Agama agama yang ada di Indonesia erat hubungannya dengan sembah menyembah. Tapi kemudian ada pertanyaan sebetulnya seberapa penting sih menyembah itu? Menyembah itu suatu kegiatan yang dilakukan oleh entitas yang secara hirarki berada dibawah yang ditujukan kepada orang diatasnya. Kegiatan menyembah itu meliputi merendahkan diri dihadapan entitas sembahannya, memuja dan memuji entitas sembahannya, serta dalam kasus kasus tertentu bisa juga dengan memberikan sesuatu kepada sang entitas sembahan.
Penyembahan penyembahan tersebut sering hadir dalam bentuk ritual. Dalam konteks umum agama di Indonesia, entitas yang disembah adalah Tuhan yang Maha Esa. Pertanyaannya, samakah Tuhan itu dengan para dewa?
Dewa diyakini sebagai entitas yang memiliki ciri ciri yang dimiliki manusia, tapi memiliki kuasa atau kekuatan diluar manusia biasa. Dewa diyakini sebagai makhluk yang berada diatas manusia baik secara hirarki maupun kapabilitas. Satu hal yang dewa tidak bisa lakukan yang kalah dari manusia adalah dewa tidak mampu mati.
Dewa biasanya memiliki kepribadian layaknya manusia. Maka dewa bisa senang jika dirinya disembah, disanjungm dipuja, tapi bisa marah jika ada manusia rendahan itu yang berani menghina atau menantangnya.
Balik ke Tuhan. Dalam bahasa Inggris, Tuhan itu adalah God, dan dewa adalah god. Tuhan akan selalu berbentuk singular, sedang dewa (god) bisa dalam bentuk jamak. Dari situ kembali menyeruak pertanyaan konyol, apakah Tuhan itu dewa? Atau rajanya para dewa? Atau apa?
Bagi yang menganut kepercayaan monotheisme, memang pertanyaan diatas konyol. Tapi secara umum bisa diibaratkan bahwa Tuhan itu semacam dewa, hanya jika dibandingkan dewa, Tuhan itu jauh sekali kelasnya. Dewa bukanlah sumber dari segala galanya, tapi Tuhan dipercaya sebagai awal mula dari segala sesuatu.
Tapi satu hal yang nyaris disepakati semua agama diindonesia (nyaris berarti tidak semua), bahwa Tuhan itu memiliki kepribadian sebagaimana layaknya manusia. Dia bisa marah, bisa Senang, bisa mencintai, bisa memaafkan, dan bisa cemburu. Berangkat dari situ, maka manusia didoktrin untuk selalu menyenangkan Tuhannya dan sebisa mungkin jangan membuatNya murka. If He,s pleased we,ll be happy and if He,s in a foul mood, we'll be doomed. Kira kira begitulah.
Penulis sendiri berpendapat bahwa predikat Maha pengasih lagi penyayang tidak tepat diberikan kepada entitas yang demikian. Sorry to say, seorang preman di pasar pun memiliki kecenderungan yang sama. Kalau kita lancar bayarnya, kita aman, kalau kita bertingkah, siap siap golok bersemayam di kepala.
Kata Maha itu memiliki arti yang berat seberat beratnya. Artinya tiada duanya. Maka sebuah entitas yang diberi predikat maha sesuatu adalah suatu entitas yang tiada duanya dalam memiliki kualitas tersebut. Maka sebuah entitas yang Maha pengasih dan oenyayang tidak akan begitu mudahnya murka.
Dan jika dibilang entitas yang demikian maha sempurna, itu juga tidak masuk akal karena sesuatu yang sempurna tidak memiliki kekurangan. Sedangkan marah adalah tanda bahwa seseorang kecewa, tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Jika suatu entitas yang sempurna itu marah karena ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya, bukankah itu mengingkari kesempurnaannya sendiri?
Lalu jika memang Tuhan itu sempurna, maka seharusnya Tuhan tidak memiliki sifat sifat manusia tersebut karena manusia penuh dengan cela dan jauh dari kesempurnaan. Dan jika memang benar Tuhan itu sempurna, masih relevankah penyembahan terhadapNya?
Disclaimer: penulis tidak menganjurkan untuk menghindari penyembahan. Penulis sendiri bukan orang yang pro terhadap penyembahan, tapi menyembah atau tidak menyembah itu adalah urusan pribadi masing masing manusia dengan Sesembahannya. Bagi penulis, yang terpenting bukan menyembahnya, tapi jadi orang seperti apa kita setelah menyembah Tuhan itu.
Lebih baik jadi orang yang tidak menyembah apapun tapi tidak merugikan siapapun daripada menjadi penyembah yang rajin tapi merugikan orqng lain. Dan jika anda memutuskan untuk jadi penyembah Tuhan, kenapa tidak sekalian menjadi sosok yang disenangi orang lain? Intinya adalah, setelah kita memutuskan untuk jadi orang yang menyembah Tuhan, menghambakan diri padanya, jangan berhenti disitu, tapi kita harus jadi pribadi yang lebih baik sehingga bisa membawa manfaat bagi orang lain. Jika masih tidak bisa juga, tidak masalah, yang penting tidak membuat onar.
Jadi menurut anda, seberapa penting menyembah itu?
Bersambung ke part4
No comments:
Post a Comment