Monday, August 18, 2014

Melamun tentang Konsep Tuhan

Ini biasanya adalah hal yang tabu. Tapi kesatu karena ini ditulis tanpa ada niatan menghujat, dan kedua, tidak ada orang yang baca blog ini, maka penulis memberanikan diri mengupas tentang konsep Tuhan bagi pribadi penulis.

Disclaimer: penulis tidak berniat memaksakan apa yang penulis percaya kepada pembaca. Read at your own risk! Freedom of thought ya.

Penulis bukanlah seorang theist konvensional. Artinya penulis memiliki pemahaman lain tentang Tuhan. Apa yang penulis ungkapkan disini merupaka hasil perenungan penulis sendiri. Dan jika terdapat kesamaan atau kemiripan dengan konsep yang sudah diungkapkan oleh orang lain, itu berarti kami memiliki kesamaan dalam berpikir, jadi penulis tidak menjiplak ide siapapun.

Tuhan bagi saya tidak seperti yang dipercaya banyak orang beragama. Tuhan yang penulis percaya bukan Tuhan yang manusiawi. Tuhan tidak memiliki campur tangan terhadap penulisan "takdir". Dan bahkan penulis tidak mempercayai bahwa ada yang namanya suratan takdir, yaitu segala sesuatu yang sudah direncanakan oleh sesosok ultimate being.

Mengapa begitu? Adalah seauatu yang konyol jika semuanya telah direncanakan tapi seolah kita memiliki kehendak bebas untuk menentukan langkah. Bukankah itu suatu kesia-siaan. Jikalau memang takdir, maka apapun yang kita lakukan akan membuat kita menemui takdir tersebut. Maka saya berpendapat ketika seseorang mengatakan, bahwa itu sudah takdir, hanya merupakan cara untuk menghibur diri bahwa ketika ia menghadapi kegagalan, itu adalah kehendak yang Kuasa.

Manusia, bumi, dan alam semesta tidak diciptakan oleh suatu entitas. Semua terjadi secara alami. Orang hanya berpikir, tidak mungkin sesuatu yang begitu kompleksnya dan teratur ini terjadi tanpa ada campur tangan suatu entitas yang merencanakan semuanya. Ini adalah kerangka berpikir manusia karena manusia membandingkan alam semesta dengan mobil-gadget-komputer ciptaannya, yang juga memiliki pola dan keteraturan, serta kerumitan. Dan ketika manusia melihat suatu mesin aneh yang luar biasa canggih otomatis dia akan berpikir bahwa tidak mungkin mesin ini ada dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakannya.

Demikian juga ketika manusia melihat alam semesta yang menakjubkan ini, maka terpikirlah bahwa pasti ada penciptanya, ada seorang desainer hebat yang merancang semuanya. Kenyataannya sang desainer itu adalah alam sendiri. Segala sesuatu itu terjadi atas dasar sebab akibat. Hanya saja pengetahuan manusia masih terbatas untuk bisa mengetahui apakah ada sebuah penyebab utama, ataukah semuanya terjadi tanpa ada awal yang jelas atau tidak ada ujung awal dari semua ini. Sampai sekarang tidak ada yang bisa membuktikannya secara ilmiah.

Maka orang banyak mengambil jalan pintas dengan meng ada kan sosok Sang Pencipta ini. Karena kebiasaan manusia untuk mempersonifikasikan segala sesuatu, maka terpikir pulalah sang Pencipta yang memiliki kualitas kualitas manusia, seperti memiliki kehendak, memiliki perasaan dan emosi seperti senang dan marah. Disini manusia menempatkan dirinya dalam posisi sang pencipta. Artinya bagaimana perilaku serta sikap Nya dipercaya berdasarkan 'pengandaian' jika manusia yang berada dalam posisi-Nya.

Misalkan, jika sang ciptaan tidak berfungsi sebagaimana kehendak penciptanya, maka sang pencipta akan merasa kecewa. Jika bawahan melawan atasan, maka atasan akan marah dan menghukum bawahan. Jika fans kita megidolakan idola lain, maka ada rasa cemburu, dan ada rasa ingin memonopoli cinta sang fans. Ingin menjadi nomor satu dihati fans. Perasaan-perasaan manusiawi demikian yang kemudian diterapkan dalam sosok Tuhan ini.

Penulis berpendapat bahwa Tuhan tidak memerintahkan umatnya untuk berbuat ini dan menjauhi itu. Semua perintah itu disuarakan oleh para pendiri agama. Entah mereka mengalami delusi bahwa mereka merasa diperintah langsung oleh Tuhan untuk menyebarkan hukum tersebut, atau mereka secara sadar melahirkan ajaran
Agama tersebut dari hasil pemikirannya, tapi kemudian untuk melegitimasinya, ia menggunakan nama Tuhan.

Adapun tujuan para pendiri agama tersebut baik, yaitu untuk mengekang kebinatangan manusia. Sebelum adanya hukum negara yang kompleks dan detail seperti sekarang, hukum agama adalah cara yang efektif meredam kebinatangan tersebut. Akan tetapi dalam perjalanan dan perkembangannya hal-hal negatif pun bisa lahir dari tujuan mulia tersebut. Anda tentu sudah paham maksud saya.

Setiap malapetaka bukanlah hukuman dari Tuhan, dan setiap keberuntungan bukanlah reward dariNya karena kita telah berkenan dihadapanNya. Semua itu terjadi entah karena sebab akibat, atau bisa pula karena kebetulan.

Karena sebab akibat misalnya, ketika kita mengemudi ugal-ugalan, akibatnya adalah kecelakaan. Karma yang sesungguhnya adalah akibat dari perbuatan yang kita lakukan sebelumnya. Bukan berupa balasan atau hukuman. Tidak ada proses pencatatan perbuatan baik dan jahat yang kemudian dihitung dan kemudian dikompensasikan. Banyak orang jahat yang selalu beruntung hingga akhir hayatnya dan banyak orang baik yang sengsara. Ketika dibilang semuanya akan diperhitungkan di akhirat, itu adalah lagi lagi jalan pintas ketika hal diatas tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tidak akan ada yang bisa menyangkal akhirat sebagaimana tidak ada yang bisa membuktikan keberadaannya selain dari klaim. Lagi lagi akhirat adalah bentuk lain dari 'personifikasi' atau metafora yang diciptakan manusia untuk bisa menggambarkan dengan nyata sebuah konsep.

Lalu, dengan demikian, apakah pemikiran penulis adalah pemikiran seorang atheis? Antara ya dan tidak. Seorang atheis adalah seorang yang menolak adanya Tuhan dalam bentuk apapun. Sikap penulis adalah, membuka peluang akan adanya sebuah entitas yang menguasai manusia, bertindak sebagai penguasa. Tapi dia bukanlah yang menciptakan semuanya. Atau kemungkinan yang kedua adalah Dia bukanlah sebuah entitas, tapi merupakan sebuah konsep yang diciptakan manusia dalam usahanya memahami misteri alam semesta. Dia bisa jadi adalah jalan pintas atau keengganan manusia menyatakan ketidaktahuan dirinya. Atau jika bukan keengganan mungkin merupakan ketakutan. Manusia takut berada dalam alam semesta yang tidak dipahaminya, maka mereka membutuhkan pegangan, suatu sosok yang bisa dijadikan sandaran ketika mereka sedang berbeban berat. Atau ketika mereka sedang membutuhkan penghiburan.

Apapun itu, ada atau tidak Tuhan itu, penulis berpendapat, jika mempercayai Tuhan bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih baik, kenapa tidak? Tapi jika mempercayai Tuhan membuat kita menjadi manusia yang sombong, yang merasa lebih baik hanya karena kita merasa mempunyai backing, mempunyai sosok jagoan yang membela kita, atau kita merasa lebih suci, maka sia sia kita berTuhan.

Maka penulis tidak bisa sepakat dengan pendapat banyak theis yang berpendapat, sejahat jahatnya seorang theis masih lebih baik dari seorang atheis yang budiman.

Sebenarnya masih banyak hal yang bisa dikupas lagi, jadi, mari kita jumpa dilain waktu untuk melanjutkan pembicaraan tentang konsep Tuhan ini. Jadikan semua ini bahan renungan, kalau setuju, berarti kita sepikiran, kalau tidak setuju, jangan tersinggung. Tidak ada pemaksaan disini, dan tidak ada tujuan untuk mengatakan pemikiran lain sesat. Jika pemikiran ini dianggap sesat oleh theis, maka itu tandanya orang berTuhan tidak bisa menghargai perbedaan. Jadi semoga anda tidak berpikir demikian.

No comments:

Post a Comment