Tanpa bermaksud sara, penulis berusaha menuangkan pikiran tentang berhijab. Berhijab bagi wanita muslim adalah anjuran, atau bahkan beberapa kalangan menganggaonya keharusan yang tidak bisa dibantah. Lalu bagaimana pandangan penulis mengenai berhijab? Baikkah? Burukkah? Atau ada keburukan ditengah kebaikannya, dan sebaliknya?
Dari satu sisi, kebaikan dari berhijab adalah membantu kaum pria untuk tidak naik hasratnya ketika melihat sosok seorang wanita. Tubuh wanita itu suatu keindahan alami yang disukai baik pria ataupun wanita. Dan bagi pria normal, akan menjadi sesuatu yang merangsang syahwat jika menyaksikan bagian bagian tubuh tertentu dari seorang wanita. Biasanya bagian bagian itu adalah paha, belahan dada, atau lekuk tubuh semisal daerah pinggul, pantat dan dada.
Penulis berpendapat bahwa berhijab bukan hanya menutup kepala dengan kerudung atau jilbab, tapi menutup semua bagian bagian tubuh yang disebut diatas, juga termasuk bagian tubuh lainnya sehingga hanya menyisakan wajah dan telapak tangan. Dan busana yang dikenakan tidak ketat.
Jujur hijab adalah cara yang efektif untuk membuat seorang wanita tampak jauh dari menarik secara fisik. Penulis sendiri sangat tidak berselera kepada wanita berhijab. Tapi ternyata tidak demikian halnya dengan banyak orang diluar sana.
Penulis pernah iseng iseng menjelajah situs dewasa lokal yang ternyata didalamnya ada juga peminat gambar gambar dewasa dengan 'fetish' jilbab. Tandanya sebenarnya pengekangan syahwat tidak seharusnya berpusat pada pembungkusan wanita. pikiran pria tidak semudah itu dikekang. Ketika diberi penghalang, pikiran nakal itu akan mencari jalan baru.
Sejujurnya penulis tidak begitu menyukai ide hijab itu, terlepas dari bahwa berhijab itu anjuran agama. Penulis memandang hijab adalah bentuk 'pelecehan' terhadap manusia, baik pria maupun wanita. Yang wanita direndahkan karena dianggap objek pembangkit birahi, yang sehingga harus dibelenggu. Wanita seolah dianggap sumber gangguan bagi pria dalam menyucikan pikiran. Dan kaum pria dianggap serendah binatang sehingga tidak mampu mengendalikan pikiran dan perbuatan ketika melihat wanita. (Kenyataannya ada saja kaum pria yang demikian, tapi tidak semuanya)
Intinya, paksaan berhijab bukanlah suatu tindakan yang 'mendewasakan' manusia. Seorang manusia yang dewasa tidak berpikiran bersih karena tidak ada godaan apapun, tapi justru seorang manusia dewasa mampu menjaga kebersihan pikiran ketika disekelilingnya banyak hal-hal yang bersifat godaan.
Tapi penulis paham bahwa tidak semua pria mampu mengendalikan pikiran dan kemudian perbuatannya. Perbuatan datang dari pikiran, tapi kadang hasrat yang bergejolak justru mampu diredam oleh pikiran yang sehat. Penulis melihat, semakin tinggi tingkat kesejahteraan seseorang, maka semakin kecil kemungkinan dia untuk melakukan perbuatan perbuatan yang bisa menghancurkan hidupnya. Karena orang yang hidup bahagia dan sejahtera dan dalam kondisi waras, tidak akan mau mempertaruhkan apa yang dia miliki hanya karena godaan sesaat. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki apapun, berani melakukan apapun karena prinsipnya nothing to lose.
Maka sampailah kita pada dilema berhijab. Di satu sisi hijab itu bukan memuliakan, justru merendahkan dan masih belum sepenuhnya mampu mengekang hasrat pria, di lain sisi, memang banyak laki laki yang tidak mampu menguasai pikiran nakalnya. Solusinya sementara adalah hukum dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sanksi untuk pemerkosa harus diberatkan dan memiliki efek menakuti, sehingga orang akan berpikir lagi jika muncul niat memperkosa. Kemudian seperti telah diulas diatas bahwa tingkat kesejahteraan berpengaruh juga pada tingkat kemungkinan perkosaan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah pendidikan moral yang dimulai sejak dini di keluarga. Anak yang tumbuh dilingkungan yang baik akan cenderung memiliki moral yang baik. Orang yang memiliki moral yang baik akan relatif resistan terhadap godaan.
Akan tetapi, penulis sendiri tidak punya kuasa menentang hukum agama. Maka jangan jadikan tulisan ini sebagai sandungan anda dalam beragama. Ini hanyalah pemikiran pribadi yang sama sekali tidak mengikat pembacanya. Silakan berhijab jika memang hati anda menginginkannya karena agama anda mengharuskannya.
Jadi, sikap penulis pribadi terhadap hijab yang digunaka sebagai 'belenggu' wanita adalah no, tapi hijab yang digunakan sebagai fashion atau preferensi pribadi, yes. Karena tidak ada alasan untuk melarangnya. Tapi jika seorang wanita tidak ingin berhijab dan masyarakat sekitar memaksanya karena dia dianggap godaan, it's a big NO.
No comments:
Post a Comment