Wow, berani beraninya penulis melayangkan kritik bagi "Islam". Tunggu dulu, penulis tidak berani selancang itu. Kenapa kata Islam ditempatkan diantara ""? Karena penulis yakin bahwa Islam yang sesungguhnya bukan Islam yang akan dikritik oleh penulis.
To the point, saya prihatin dengan isu yang merebak akhir akhir ini tentang Isis. Satu pihak mengklaim bahwa Isis adalah kelompok ekstrimis Islam yang bercita cita menyatukan umat Islam seluruh dunia dalam sebuah 'negara' Islam yang tentunya didalamnya nanti hukum Islam yang akan dijalankan. Atau saya juga bisa mencium aroma usaha mengislamkan dunia oleh kelompok tersebut.
Yang jadi masalah adalah ketika kelompok tersebut dicap menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, termasuk dengan cara cara yang melibatkan kekerasan. Ada isu bahwa bahkan Isis sendiri membunuh umat Islam yang tidak sependapat dengan mereka dsb. Tidak usah saya uraikan lagi disini karena paparan lengkapnya bisa anda lihat sendiri di media.
Di satu sisi, Isis dan kelompok-kelompok sejenisnya dianggap sebagai pahlawan Islam, tapi disisi lain, mereka dianggap teroris. Bahkan oleh umat Islam sendiri. Kemudian ada kelompok pro Isis yang menuding bahwa Israel dan US berada dibalik Isis. Menurut saya bisa saja, cuma agak menggelikan juga. Toh kalaupun benar negara negara teersebut mendirikan Isis karena tujuan politik, tapi pendukung Isis mendukung Isis karena masalah ideologi.
Di Indonesia, Isis sudah dinyatakan sebagai organisasi yang terlarang dan langsung dihubungkan dengan kegiatan terorisme. Tapi itu tidak menghalangi beberapa pihak untuk tetap mendukung Isis. Di jejaring sosial seperti facebook misalnya, para pendukung Isis tetap berpropaganda dan menyuiarakan dukungan bagi Isis. Tapi tentu mereka berlindung dibalik anonimitas.
Yang membuat saya prihatin adalah, masih banyak juga umat Islam di Indonesia yang punya pemikiran seperti yang digagaskan Isis tersebut. Mereka punya keinginan bahwa Islam harus menguasai dunia. Dan penaklukan itu dilakukan dengan mengangkat senjata. Siapa yang menentang ide itu akan langsung dicap sebagai musuh Islam.
Menyedihkan bahwa di Indonesia, paham Islam garis keras sepertinya mampu berkembang. Sedikit demi sedikit para pemuda Muslim kita mulai diausupi paham paham demikian. Mereka mulai menyalahgunakan kata-kata 'Allahu akbar' yang mereka padukan dengan kepalan tangan yang terangkat serta wajah yang beringas. Mereka bersikap seolah-olah Allah berada di pihak mereka dan dengan demikian apapun tindakan mereka adalah benar.
Kalimat yang menyatakan kemaha besaran Sang Pencipta digunakan untuk merampas hak orang lain dan memaksakan ideologi. Mereka tidak lagi menaruh hormat pada takbir yang mereka ucapkan untuk hal-hal yang kejam. Sedikitpun tidak nampak kebesaran Allah dalam perilaku yang tidak manusiawi.
Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang haus darah dan miskin kerendahan hati. Hasrat mereka yang sesungguhnya adalah membunuh. Mereka mencari cara melegimitasi pembunuhan dengan dalih berperang di jalan Allah. Padahal mereka sendiri belum tentu mengetahui jalan seperti apa yang diinginkan Allah. Sesosok Tuhan yang Maha Besar dikerdilkan dengan sikap premanisme.
Adalah hak umat Islam jika mereka menginginkan kesatuan bagi dunia Islam. Dan tidak ada orang yang berhak menghalanginya. Tapi adalah hak umat beragama lain dan yang tidak beragama untuk tidak di Islamkan.
Berpikirlah begini. Jika memang benar Islam adalah agama yang terbenar atau seperti yang diklaim mereka bahwa satu satunya agama yang benar adalah Islam, maka cahaya yang dipancarkan Islam itu akan menyinari dunia dengan sendirinya. Dan dengan demikian maka tidak perlu lagi ada yang mengangkat senjata untuk mengislamkan dunia. Semua orang normal ingin berbahagia. Maka jika Islam adalah jalan menuju kebahagiaan, maka tanpa diminta, apalagi dipaksa, maka dengan sendirinya semua orang waras akan memeluk Islam. Kebenaran agama tersebut akan terlihat dari perilaku, perkataan dan pemikiran pemeluknya.
Maka kritik saya bagi "Islam"; saatnya berbenah diri. Analisa apa yang salah sehingga terjadi hal-hal seperti ini. Jangan dengan mudahnya mencap pihak lain sebagai "musuh Islam". Jika demikian, maka andalah yang memusuhi mereka dan jika dengan mudahnya anda memusuhi orang lain, maka benarlah adanya bahwa anda adalah manusia yang haus akan perang. Dan hati anda kotor oleh nafsu membunuh, nafsu ingin berkuasa atas orang lain. Dan artinya saatnya anda mulai mempertanyakan tentang keIslaman anda.
Saya rasa banyak umat Islam sendiri akan setuju bahwa penyebaran agama Islam sendiri yang diutamakan adalah dakwah, bukan senjata. Tidak ada paksaan untuk masuk Islam. Orang masuk Islam bukan karena todongan senjata, tapi karena mendapat hidayah. Maka dengan demikian, apa yang dilakukan Isis dan operasi sejenisnya harus dipertanyakan kebenarannya dalam Islam sendiri.
Dan jika kelompok pro Isis berdalih bahwa Isis tidak bertujuan mengIslamkan orang lain, hanya mempersatukan Islam sedunia dan menegakkan syariah bagi selurih umat Islam diseluruh dunia, tanyakan pada diri sendiri, apakah cara-cara yang dilakukan sudah tepat. Mengapa masih dengan mudahnya menuduh Syiah dan sebagainya sebagai pembenaran atas kekerasan yang dilakukan.
Saya sangat menyayangkan mengapa banyak umat Islam yang seperti bensin, sekali tersulut api langsung meledak, bukan terbakar lagi. Sudah menjadi sebegitu arogannyakah umat Islam sehingga setiap hinaan, sindiran, bahkan kritik sekalipun membuat mereka naik darah dan harus menggunakan kekerasan menanggapinya? Apakah begitu rendahnya kontrol diri umat Islam terhadap hawa nafsu?
Saudara saudariku umat Islam, jangan lagi biarkan paham paham demikian merusak citra Islam dimata dunia. Haters akan selalu ada, tinggal bagaimana kita bersikap terhadap mereka. Sikap dan reaksi umat Islam terhadap pihak pihak yang membenci Islam akan menentukan kualitas dari umat Islam itu sendiri.
Penulis bukanlah orang yang ahli dalam agama, tapi tidak harus menjadi ahli dalam sebuah agama untuk bisa menyadari bagaimana seorang beragama seharusnya bersikap. Selama kita punya hati nurani yang bersih, kita akan bisa memilah yang baik dari yang buruk. Ahli dalam agama akan membuat kita lebih paham detail. Tapi hati nurani yang bersih akan membuat kita paham inti dari ajaran agama. Dan ketika ada kemunkaran yang bertopeng kebenaran, hati nurani kita akan tetap menolaknya. Sekalipun ada pemuka agama yang menyatakan bahwa darah kafir itu halal ditumpahkan, seorang yang berhati bersih tidak akan mau menumpahkannya setetespun. Tapi ia akan menjadi teladan yang bisa menyentuh si 'kafir' tersebut sehingga ia bisa melihat kebenaran dalam Islam.
No comments:
Post a Comment