Monday, August 11, 2014

Tentang Agama part 6 (Salesman Agama)

Pernah suatu saat penulis sedang nongkrong didepan sebuah perpustakaan di sebuah kampus. Tiba tiba ada seorang mahasiswa bertampang kutu buku datang mendekat. Penulis cukup terkejut karena orang tak dikenal itu tiba tiba menjajakan 'dagangannya' yaitu agamanya.

Kebetulan penulis beragama yang sama dengan orang itu, cuma pada saat itu, penulis memang bukan tipe orang yang religius dan sangat aktif dalam kegiatan keagamaan. Kalaupun ada aktifitas, itu adalah 'pelayanan' dalam bentuk bermain musik ditempat tempat ibadah agama tersebut.

Singkat kata, habislah saya diceramahi oleh mahasiswa tersebut. Dia menekankan tentang pentingnya bertumbuh dalam satu tempat ibadah. Artinya, tindakan saya yang berpindah pindah dari satu tempat ibadah ke gedung tempat ibadah lain itu tidak dibenarkan.

Pada saat itu saya pun masih polos dan lugu, belum tertarik dengan pemikiran pemikiran tidak jelas seperti saya tulis di blog ini. Maka saya hanya terdiam mendengar ceramah orang itu. Tapi ada sesuatu dalam hati saya yang tidak bisa setuju dengannya, cuma saya tidak tahu apa itu. Dan akhir kata, saya pun menolak dengan halus ajakannya untuk menjadi anggota jemaat ditempat ibadahnya.

Tahun demi tahun peristiwa itu membekas di hati, dan dalam perjalanan waktu, saya pun mengalaminya beberapa kali dengan orang orang yang berbeda. Maka saya mulai memikirkan hal tersebut.

Tidak ada tindakan melanggar hukum yang dilakukan orang orang tersebut. Mereka pun melakukannya dengan tanpa paksaan. (Hanya dengan bujukan pantang menyerah) salahkah apa yang mereka lakukan?

Secara hukum tidak salah, tapi sungguh itu suatu perbuatan yang tidak etis dari segi sosial, dan suatu perbuatan yang merendahkan agama sendiri. Perilaku demikian banyak diadopsi oleh salesman door to door yang menawarkan gantungan baju wangi atau vacuum cleaner.

Saya mengerti bahwa didalam doktrin agama tersebut ada himbauan untuk menjadi 'penjala manusia'. Maka tidak heran kalau para penganut agama itu banyak yang berlomba-lomba sebanyak banyaknya menjaring pengikut. Mereka baru puas jika sang korban berhasil diajak masuk agamanya, atau lebih bagus lagi jadi anggota jemaat tempat ibadahnya.

Akan tetapi metode penjaringan ini yang salah. Jika beruntung, memang sang korban akan memakan umpan tersebut. Tapi jika tidak, yang ada malah korban tersebut akan mengalami phobia terhadap agama yang ditawarkan. Dan akhirnya malah merusak citra agama tersebut. Jikalau demikian, kemudian dimanakah tanggung jawab sang salesman?

Metode ini masih sedikit bisa diterima jika target operasi bukanlah orang random yang tidak dikenal. Melainkan keluarga/sanak saudara/sahabat. Tapi itupun bukan cara yang paling bijak dalam menyebarkan agama. Jadi apa cara yang paling baik?

Cara terbaik adalah dengan bukti! Jika agamamu memang agama yang benar, baik, maka akan kelihatan dari segala perilaku dan perkataanmu. Orang hanya ingin beli obat penumbuh rambut dari penjual obat yang berambut gondrong, bukan botak. Artinya, orang hanya akan tertarik pada agama anda ketika dimatanya anda adalah seorang pribadi yang mengagumkan. Tanpa banyak bujuk rayu, orang akan tertarik memeluk agama yang anda peluk ketika terlihat dalam hidup anda semua kebahagiaan dan damai yang anda peroleh dari agama anda.

Maka sebelum memutuskan untuk menjadi salesman agama, hendaklah kita berbenah diri dulu, jadi seperti teladan junjungan agama kita. Dengan demikian orang akan langsung melihat cahaya yang terpancar dari kebenaran agama tersebut. Dan tanpa harus dibujuk rayu dengan segala iming iming surga dan segala ancaman tentang neraka, mereka akan tertarik mempelajari agama yang dimaksud.

Jadi, masih ingin jadi 'penjala manusia'? Do you have what it takes? You know the answer yourself.

No comments:

Post a Comment