Monday, August 11, 2014

Tentang Beragama Part1

Indonesia adalah negara yang berdasar negara Pancasila, yang mana sila pertamanya berbunyi ketuhanan yang maha esa. Singkat kata, semua diwajibkan beragama, lepas dari apakah itu secara sukarela ataupun terpaksa.

Lalu, mengapa beragama itu menjadi sebegitu pentingnya? Penulis berpikir, pada awalnya agama itu hanya berupa ajaran, belum berupa agama yang kita kenal sekarang, lengkap dengan organisasinya, strukturalnya, doktrinnya, dan lain lain. Awalnya simpel saja, cuma dimulai dari seseorang yang tercerahkan baik dengan sendirinya ataupun atas pencerahan sebelumnya.

Dulu, si tokoh ultimate agama ini menyebarkan ajaran agamanya dengan caranya masing masing, dari sedikit orang, lama lama menjadi banyak. Dan seiring waktu, jumlah yang keterlaluan banyaknya itu menjadikan agama itu semakin kompleks. Secara garis besarnya pasti ada satu titik tolak dimana pada akhirnya memang lahirlah agama tersebut. Hingga berubah dari hanya sekedar ajaran yang sifatnya hanya melekat di pikiran dan hati yang tercermin lewat perbuatan, menjadi suatu kebudayaan dan kepercayaan yang dianut oleh sebuah komunitas.

Ketika agama tersebut lahir, barulah masalah bermula. Ajaran ajaran yang tadinya baik itu mulai mendapat campur tangan orang orang yang secara kualitas pemahaman ajaran berada dibawah si tokoh ultimate agama. Penyimpangan demi penyimpangan mulai muncul. Tapi sayangnya banyak kali penyimpangan itu tidak dianggap sebagai penyimpangan atau degradasi dari ajaran intinya. Semakin terakumulasi penyimpangan itu, maka potensi masalah akan semakin banyak.

Apa buktinya telah terjadi penyimpangan dari ajaran asli nan mulia? Buktinya adalah nyawa yang melayang atas nama agama, serta darah yang tertumpah, juga lagi lagi atas nama agama. Jika memang benar ajaran agama itu mulia, dan merupaka pn kebenaran sejati, maka konflik agama itu merupakan sesuatu yang nonsense. Bagaimana mungkin kebenaran mengasilkan bencana?

Kalau kemudian kesalahan dilimpahkan kepada manusianya, itu seperti cuci tangan. Fungsi agama adalah mengatur supaya tidak ada pergesekan kepentingan antar manusia, supaya eksistensi semua manusia bisa terjaga dengan baik serta tidak ada esensi manusia yang diperkosa. Jika terjadi konflik antar agama, maka bisa dibilang bahwa agama telah gagal menjalankan fungsinya sebagai benteng pertahanan dari konflik. Setau penulis tidak ada agama disini yang mengajarkan konflik. Tunggu, koreksi, tidak ada ajaran agama yang mengajarkan konflik, tapi dalam perjalanannya, agama bisa dipelintir oleh manusia yang memeluknya sehingga justru bisa melahirkan konflik.

Konflik antar agama atau inter agama, seringkali justru dianggap mendapat pengaruh atas apa yang diajarkan oleh agamanya (bukan oleh si tokoh ultimate). Contoh, kenapa terjadi terorisme atas nama agama? Karena menurut pelaku, dia sedang menjalankan perintah agama. Jika diminta sumbernya darimana, dia pasti akan bisa menyebutkan dasarnya sehingga apa yang dia lakukan bisa dijustifikasi kebenarannya. Tapi kebenaran itu bukan kebenaran sejat melainkan kebenaran berdasar tafsir. Artinya ini bersifat subjektif.

Nanti kita akan bicara lebih spesifik lagi di part 2.

No comments:

Post a Comment