang gemuk. Kadang leher bisa menjadi baghian yang seksi.

8. Lengan kecil. Banyak pria suka lengan kecil perempuan. Pria tidak suka lengan bergelambir dan banyak pria tidak begitu peduli dengan lengan cewek yang berlekuk, tapi kebanyakan cewek risi dan beranggapan "lengan gua terlalu berotot".

9. Paha dan betis panjang dan langsing. Tapi banyak wanita jadi keterlaluan takut berlebih bahwa paha dan betisnya jadi besar, maka menghindari olah raga yang banyak melibatkan paha dan betis. Alhasil paha dan betis mereka jadi cungkring, yang sebetulnya jauh dari seksi.

10. Wajah tirus. Wajah tirus mengesankan feminin dan langsing. Wajah kotak terutama di bagian rahang mengesankan maskulin.

11. Bulu mata panjang, dan alis jelas tapi tidak tebal seperti shinchan.

12. Bibir merah alami. Bibir hitam dianggap kurang menarik, dan bibir pucat membuatnya mirip zombie.

13. Rambut panjang antara sebahu hingga sepunggung. Rambut terlalu pendek mengesaankan maskulin atau minimal tomboy. Jarang cowok yang suka cewek tomboy. Rambut yang terlalu panjang malah mengesankan seperti miss K yang suka nangkring di pohon besar kala magrib tiba.

14. Jemari lentik. Jemari yang lentik mengesankan manis dan mengasyikkan untuk digenggam.

15. Ketiak mulus. Cewek cantik begitu angkat tangan ketiaknya penuh bulu akan membuat ilfil cowok di banyak tempat, selain Tiongkok.

16. Kaki mulus tanpa bulu. Itu juga harus, cewek dengan kaki berbulu lebat memang ada, tapi jelas tidak masuk kategori cewek idaman pria. Gak pernah kan dengar cowok ditanya "cewek idaman loe kayak apa sih?" Dan dijawab,"Yang bulu kakinya lebat dan kriting kaya gue gini ni..." Bulu ditangan masih bisa ditoleransi selama halus, bukan kayak simpanse punya.

Mungkin masih ada ciri ciri lain yang belum termasuk list diatas. Tapi ya itulah garis besarnya cewek yang disebut cantik. Atau bahkan cowok yang disebut cantik sekalipun.

Tapi itu hanya kecantikan fisik, di lain waktu, penulis akan bahas tentang kecantikan yang berasal dari dalam, atau inner beauty.

Nah terus cewek cantik secara fisik menurut selera penulis sendiri seperti apa? Nih list nya.

1. Langsing. Artinya tidak gemuk, tapi tidak kurus kering. Saya suka cewek yang berbadan berisi, curvy, gak harus montok juga, badan atletis juga boleh. Gak suka cewek berbadan kurus kering rata sana sini karena malas olah raga sehingga otot ototnya kempes semua. Tapi bukan berarti penulis suka cewek bodybuilder yang pake steroid juga kaleeee. Eh cewek bodybuilder yang dapat ototnya alami itu seksi lho. Karena alaminya cewek memang susah buat membangun otot yang besar besar, maka otot alami cewek itu indah. Tangan cewek yang berotot sedikit juga menarik, jauh lebih menarik dari tangan cewek yang cungkring gampang dipites.

2. Putih. Saya paling suka cewek putih, tapi bukan kaukasia. Kulit putihnya asia itu paling top. Bahkan ada yang sangking putihnya kulit sampai pembuluh darahnya kelihatan. Gak masalah, kadang terlihat seksi. Aneh ya tapi ya begitu memang preferensinya.

3. Rambut panjang antara sebahu dan sepunggung, tak lebih dari itu. Warna rambut gak masalah, asal jangan acak acakan dan pecah pecah :D

4. Mulus. Iyalah suka yang mulus, masa suka yang berbintil bintil.

5. Hidung mungil. Tidak perlu mancung menjulang, tyapi ukurannya mungil dan langsing. Ujungnya relatif melancip. Saya malah tidak suka cewek terlalu mancung. Suka tipe mancungnya asia timur aja macam Tiongkok, Japan, Korea. Mancungnya mereka kan sedikit aja, gak seperti asia barat atau eropa.

6. Tinggi. Kriteria ini baru muncul semenjak sekitar tujuh tahun yang lalu. Tapi bukan berarti gak suka cewek mungil. Suka juga sih. Cuma cewek tinggi itu punya pesona sendiri. Kalau dulu banget saya tidak suka cewek tinggi karena minder. Penulis termasuk pendek dengan tinggi badan cuma 170. Tinggi cewek yang masih masuk kategori menarik adalah antara 150 sampai 175cm. Lebih tinggi dari itu gak bagus. Penulis bukan tipe cowok yang suka supermodel soalnya. Lagian kalo jalan sama pasangan yang kelewat tinggi bisa kayak nuntun monyet.

7. Mata gak harus besar, sipit pun menarik. Malah jangan terlalu besar matanya.

8. Bibir kecil. Jangan lebar dan tebal. Penulis paling ilfil sama bibir Angelina Jolie. A big NO!

9. Punya dagu! Ini penting haha. Selera pribadi. Saya suka cewek yang punya dagu ukuran normal, lancip, bikin wajah terlihat tirus.

Yah itulah sekilas tentang cantik secara fisik versi penulis. Tapi tenang, cantik itu relatif. Aapa yang saya bilang cantik, orang lain bisa tidak setuju. Saya sering lihat cewek jelek (versi saya) tapi toh dia punya pasangan. Artinya dimata pasangannya dia cantik. Jadi kesimpulannya, cantik dan jelek itu dua duanya memang relatif. Kan ada orang orang yang bilang gak ada cewek yang jelek. Itu bohong. Penulis bilang jelek kalau memang cewek itu jelek versi penulis. Dan mungkin si cewek itu juga bilang penulis jelek versi dia. Sah sah aja bilang jelek. Itu kejujuran, kalau kejujuran dikatakan kejahatan, apa kata dunia?

Tentang Sihir

Tau sihir kan? Mungkin bahasa Inggris yang tepat adalah sorcery, bukan magic. Walaupun mungkin dalam artian luasnya magic pun bisa mengena juga. Tapi sihir jelas bukan sulap. Sulap itu trik sedangkan sihir itu supranatural.

Penulis mendefinisikan supranatural sebagai fenomena yang terjadi diluar sesuatu yang natural atau alami. Suatu anomali dari sesuatu yang sifatnya alami, tapi terjadi dengan disengaja oleh manusia lewat cara cara yang tidak melibatkan teknologi, melainkan metafisika ataupun parapsikologi. Itu definisi rumusan penulis sendiri.

Adakah sihir? Atau lebih mudahnya, apakah sihir itu masuk akal? Saya pikir bisa saja ada, kenapa tidak? Supranatural sering dianggap jalan pintas untuk mencapai sesuatu yang tidak masuk akal. Padahal bukan tidak masuk akal, hanya saja sains belum bisa mengungkapnya secara empiris.

Dalam dongeng atau cerita fiksi, sihir seringkali digambarkan erat kaitannya dengan mantra (spell). Lalu apakah fungsi mantra tersebut? Mengapa spell itu menjadi demikian penting dalam sorcery? Bisakah menyihir tanpa menggunakan mantra? Jika definisi sorcery adalah menggunakan magical power dengan media sebuah mantra maka jawabannya adalah mutlak harus ada.

Tapi penulis punya hipotesis bahwa mantra itu digunakan untuk kepentingan membantu apa yang ada di dalam otak si caster. Bukan sisi linguistiknya yang mengandung kekuatan magis, tapi aktifitas otak lah biang kerok dari kekuatan teraebut. Kecuali jika sifatnya bukan menyihir tapi conjuring. Yaitu melibatkan pihak ketiga, atau entitas lain yang tidak memiliki bentuk fisik.

Maka jika kasusnya demikian, mantra itu digunakan untuk berkomunikasi dengan si entitas lain itu. Tapi pertanyaan baru kemudian muncul, jika mantra itu dibacakan dalam hati, efektifkah? Ada dua teori tentang itu, yang pertama adalah tidak efektif karena justru mantra itu dibacakan sebagai perintah kepada entitas lain itu. Yang kedua menyatakan efektif karena bukan suaranya yang berpengaruh, tapi lagi lagi aktifitas otak yang menghasilkan gelombang gelombang tertentu yang kemudian bisa ditangkap entitas lain tersebut. Lagipula, sang entitas lain itu tidak memiliki bentuk fisik, sehingga tidak memiliki telinga (danseisinya), organ yang berfungsi menangkap getaran udara yang ditimbulkan sumber bunyi. Jadi hanya merupakan interaksi antar energi yang ditimbulkan aktifitas otak dengan si entitas lain yang juga berupa energi.

Tapi jika demikian halnya, pertanyaan penulis adalah....bagaimana si entitas lain itu memiliki kesadaran, sedangkan kesadaran itu ada karena adanya tubuh fisik berupa otak yang cukup kompleks dan berfungsi secara normal.

To be continued.,....

Monday, August 11, 2014

Tentang Agama part 6 (Salesman Agama)

Pernah suatu saat penulis sedang nongkrong didepan sebuah perpustakaan di sebuah kampus. Tiba tiba ada seorang mahasiswa bertampang kutu buku datang mendekat. Penulis cukup terkejut karena orang tak dikenal itu tiba tiba menjajakan 'dagangannya' yaitu agamanya.

Kebetulan penulis beragama yang sama dengan orang itu, cuma pada saat itu, penulis memang bukan tipe orang yang religius dan sangat aktif dalam kegiatan keagamaan. Kalaupun ada aktifitas, itu adalah 'pelayanan' dalam bentuk bermain musik ditempat tempat ibadah agama tersebut.

Singkat kata, habislah saya diceramahi oleh mahasiswa tersebut. Dia menekankan tentang pentingnya bertumbuh dalam satu tempat ibadah. Artinya, tindakan saya yang berpindah pindah dari satu tempat ibadah ke gedung tempat ibadah lain itu tidak dibenarkan.

Pada saat itu saya pun masih polos dan lugu, belum tertarik dengan pemikiran pemikiran tidak jelas seperti saya tulis di blog ini. Maka saya hanya terdiam mendengar ceramah orang itu. Tapi ada sesuatu dalam hati saya yang tidak bisa setuju dengannya, cuma saya tidak tahu apa itu. Dan akhir kata, saya pun menolak dengan halus ajakannya untuk menjadi anggota jemaat ditempat ibadahnya.

Tahun demi tahun peristiwa itu membekas di hati, dan dalam perjalanan waktu, saya pun mengalaminya beberapa kali dengan orang orang yang berbeda. Maka saya mulai memikirkan hal tersebut.

Tidak ada tindakan melanggar hukum yang dilakukan orang orang tersebut. Mereka pun melakukannya dengan tanpa paksaan. (Hanya dengan bujukan pantang menyerah) salahkah apa yang mereka lakukan?

Secara hukum tidak salah, tapi sungguh itu suatu perbuatan yang tidak etis dari segi sosial, dan suatu perbuatan yang merendahkan agama sendiri. Perilaku demikian banyak diadopsi oleh salesman door to door yang menawarkan gantungan baju wangi atau vacuum cleaner.

Saya mengerti bahwa didalam doktrin agama tersebut ada himbauan untuk menjadi 'penjala manusia'. Maka tidak heran kalau para penganut agama itu banyak yang berlomba-lomba sebanyak banyaknya menjaring pengikut. Mereka baru puas jika sang korban berhasil diajak masuk agamanya, atau lebih bagus lagi jadi anggota jemaat tempat ibadahnya.

Akan tetapi metode penjaringan ini yang salah. Jika beruntung, memang sang korban akan memakan umpan tersebut. Tapi jika tidak, yang ada malah korban tersebut akan mengalami phobia terhadap agama yang ditawarkan. Dan akhirnya malah merusak citra agama tersebut. Jikalau demikian, kemudian dimanakah tanggung jawab sang salesman?

Metode ini masih sedikit bisa diterima jika target operasi bukanlah orang random yang tidak dikenal. Melainkan keluarga/sanak saudara/sahabat. Tapi itupun bukan cara yang paling bijak dalam menyebarkan agama. Jadi apa cara yang paling baik?

Cara terbaik adalah dengan bukti! Jika agamamu memang agama yang benar, baik, maka akan kelihatan dari segala perilaku dan perkataanmu. Orang hanya ingin beli obat penumbuh rambut dari penjual obat yang berambut gondrong, bukan botak. Artinya, orang hanya akan tertarik pada agama anda ketika dimatanya anda adalah seorang pribadi yang mengagumkan. Tanpa banyak bujuk rayu, orang akan tertarik memeluk agama yang anda peluk ketika terlihat dalam hidup anda semua kebahagiaan dan damai yang anda peroleh dari agama anda.

Maka sebelum memutuskan untuk menjadi salesman agama, hendaklah kita berbenah diri dulu, jadi seperti teladan junjungan agama kita. Dengan demikian orang akan langsung melihat cahaya yang terpancar dari kebenaran agama tersebut. Dan tanpa harus dibujuk rayu dengan segala iming iming surga dan segala ancaman tentang neraka, mereka akan tertarik mempelajari agama yang dimaksud.

Jadi, masih ingin jadi 'penjala manusia'? Do you have what it takes? You know the answer yourself.

Identitas yang Terbungkam

Etnis Tionghoa telah bergenerasi generasi mendiami bumi Indonesia dan juga sudah sah secara hukum tercatat sebagai warga negara Indonesia. Di masa lalu, etnis Tionghoa Indonesia dilarang menampakkan jatidirinya. Bahkan ada aturan yang mengharuskan pergantian nama dari nama Tionghoa menjadi nama 'Indonesia'. Yang sebenarnya banyak diantaranya bukan nama asli indonesia melainkan sansekerta. Kadang sangking memaksanya nama nama tersebut ada yang terdengar menggelikan, tidak perlu disebut disini, nanti ada yang tersinggung.

Etnis Tionghoa Indonesia boleh bersyukur bahwa di era reformasi ini, mereka boleh menampakkan jati dirinya. Hanya saja masih ada orang orang yang konon disebut 'pribumi' yang keberatan dengan adanya nama Tionghoa tersebut. Menurut mereka, Tionghoa Indonesia harus membaur yang dari versi mereka adalah menanggalkan semua atribut ketionghoaannya dan mengusung atribut kebudayaan lokal baik dari nama sampai bahasa dan budaya serta semua kebiasaan.

Tentu ini adalah perkosaan hak asasi. Pembauran tidak seharusnya melunturkan jatidiri. Perbedaan itu bukan untuk dimusnahkan, tapi untuk dihormati dan dihargai sebagai kekayaan. Berbaur itu bergaul dan memandang semua setara dalam hak dan kewajiban sebagai warga negara dan sebagai sesama manusia.

Tidak heran kalau kaum Tionghoa Indonesia merasa iri dengan etnis 'asing' lain yang tinggal di Indonesia seperti India dan arab. Orang Tionghoa dipaksa memakai nama Indonesia, sedangkan orang 'asli' Indonesia malah berlomba-lomba memakai nama arab. Nama berbau Arab seperti terlihat lebih berharga dibanding 'Paijo, Cecep, Ujang' dan sejenisnya.

Penamaan sesuai budaya dan bahasa etnis adalah hak asasi setiap etnis dimuka bumi, bukan hanya di Indonesia. Marilah kita bangga dengan etnis kita beserta budayanya, tapi juga dibarengi dengan menghargai etnis lain. Lupakan 'pembauran' yang lebih kearah peleburan, mari belajar untuk koeksis dalam damai dan toleransi. Bukankah perbedaan itu yang membuat kita kaya?

Mengapa Harus Curang?

Penulis ingin berbicara tentang curang dalam hal sempit, yaitu kecurangan dalam mengurus birokrasi. Misalnya ada orang orang yang curang dalam mengurus kepemilikan SIM dan sejenisnya. Curang disini misalnya menggunakan jasa dari biro jasa atau konon dari pihak kepolisian sendiri untuk membantu mereka mengurus.

Penulis sendiri merasakan bagaimana repotnya mengurus pembuatan SIM secara jujur bersih dimana kita harus datang sepagi mungkin ke samsat dan harus menghabiskan waktu berjam-jam bahkan sampai setengah hari bahkan kadang lebih jika penuh sekali. Antrian sangat panjang dan ada rantai loket yang harus dilalui untuk mengisi formulir ini dan itu.

Jujur bukan pengalaman menyenangkan berurusan dengan birokrasi demikian. Maka tidak heran jika orang yang memiliki dana lebih menjadi lebih tertarik berbuat curang untuk mem bypass proses antri mengantri tersebut. Mereka hanya tinggal menjalankan sisanya yang tidak bisa diwakilkan sperti misalnya ujian praktek dan teori. Atau jika contoh kasusnya adalah pembuatan paspor, maka tinggal berfoto.

Sebenarnya jika semua proses birokrasi itu bisa dilakukan secara online, maka akan sangat efisien. Semua formulir diisi dan dikumpulkan secara online. Dan seharusnya data kependudukan pun sudah tersimpan di server pemerintah secara digital, sehingga tidak perlu lagi fotokopi fotokopi ktp dsb. Semua sudah tercatat, tinggal ,asukkan nomor, identitas keluar. (Nanti bukan E-KTP lagi, tapi D-KTP) kita punya kartu fisik yang ada chip nya dan didalamnya terkandung informasi yang bisa dikonfirmasi di database pusat.

Setelah semua proses online beres, kita hanya perlu mengantri sebentar untuk foto, dan atau kegiatan lain yang membutuhkan kehadiran kita secara fisik. Jike semua birokrasi dipangkas dan menjadi mudah, saya kira kita tidak punya lagi alasan untuk berbuat curang. Ibarat main game, cheat itu hanya digunakan untuk main game yang susah. Jika life kita memang unlimited beserta ammo unlimited beserta weapons yang keren keren, apa lagi yang mau di cheat?

Semoga pemerintah berikutnya memikirkan hal ini dan mempermudah semua birokrasi yang tidak perlu, serta memperbaiki tingkat kenyamanan di layanan publik serta kantor kantor milik pemerintah yang erat kaitannya dengan masyarakat seperti samsat, kependudukan dan imigrasi. Ruang tunggu yang luas, nyaman, bersih serta sejuk akan sangat membantu, apalagi ada free wi-fi.

Tentang Agama Part 5 (Bimbingan yang Benar)

Penulis prihatin dengan kondisi kehidupan beragama di Indonesia yang walaupun secara umum bisa dinilai masih baik, tapi ada sisi yang cukup bisa membuat khawatir. Adalah kualitas pembimbingan dalam pembelajaran dan kehidupan beragama di Indonesia. Sejauh yang penulis lihat, ada setidak tidaknya dua agama di Indonesia yang cukup terinfeksi 'penyakit' ini.

Penyakit apakah gerangan? Inilah oenyakit pembimbingan yang meragukan. Meragukan bagaimana bang? Ambil contoh di salah satu agama, ada kegiatan rutin keagamaan yang sebenarnya mengandung nilai positif dimana dalam komunitas berskala kecil, mereka berkumpul, beribadah, serta melakukan sharing dan pendalaman kitab suci.

Sepintas memang positif bukan? Tapi permasalahannya adalah, kegiatan demikian seringkali tidak menggunakan jasa pembimbing yang memang layak untuk menjadi pembimbing. Hafalan tentang kitab suci memang tidak usah diragukan lagi, tapi kajian yang dikupas tidak mendalam dan tidak esensial bahkan hanya cenderung mengobarkan semangat untuk bisa beragama secara berapi-api. Mereka menangis dan bertriak teriak dalam ibadah. Emosi mereka begitu dipancing untuk kemudian mengambil alih akal sehat.

Penulis sendiri pernah berada dalam situasi demikian karena diajak oleh teman mengikuti kegiatan semacam itu. Dan hati nurani mengatakan ada sesuatu yang salah dalam praktek keagamaan demikian. Itu adalah proses radikalisme yang nantinya bisa berpotensi pada masalah yang lebih besar.

Sang pembimbing pun tidak mengajarkan hal hal yang sifatnya menjadikan kita manusia yang lebih baik, hanya menjadikan kita manusia yang lebih berapi-api dalam beragama. Mereka hanya membicarakan betapa hebatnya kuasa Tuhan mereka yang juga tercermin dari mujizat-mujizat yang mereka pernah alami atau saksikan yang kebanyakan bersifat supranatural. Tapi tidak disinggung mengenai bagaimana seharusnya kita bertindak dalam masyarakat umum atau bagaimana menyikapi suatu masalah dari sudut pandang keagamaan, ataupun mengupas isi kitab suci supaya lebih mudah dipahami dan untuk kemudian diamalkan.

Adapun jika mereka mengupas dan mengkaji kitab suci, yang dikupas adalah ayat ayat yang masih ada hubungannya dengan yang disebut diatas. Maka kegiatan-kegiatan tersebut penulis lihat lebih kearah pencucian otak daripada pendewasaan dalam berpikir dengan landasan ajaran agama.

Sang pembimbing biasanya bukanlah orang yang memang telah mengenyam pendidikan formal dalam agamanya, tapi hanya orang yang dianggap telah memiliki keimanan yang berada pada taraf lanjut versi komunitas mereka. Maka diragukan pula bahwa apa yang dia pahami itu layak untuk disebarkan kepada jemaat atau tidak. Mungkin apa yang dia dapat pun melalui proses yang sama, bukan melalui institusi pendidikan yang kredibel. Dengan demikian hasil pembimbingan tersebut juga sulit untuk dipertanggungjawabkan.

Kegiatan demikian memang tidak melanggar hukum, bahkan dilindungi hukum bahwa negara menjamin kebebasan tiap warga negaranya untuk beribadah sesuai kepercayaannya. Tapi hal ini hendaknya menjadi catatan para pemuka agama untuk bisa lebih mengambil langkah yang lebih terukur dalam pembimbingan. Jika tidak, maka seiring waktu, akan makin banyak kaum radikal dan tentu bisa membahayakan kerukunan hidup antar dan inter umat beragama.

Surga dan Neraka, seberapa pentingnyakah?

Orang normal pasti ingin masuk surga. Hanya orang sinting yang ngidam kepingin masuk neraka. Betul kan? Cuma ada pertanyaan, seberapa pentingkah sebenarnya surga dan neraka?

Beberapa agama mengajarkan adanya surga dan neraka. Kasarnya adalah reward and punishment. Perbuatan yang baik akan diganjar reward sedangkan perbuatan jahat akan diganjar punishment.

Tapi benarkah surga dan neraka itu ada secara literal? Secara nalar, sebenarnya tidak mungkin ada yang namanya surga dan neraka. Manusia yang telah mati tidak memiliki lagi rasa sakit, rasa lapar, rasa menginginkan sesuatu. Tidak ada yang namanya hidup kekal baik dalam surga maupun neraka, karena yang namanya hidup itu sesuatu yang diawali keberadaan dalam rahim ibu dan diakhiri dengan kematian yang diikuti dengan ketiadaan jasad. Maka hidup kekal adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Hidup yang kekal, disurga sekalipun akan menjadi sesuatu yang sangat boring. Hidup terbaik adalah hidup di dunia yang singkat yang oenuh dinamika.

Bayangkan kita menonton film yang tidak ada habisnya. Menonton The Avengers selama sekitar dua tiga jam memang menyenangkan, tapi itu tidak akan menyenangkan lagi ketika film tidak beres beres empat puluh hari empat puluh malam nonstop. Kesenangan apapun yang dilakukan terus menerus akan berkurang tingkat kesenangannya dan lama lama menjadi membosankan, bahkan menyiksa.

Tapi saya tidak bermaksud memunculkan ide bahwa dengan tidak adanya surga dan neraka, maka agama itu hoax dan kita boleh berbuat sesuka hati rampok sana sini, bunuh sana sini, perkosa sana sini, sama sekali bukan itu. Maksudnya adalah surga dan neraka adalah untuk "anak kecil".

Kenapa untuk "anak kecil"? Karena anak kecil harus diberi reward and punishment untuk membuat mereka menjauhi yang buruk dan melakukan yang baik. Orang yang dewasa akan tetap melakukan yang baik walaupun tanpa reward, serta menjauhi yang buruk walaupun tanpa punishment, karena mereka tahu apa manfaat yang baik, dan apa bahayanya yang buruk.

Artinya, manusia yang baik adalah mereka yang tanpa adanya surga dan neraka tetap menjalankan perintah agama dengan sebaik baiknya, karena mereka memahami betul maksud dan tujuan perintah perintah agama tersebut. Manusia yang begini tidak mengharap pamrih dari kebaikan yang dilakukannya. Manusia yang demikian adalah manusia manusia yang tulus dalam kebaikan. Dan kita di dunia butuh manusia manusia seperti ini.

Tapi saya menyadari bahwa tidak semua orang bisa dewasa dalam beragama, maka ada baiknya konsep surga dan neraka tetap ada, hanya saja, bagi kita yang siap melangkah kepada kedewasaan, hendaknya kesampingkan dulu surga dan neraka. Marilah berusaha menjadi manusia baik yang tanpa pamrih. Balasan bagi manusia baik itu akan nampak di dunia sekalipun, dan jika memang nanti ternyata ada surga, maka biarlah itu jadi sekedar bonus, bukan tujuan.

Jadikan surga dan neraka itu akibat, bukan tujuan. Berbuat baik bukan demi pahala, tapi demi keselarasan hidup semua makhluk. Dan jika kita masih belum mampu untuk menjadi orang yang baik, menjadi orang yang tidak jahat tidaklah terlalu sulit, and that's a good start.

Tentang Agama Part 4 (Fanatisme dan Radikalisme)

Ada orang bilang bahwa beragama itu tidak boleh hangat hangat tinja chicken (berarti dia pernah pegang :D). Maksud dia sebenarnya adalah, tidak ada yang salah dengan fanatisme dan radikalisme beragama. Dan selama ada kehidupan beragama, kita tidak bisa lepas dari permasalahan fanatisme dan radikalisme.

Lalu apa hubungan antara fanatisme dan radikalisme itu? Fanatisme adalah modal dasar untuk berkembang kearah radikalisme. Radikalisme dalam berpikir sebagai awal, dan dilanjutkan dengan radikalisme dalam tindakan. Seringkali keduanya muncul bersamaan.

Agama memiliki kekuatan untuk mengontrol manusia. Dan agama juga bisa digunakan oleh manusia untuk mengontrol manusia lain untuk suatu kepentingan. Disini kita bisa lihat bahwa seringkali kepentingan itu adalah kepentingan politik. Politik disini diartikan secara luas, bukan hanya konteks pemerintahan.

Bukti bahwa agama berpolitik adalah adanya kecenderungan manusia dari agama agama tertentu untuk berlomba lomba menjaring pengikut. Mereka menggunakan banyak cara mulai dari cara bersih sampai cara kotor untuk bisa menjaring pengikut, serta mempertahankan pengikutnya baik secara kualitas dan kuantitas. Kemudian ada juga usaha agama dalam mempertahankan dominasi berupa kekuasaan di suatu tempat. Misalnya ketika pilgub DKI kemarin, ada isu bahwa ada larangan agama tertentu terhadap pengikutnya untuk memilih pemimpin yang berbeda keyakinan. Ini tandanya agama juga berpolitik. Jika memilih pemimpin yang sekeyakinan, maka dominasinya tetap terjaga.

Orang yang fanatik dalam beragama tidak selalu bersikap radikal keluar, tapi seringkali punya kecenderungan bersikap radikal kedalam, artinya kepada diri sendiri. Ciri orang fanatik agama adalah dalam setiap tweetnya, statusnya, atau perkataannya tidak jauh dari agamanya. Yang demikian tidak meresahkan, tapi cukup mengganggu bagi kalangan umum.

Tapi banyak pula orang fanatik yang radikal. Radikal disini artinya melakukan tindakan tindakan yang berani berbeda, atau tindakan tindakan yang oleh masyarakat umum dianggap keterlaluan. Setidak tidaknya radikal dalam berpikir, yaitu memiliki ide ide yang juga keterlaluan.

Contoh contoh tindakan radikal adalah, dilarang nonton tv, dilarang mendengar musik, dilarang mengucapkan selamat hari raya kepada orang yang berlainan agama, memperbolehkan merusak tempat yang dianggap maksiat, sampai memperbolehkan membunuh dalam rangka membela agama serta junjungannya.

Kebanyakan dari hal radikal tersebut bersifat merugikan dan meresahkan masyarakat umum. Setidak tidaknya jika tidak sampai merugikan akan terasa menyebalkan dan bikin orang geleng gekeng kepala.

Penulis harus jujur bahwa secara pribadi, penulis tidak merasa cocok dengan gerakan kharismatik dalam agama agama di Indonesia. Gerakan kharismatik ini sangat potensial dalam menghasilkan manusia-manusia yang radikal, minimal fanatik. Mereka seperti dicuci otak bak calon calon kader MLM yang dibakar sedemikian rupa semangatnya. Mereka mengalami degradasi dari manusia menjadi zombie yang di stir oleh pemuka agamanya. Separah parahnya produk gerakan kharismatik adalah manusia manusia yang rela mati dan membawa serta orang lain untuk ikut mati bersamanya untuk mencapai tujuannya dalam beragama.

Tanpa cuci otak, seorang waras dan normal tidak mungkin mau melakukan bom bunuh diri. Tanpa kecintaan berlebihan terhadap agamanya, orang normal tidak akan sampai hati untuk menganiaya dan membunuh orang yang berbeda keyakinan dengannya.

Lalu seharusnya apa yang kita lakukan jika ingin hidup beragama dengan sebenar benarnya? Yang seharusnya dilakukan adalah:

1. Perdalam pemahaman agama kita lewat jalur yang tepat, pendidikan resmi yang bersertifikat resmi pula.

2. Gunakan hati nurani dan akal budi dalam menyaring semua input, bahkan dari pemuka agama atau kitab suci sekalipun.

3. Hindari permainan emosi yang berlebihan karena tidak ada hal yang berlebihan yang baik. Yang terbaik adalah segala sesuatu yang pas takarannya. Mencintai Tuhanmu lewat perasaan yang berlebihan saja tidak akan menjadikanmu manusia yang lebih baik karena baik atau tidaknya diri kita tergantung dari perbuatan nyata kita.

4. Setiap agama resmi di negara ini mengajarkan perdamaian dan cinta kasih, dan itulah ini dari beragama, maka itulah pokok terpenting yang harus kita lakukan. Seberapapun dahsyatnya kita menyembah Tuhan, baru akan ada artinya ketika kita melakukan tindakan nyata yang ada imbas langsungnya terhadap sesama manusia serta makhluk hidup lainnya.

5. Beragamalah secara sehat, buat akal budi, hati nurani, serta iman berimbang porsinya, karena ketiga hal tersebut yang menjadi saringan kita terhadap semua input yang baik atau buruk.

Selamat beragama dengan sehat!

Bersambung ke part 5

Tentang Beragama Part3 (Seberapa penting Menyembah)

Agama agama yang ada di Indonesia erat hubungannya dengan sembah menyembah. Tapi kemudian ada pertanyaan sebetulnya seberapa penting sih menyembah itu? Menyembah itu suatu kegiatan yang dilakukan oleh entitas yang secara hirarki berada dibawah yang ditujukan kepada orang diatasnya. Kegiatan menyembah itu meliputi merendahkan diri dihadapan entitas sembahannya, memuja dan memuji entitas sembahannya, serta dalam kasus kasus tertentu bisa juga dengan memberikan sesuatu kepada sang entitas sembahan.

Penyembahan penyembahan tersebut sering hadir dalam bentuk ritual. Dalam konteks umum agama di Indonesia, entitas yang disembah adalah Tuhan yang Maha Esa. Pertanyaannya, samakah Tuhan itu dengan para dewa?

Dewa diyakini sebagai entitas yang memiliki ciri ciri yang dimiliki manusia, tapi memiliki kuasa atau kekuatan diluar manusia biasa. Dewa diyakini sebagai makhluk yang berada diatas manusia baik secara hirarki maupun kapabilitas. Satu hal yang dewa tidak bisa lakukan yang kalah dari manusia adalah dewa tidak mampu mati.

Dewa biasanya memiliki kepribadian layaknya manusia. Maka dewa bisa senang jika dirinya disembah, disanjungm dipuja, tapi bisa marah jika ada manusia rendahan itu yang berani menghina atau menantangnya.

Balik ke Tuhan. Dalam bahasa Inggris, Tuhan itu adalah God, dan dewa adalah god. Tuhan akan selalu berbentuk singular, sedang dewa (god) bisa dalam bentuk jamak. Dari situ kembali menyeruak pertanyaan konyol, apakah Tuhan itu dewa? Atau rajanya para dewa? Atau apa?

Bagi yang menganut kepercayaan monotheisme, memang pertanyaan diatas konyol. Tapi secara umum bisa diibaratkan bahwa Tuhan itu semacam dewa, hanya jika dibandingkan dewa, Tuhan itu jauh sekali kelasnya. Dewa bukanlah sumber dari segala galanya, tapi Tuhan dipercaya sebagai awal mula dari segala sesuatu.

Tapi satu hal yang nyaris disepakati semua agama diindonesia (nyaris berarti tidak semua), bahwa Tuhan itu memiliki kepribadian sebagaimana layaknya manusia. Dia bisa marah, bisa Senang, bisa mencintai, bisa memaafkan, dan bisa cemburu. Berangkat dari situ, maka manusia didoktrin untuk selalu menyenangkan Tuhannya dan sebisa mungkin jangan membuatNya murka. If He,s pleased we,ll be happy and if He,s in a foul mood, we'll be doomed. Kira kira begitulah.

Penulis sendiri berpendapat bahwa predikat Maha pengasih lagi penyayang tidak tepat diberikan kepada entitas yang demikian. Sorry to say, seorang preman di pasar pun memiliki kecenderungan yang sama. Kalau kita lancar bayarnya, kita aman, kalau kita bertingkah, siap siap golok bersemayam di kepala.

Kata Maha itu memiliki arti yang berat seberat beratnya. Artinya tiada duanya. Maka sebuah entitas yang diberi predikat maha sesuatu adalah suatu entitas yang tiada duanya dalam memiliki kualitas tersebut. Maka sebuah entitas yang Maha pengasih dan oenyayang tidak akan begitu mudahnya murka.

Dan jika dibilang entitas yang demikian maha sempurna, itu juga tidak masuk akal karena sesuatu yang sempurna tidak memiliki kekurangan. Sedangkan marah adalah tanda bahwa seseorang kecewa, tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Jika suatu entitas yang sempurna itu marah karena ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya, bukankah itu mengingkari kesempurnaannya sendiri?

Lalu jika memang Tuhan itu sempurna, maka seharusnya Tuhan tidak memiliki sifat sifat manusia tersebut karena manusia penuh dengan cela dan jauh dari kesempurnaan. Dan jika memang benar Tuhan itu sempurna, masih relevankah penyembahan terhadapNya?

Disclaimer: penulis tidak menganjurkan untuk menghindari penyembahan. Penulis sendiri bukan orang yang pro terhadap penyembahan, tapi menyembah atau tidak menyembah itu adalah urusan pribadi masing masing manusia dengan Sesembahannya. Bagi penulis, yang terpenting bukan menyembahnya, tapi jadi orang seperti apa kita setelah menyembah Tuhan itu.

Lebih baik jadi orang yang tidak menyembah apapun tapi tidak merugikan siapapun daripada menjadi penyembah yang rajin tapi merugikan orqng lain. Dan jika anda memutuskan untuk jadi penyembah Tuhan, kenapa tidak sekalian menjadi sosok yang disenangi orang lain? Intinya adalah, setelah kita memutuskan untuk jadi orang yang menyembah Tuhan, menghambakan diri padanya, jangan berhenti disitu, tapi kita harus jadi pribadi yang lebih baik sehingga bisa membawa manfaat bagi orang lain. Jika masih tidak bisa juga, tidak masalah, yang penting tidak membuat onar.

Jadi menurut anda, seberapa penting menyembah itu?

Bersambung ke part4

Tentang Beragama Part2 (Agama yang benar)

Kriteria agama yang benar itu yang bagaimana sih?

Agama yang benar adalah agama yang mengajarkan tentang kebenaran sejati. Kalau dari definisi ini, kita nyaris tidak bisa tahu mana agama yang mengajarkan kebenaran sejati. Kebenaran sejati itu bersifat mutlak, lepas dari perspektif. Kebenaran sejati adalah kebenaran dimana tidak ada alasan bagi siapapun untuk mengingkarinya. Selama masih ada orang waras yang mengingkari, berarti itu masih belum bisa disebut kebenaran sejati.

Agama yang berlandaskan kebenaran sejati adalah agama yang nantinya dipeluk setiap orang waras di dunia tanpa kecuali. Kenapa dmikian? Karena itu adalah agama yang sudah terbukti benar. Orang waras jaman sekarang akan setuju bumi bulat. Hanya orang yang tidak waras yang bilang bumi pipih. Kenaoa? Karena semua bukti nyata tentang bumi bulat sudah ada. Atau semua orang waras akan mengakui bahwa jatuh itu kebawah karena adanya gravitasi.

Jadi sebenarnya sampai sekarang belum ada yang layak disebut sebagai agama yang benar sebenar benarnya. Kita hanya bisa bilang ada agama yang paling benar, tapi diapun belum menyentuh kebenaran mutlak. Artinya itu adalah agama yang paling banyak mengandung kebenaran. Tapi belum 100% benar.

Jika saya berbicara begini pada penganut agama tertentu, pasti dia tidak setuju, karena dari apa yang diajarkan oleh agamanya, agama tersebut adalah agama yang tingkat kebenarannya 100%, mutlak, karena itu adalah agama yang langsung diturunkan oleh Tuhannya yang notabene adalah sumber dari segala kesempurnaan. Itu hak dia untuk mempercayainya selama dia tidak memaksakan pada orang lain, mencekokinya sebagai sesuatu yang benar dan wajib diterima semua orang. Itu adalah klaim agamanya, dan ketika saya bicara kata agama disini menyangkut manusianya. Yang mengklaim demikian adalah manusia somewhere didalam sejarahnya. Apakah itu diucapkan oleh sang tokoh ultimate agama tersebut atau kemudian dalam perjalanannya itulah yang dipercaya oleh pengikutnya.

Tapi bagi yang bukan pengikut sang tokoh, klaim itu hanya merupakan klaim saja. Dan memang benar, ketika kita bicara tentang agama, kita hanya berbicara tentang apa yang kita percayai sebagai kebenaran. Tidak ada satupun cara yang bisa membuktikan bahwa hipotesis itu layak menjadi simpulan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Selama ini, kita hanya bisa percaya dengan iman. Iman adalah bypass dari reason dan logic sebelum mempercayai sesuatu sebagai kebenaran. Iman bisa menyelamatkan, tapi juga bisa membinasakan.

Mother Theresa telah menolong entah berapa jiwa dan menyirami hati entah berapa orang dengan kasih, yang semua itu datang tidak lain dari iman terhadap Tuhannya. Itu adalah iman yang menyelamatkan.

Dan pelaku bom bunuh diri yang konon katanya sedang berjihad di Indonesia telah mengambil nyawa puluhan orang dan bahkan nyawanya sendiri. Semua dilakukan karena iman mereka terhadap Tuhan mereka, dan ajaran agama mereka. Itu adalah iman yang membinasakan.

Disclaimer saya, dalam dua contoh diatas, itu hanya contoh, jadi tidak berarti orang yang beriman agama A lebih baik dari orang yang beriman diagama B. Sama sekali tidak. Atau agama A lebih baik dari agama B. Itu hanya contoh bahwa iman itu seperti pisau. Jika digunakan dengan baik oleh orang yang baik, akan membawa manfaat dan jika digunakan oleh orang jahat untuk kejahatan akan membawa bencana.

Demikian pula dengan agama. Ada orang yang setelah mengenal agama dan Tuhan menjadi orang yang disenangi dilingkungannya, tapi ada juga yang setelah memeluk agama atau aktif dalam kegiatan beragama malah menjadi gangguan ketentraman bagi orang lain.

Garis besarnya begini, yang kelihatan oleh mata, lihat bagaimana umat suatu agama itu berlaku. Dari situ akan terlihat ajaran agamanya. Jangan lihat segelintir umat yang radikal saja, tapi lihat secara keseluruhan. Kemudian bandingkan dengan umat dari agama lain, lagi lagi jangan lihat sebagian kelompok saja yang punya tendensi tertentu, tapi lihat keseluruhannya. Maka akan terlihat sebenarnya ajarannya model bagaimana suatu agama itu. Kelompok kelompok dengan anomali itu bisa dilihat sebagai margin of error. Jangan diabaikan, tapi dilihat presentasenya dibanding sisa umat, kemudian lihat dampak yang mereka lakukan, seberapa negatif atau positifnya bagi semua orang baik didalam maupun diluar agamanya. Kemudian bandingkan dengan perilaku umat agama yang kita anut, mana yang lebih menyejukkan, mana yang lebih mengganggu, mana yang lebih menyebalkan. Kita akan lihat sebenarnya agama mana yang layak kita pilih di Indonesia ini.

Bicara agama luas sekali, maka akan kita sambung ke part 3. See you there!

Tentang Beragama Part1

Indonesia adalah negara yang berdasar negara Pancasila, yang mana sila pertamanya berbunyi ketuhanan yang maha esa. Singkat kata, semua diwajibkan beragama, lepas dari apakah itu secara sukarela ataupun terpaksa.

Lalu, mengapa beragama itu menjadi sebegitu pentingnya? Penulis berpikir, pada awalnya agama itu hanya berupa ajaran, belum berupa agama yang kita kenal sekarang, lengkap dengan organisasinya, strukturalnya, doktrinnya, dan lain lain. Awalnya simpel saja, cuma dimulai dari seseorang yang tercerahkan baik dengan sendirinya ataupun atas pencerahan sebelumnya.

Dulu, si tokoh ultimate agama ini menyebarkan ajaran agamanya dengan caranya masing masing, dari sedikit orang, lama lama menjadi banyak. Dan seiring waktu, jumlah yang keterlaluan banyaknya itu menjadikan agama itu semakin kompleks. Secara garis besarnya pasti ada satu titik tolak dimana pada akhirnya memang lahirlah agama tersebut. Hingga berubah dari hanya sekedar ajaran yang sifatnya hanya melekat di pikiran dan hati yang tercermin lewat perbuatan, menjadi suatu kebudayaan dan kepercayaan yang dianut oleh sebuah komunitas.

Ketika agama tersebut lahir, barulah masalah bermula. Ajaran ajaran yang tadinya baik itu mulai mendapat campur tangan orang orang yang secara kualitas pemahaman ajaran berada dibawah si tokoh ultimate agama. Penyimpangan demi penyimpangan mulai muncul. Tapi sayangnya banyak kali penyimpangan itu tidak dianggap sebagai penyimpangan atau degradasi dari ajaran intinya. Semakin terakumulasi penyimpangan itu, maka potensi masalah akan semakin banyak.

Apa buktinya telah terjadi penyimpangan dari ajaran asli nan mulia? Buktinya adalah nyawa yang melayang atas nama agama, serta darah yang tertumpah, juga lagi lagi atas nama agama. Jika memang benar ajaran agama itu mulia, dan merupaka pn kebenaran sejati, maka konflik agama itu merupakan sesuatu yang nonsense. Bagaimana mungkin kebenaran mengasilkan bencana?

Kalau kemudian kesalahan dilimpahkan kepada manusianya, itu seperti cuci tangan. Fungsi agama adalah mengatur supaya tidak ada pergesekan kepentingan antar manusia, supaya eksistensi semua manusia bisa terjaga dengan baik serta tidak ada esensi manusia yang diperkosa. Jika terjadi konflik antar agama, maka bisa dibilang bahwa agama telah gagal menjalankan fungsinya sebagai benteng pertahanan dari konflik. Setau penulis tidak ada agama disini yang mengajarkan konflik. Tunggu, koreksi, tidak ada ajaran agama yang mengajarkan konflik, tapi dalam perjalanannya, agama bisa dipelintir oleh manusia yang memeluknya sehingga justru bisa melahirkan konflik.

Konflik antar agama atau inter agama, seringkali justru dianggap mendapat pengaruh atas apa yang diajarkan oleh agamanya (bukan oleh si tokoh ultimate). Contoh, kenapa terjadi terorisme atas nama agama? Karena menurut pelaku, dia sedang menjalankan perintah agama. Jika diminta sumbernya darimana, dia pasti akan bisa menyebutkan dasarnya sehingga apa yang dia lakukan bisa dijustifikasi kebenarannya. Tapi kebenaran itu bukan kebenaran sejat melainkan kebenaran berdasar tafsir. Artinya ini bersifat subjektif.

Nanti kita akan bicara lebih spesifik lagi di part 2.

Tentang Makanan Eksotis

Penulis paling suka makan! Dan suka makanan khas dari berbagai daerah baik nasional maupun internasional. Kalau kebanyakan orang suka makanan asing yang rasanya telah dilokalkan, penulis suka makanan asing yang rasanya original.

Makanan yang original rasanya seolah membawa kita ketempat tersebut, bersentuhan dengan budaya yang bersangkutan. Memang tidak semua yang eksotis itu enak, tapi punya nilai petualangan. Dan dsri pengalaman, makanan yang eksotis itu punya kenikmatan tersendiri terkandung didalamnya.

Belakangan ini penulis lagi keranjingan makanan khas India. Maskakan India sarat rempah rempah dan itulah yang menjadi kekuatan utamanya. Beruntung penulis memang penggila rempah rempah dan bumbu. Jadi bau bauan rempah itu bukannya mengganggu malah bikin rindu.

Ada niatan penukis bakal belajar membuat beberapa masakan India yang pernah penulis coba. Tapi kita lihat aja nanti jika memang mood masaknya datang, ya dicoba. Tapi kalau belum datang mood nya ya, beli dulu yang sudah jadi.

Hmm kira kira makanan eksotis mana lagi ya yang layak dicoba?

Tentang Pilpres 2014

Beres pilpres, penulis sangat terkesan dengan pilpres kali ini. Kayaknya pilpres 2014 ini adalah pilpres yang penuh drama. Dimulai dari hanya ada dua pasang kandidat, kemudian dengan seluruh intrik dan strategi pemenangan yang sudah mengabaikan harga diri, kejujuran, dan hati nurani.

Awalnya penulis berniat untuk mengambil posisi netral dengan coba menyimak bagaimana kualitas para capres cawapres, bagaimana kepribadiannya. Penulis sempat menonton debat, menonton dan membaca berita yang datang dari berbagai sumber media masa yang tidak netral maupun yang netral.

Kesimpulan penulis soal capres no1 dan timnya adalah, mereka adalah kubu yang memiliki sumber daya yang kuat, punya kekuatan yang luar biasa dari berbagai aspek. Secara pribadi khususnya capres 1 adalah orang yang punya ambisi sangat besar. Beliau juga berkembang menjadi orator yang cukup hebat. Maka tidak heran kalau dukungan buat pasangan no 1 itu begitu kuat.

Tapi sayang, semua nilai positif itu dinodai seabrek kualitas negatif. Penulis menilai strategi yang dilakukan pasangan capres no 1 ini kotor. Mulai dari menggandeng lembaga survey yang tidak jujur, atau mungkin dipesan supaya tidak jujur. Kemudian black campaign yang kejam terhadap lawannya yang cuma menanggapi dengan senyum senyum saja. Kemudian yang fatal lagi adalah bagaimana mereka memilih siapa yang masuk kedalam aliansinya. Reputasi orang orang dan organisasi yang ada di no1 itu sudah notorious. Yang paling ngeri adalah organisasi radikal yang berbau agama. Imbasnya memang mereka didukung oleh semua kaum radikal agama yang ada di Indonesia. Tapi justru itu menjadikan sisanya yang tidak radikal dan militan menjadi enggan merapat.

Bisa dibayangkan jika golongan ekstrimis itu mendapat angin segar, maka ketakutan, kekhawatiran akan semakin menghantui golongan 'normal'. Sampai sekarang saja pemerintah melempem, tumpul ketika harus berhadapan dengan para ekstrrimis yang belum resmi jadi teroris. Lain halnya ketika resmi jadi teroris, maka peluru dan bom yang bicara. Ketika belum berlabel teroris, maka pemerintah seperti serba salah menghadapinya. Dilawan salah dibiarkan jadi masalah. Skip, ada partnya khusus di entry berbeda nanti.

Kemudian dipenghujung gelaran, sikap tidak legowo menjadikan nilai merah raport itu semakin kebakaran. Ada sedikit rasa syukur bahwa penulis tidak menjatuhkan pilihan pada no1. Tuduhan demi tuduhan dilontarkan, tapi baru muncul ketika kekalahan didepan mata. Semua akan dapat jatah dipersalahkan. Singkatnya semua sudah tahu ya. Ffwd lagi.

Capres 2, bukan orang yang terbaik yang bisa membawa negeri ini keluar dari kemelut berkepanjangan, tapi secara jelas merupaka pilihan yang lebih baik. Penulis cuma kasian melihat sosok sederhana itu nantinya akan dihadapkan pada situasi situasi tersulit semasa hidupnya. Akan banyak orang tidak puas, dan berusaha menjegalnya ditengah jalan. Akan banyak pendukungnya yang berbalik menjadi haters. Bukan karena beliau orang yang jahat, tapi karena orang kita terlalu susah diatur, dan permasalahn kita sudah terlalu rumit untuk bisa diurai dalam waktu kerja lima tahun. Tapi jika yang beliau lakukan itu hal yang benar, maka walaupun Indonesia belum keluar dari permasalahannya dalam lima tahun kedepan, tapi fondasi untuk lepas landas itu akan sudah jadi.

Tinggal bagaimana sang presiden terpilih bisa memberi contoh, mempengaruhi banyak orang untuk bisa sama sama membangun negeri dengan tulus, untuk masa depan anak cucu kita nantinya.

Singkat kata, buat pak future president, ada pesan dari penulis yang tidak penting ini. Pesannya adalah, jujur, tetap seperti apa yang dicitrakan, merakyat, jangan sombong ketika sudah diatas, dengar aspirasi rakyat (soalnya ragu sama wakil rakyat), jangan lagi menambah uang untuk keluarga anda, karena untuk standar rakyat, anda sudah kaya. Cukup, saatnya anda jadi pahlawan yang sesungguhnya bagi orang banyak. Keluarga anda sudah berkecukupan, sudah bangga. Tinggal tugas anda membuat setiap rakyat Indonesia bangga menjadi bagian dari Bangsa Indonesia. Saatnya anda membuat rakyat miskin hidup layak, dan rakyat kaya tetap kaya, tapi tidak menginjak yang tidak kaya. Saatnya anda mengedukasi bangsa, mengubah cara pikir dan perilaku yang kontraproduktif. Saatnya menempa budaya bangsa menjadi modal yang kuat menuju Indonesia hebat yang sesungguhnya.

Buat yang kalah pilpres kemarin, tanya sama diri sendiri, saya mau apa sih sebenarnya nyapres. Kalau jawabannya ingin menyelamatkan Indonesia, kalau anda memang tulus ingin berbakti pada Indonesia, dukung pemerintahan yang sah nanti dengan semua sumber daya yang anda punya. Buang semua dengki dan iri. Stop berpolitik secara kotor, mulai lihat kepentingan yang kebih besar, yaitu seluruh rakyat Indonesia. Tanpa anda jadi presiden, anda bisa jadi pahlawan buat negara ini. Dan jika anda bisa buktikan itu, lima tahun kedepan, siapa tau anda yang duduk di RI1. Tapi jika selama lima tahun ini anda tidak bisa membuktikan itu, karir politik anda tamat, atau minimal stagnan. Jadi pilihan ada ditangan anda. Orang berpikir negatif tentang anda, jangan anda gasak. Tapi buktikan sebaliknya, maka dari foe, mereka akan menjadi friend anda.

Kedua belah pihak punya tugas yang harus dibuktikan. Siapapun yang berhasil, atau jika keduanya berhasil, Indonesia yang meraup keuntungannya.

Salam Tiga jari, persatuan Indonesia!!!!!! Peace and love for all!!!

Tentang Manusia

Apa sih manusia itu? Orang ada yang bilang, manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Ada yang bilang manusia itu sejenis primata tingkat tinggi yang punya intelegensi diatas primata lainnya. Ada yang bilang manusia itu adalah makhluk yang ditakdirkan menjadi penguasa dimuka bumi ini. Dan masih banyak lagi pendapat pendapat lainnya.

Dari sudut pandang penulis, manusia tidak diciptakan okeh siapapun dengan intensi tertentu. Tapi manusia 'tercipta' lewat suatu proses yang panjang yang tidak melibatkan unsur kesengajaan oleh suatu entitas.

Wait....jadi penulis atheis? Ntar dulu bung, ini Indonesia, paham atheisme tidak boleh bernafas, apalagi berkembang biak. Jadi dengan terpaksa penulis tidak bisa mendeklarasikan diri sebagai atheis. Toh di ktp juga penulis tetap beragama. Being an atheist is illegal here. Tapi kepercayaan adalah hal yang tak bisa dipaksakan dan tidak ada yang bisa mengikat hati selain dari dalam manusia itu sendiri. Lanjutt

Ujung pangkalnya kehidupan atau keberadaan materi sekalipun masih merupakan misteri besar bagi kaum realis. Jadi kita skip dulu itu, fast forward langsung ke manusia yang telah jadi seperti sekarang ini.

Manusia adalah makhluk hidup yang memiliki tingkat intelegensi tertinggi di muka bumi. Buktinya adalah kekompleksan hasil cipta manusia yang bisa diidentifikasi dengan panca indera. Teknologi, budaya, seni, dll, adalah contoh konkritnya. Tanpa tingkat intelegensi yang tinggi, manusia tidak mungkin menghasilkan hal hal tersebut.

Tingginya tingkat kecerdasan manusia juga membuat manusia bisa melahirkan konsep konsep. Salah satu konsep yang eksklusif dimiliki manusia adalah konsep tentang cinta, waktu, dan masih banyak lagi.

Skip skip, lanjut ke part yang lebih seru. Katanya manusia itu tidak pernah puas. Dan banyak orang mengatakannya dengan konotasi negatif. Padahal sebenarnya negatif atau tidaknya hal tersebut tergantung dari sikap yang diambil oleh si manusia dalam kaitannya dengan ketidakpuasannya itu. Justru ketidakpuasan itu yang membuat manusia maju seperti sekarang. Ketidakpuasan itu yang menjadikan manusia spesies yang paling dominan dimuka bumi. Kesehatan bumi ini banyak dipengaruhi bukan oleh rayap, bukan oleh ikan tongkol, atau kecoak, melainkan oleh manusia.

Bayangkan jika manusia berpuas diri ketika bisa berjalan dua kaki dengan tegak. Maka sekarang mungkin manusia tidak terlalu jauh bedanya dengan simpanse yang masih menggunakan empat tungkai untuk berpindah. Ketidakpuasan yang diikuti semangat, tekad untuk mengejar kepuasan dengan cara yang benar itu yang membuat manusia spesies yang lebih maju.

Ketidakpuasan itu akan menjadi hal yang negatif ketika diikuti niat jahat atau pikiran kotor dan curang. Atau minimal diikuti keputusasaan. Hal itu bukan hanya membawa manusia pada kemandegan, tapi kadang pada kemunduran.

Manusia memang spesies dominan dimuka bumi, tapi seharusnya tetap menjadi spesies yang bertanggung jawab atas alam sekitarnya. Penulis sendiri merasakan sulitnya menjadi makhluk yang punya tanggung jawab terhadap alam. Dan setiap harinya penulis ikut andil dalam perusakan bumi. Dan penulis rasa, nyaris mustahil bagi manusia modern untuk sama sekali lepas dari kegiatan perusakan bumi. Ini yang masih jadi tugas berat buat kita semua untuk bagaimana menjadi spesies yang lebih bisa bertanggung jawab terhadap alam sekitarnya.

Bicara tentang manusia akan sangat panjang, maka penulis rasa akan baik kalau dilanjutkan nanti dilain kesempatan. Stay tuned dalam pemikiran pemikiran tidak penting lainnya.

Salam!

Sunday, August 10, 2014

Tentang Pemikir Biasa

Manusia sehat akan selalu berpikir. Tapi kadang ada segelintir manusia yang berpikir tentang hal hal yang dianggap tidak penting oleh sebagian besar manusia lainnya. Kebanyakan manusia hanya berpikir bagaimana menghasilkan banyak uang, mendapatkan pasangan yang diidamkan, atau singkatnya hidup bahagia, kalau bisa secara instant.

Berbagai macam life hack lahir dari pemikiran orang orang yang ingin hidup lebih baik. Maka sekarang kita bisa hidup dengan banyak kemudahan. Akan tetapi banyak juga pikiran yang tidak berujung pada suatu penemuan berupa barang, melainkan melahirkan pertanyaan pertanyaan baru.

Dalam blog tidak penting ini, saya hanya ingin mencurahkan semua pemikiran pemikiran tidak penting itu. Tidak ada tujuan ingin menyebarluaskan sampah pikiran ini, hanya pelampiasan semata. Lagipula juga tidak ada yang berkunjung kemari, jadi saya lebih bisa bebas mencurahkan segala isi hati dengan tanpa keraguan.

Bagi yang terlanjur terdampar disini, selamat datang, selamat terjebak dalam lautan hal hal yang tidak penting bagi orang pada umumnya. Tapi jika anda bisa memetik manfaat atau setidaknya ikut memunculkan pertanyaan baru untuk dijawab berikutnya, saya cuma bisa mengucapkan, 'selamat!'