Monday, August 11, 2014

Tentang Agama Part 4 (Fanatisme dan Radikalisme)

Ada orang bilang bahwa beragama itu tidak boleh hangat hangat tinja chicken (berarti dia pernah pegang :D). Maksud dia sebenarnya adalah, tidak ada yang salah dengan fanatisme dan radikalisme beragama. Dan selama ada kehidupan beragama, kita tidak bisa lepas dari permasalahan fanatisme dan radikalisme.

Lalu apa hubungan antara fanatisme dan radikalisme itu? Fanatisme adalah modal dasar untuk berkembang kearah radikalisme. Radikalisme dalam berpikir sebagai awal, dan dilanjutkan dengan radikalisme dalam tindakan. Seringkali keduanya muncul bersamaan.

Agama memiliki kekuatan untuk mengontrol manusia. Dan agama juga bisa digunakan oleh manusia untuk mengontrol manusia lain untuk suatu kepentingan. Disini kita bisa lihat bahwa seringkali kepentingan itu adalah kepentingan politik. Politik disini diartikan secara luas, bukan hanya konteks pemerintahan.

Bukti bahwa agama berpolitik adalah adanya kecenderungan manusia dari agama agama tertentu untuk berlomba lomba menjaring pengikut. Mereka menggunakan banyak cara mulai dari cara bersih sampai cara kotor untuk bisa menjaring pengikut, serta mempertahankan pengikutnya baik secara kualitas dan kuantitas. Kemudian ada juga usaha agama dalam mempertahankan dominasi berupa kekuasaan di suatu tempat. Misalnya ketika pilgub DKI kemarin, ada isu bahwa ada larangan agama tertentu terhadap pengikutnya untuk memilih pemimpin yang berbeda keyakinan. Ini tandanya agama juga berpolitik. Jika memilih pemimpin yang sekeyakinan, maka dominasinya tetap terjaga.

Orang yang fanatik dalam beragama tidak selalu bersikap radikal keluar, tapi seringkali punya kecenderungan bersikap radikal kedalam, artinya kepada diri sendiri. Ciri orang fanatik agama adalah dalam setiap tweetnya, statusnya, atau perkataannya tidak jauh dari agamanya. Yang demikian tidak meresahkan, tapi cukup mengganggu bagi kalangan umum.

Tapi banyak pula orang fanatik yang radikal. Radikal disini artinya melakukan tindakan tindakan yang berani berbeda, atau tindakan tindakan yang oleh masyarakat umum dianggap keterlaluan. Setidak tidaknya radikal dalam berpikir, yaitu memiliki ide ide yang juga keterlaluan.

Contoh contoh tindakan radikal adalah, dilarang nonton tv, dilarang mendengar musik, dilarang mengucapkan selamat hari raya kepada orang yang berlainan agama, memperbolehkan merusak tempat yang dianggap maksiat, sampai memperbolehkan membunuh dalam rangka membela agama serta junjungannya.

Kebanyakan dari hal radikal tersebut bersifat merugikan dan meresahkan masyarakat umum. Setidak tidaknya jika tidak sampai merugikan akan terasa menyebalkan dan bikin orang geleng gekeng kepala.

Penulis harus jujur bahwa secara pribadi, penulis tidak merasa cocok dengan gerakan kharismatik dalam agama agama di Indonesia. Gerakan kharismatik ini sangat potensial dalam menghasilkan manusia-manusia yang radikal, minimal fanatik. Mereka seperti dicuci otak bak calon calon kader MLM yang dibakar sedemikian rupa semangatnya. Mereka mengalami degradasi dari manusia menjadi zombie yang di stir oleh pemuka agamanya. Separah parahnya produk gerakan kharismatik adalah manusia manusia yang rela mati dan membawa serta orang lain untuk ikut mati bersamanya untuk mencapai tujuannya dalam beragama.

Tanpa cuci otak, seorang waras dan normal tidak mungkin mau melakukan bom bunuh diri. Tanpa kecintaan berlebihan terhadap agamanya, orang normal tidak akan sampai hati untuk menganiaya dan membunuh orang yang berbeda keyakinan dengannya.

Lalu seharusnya apa yang kita lakukan jika ingin hidup beragama dengan sebenar benarnya? Yang seharusnya dilakukan adalah:

1. Perdalam pemahaman agama kita lewat jalur yang tepat, pendidikan resmi yang bersertifikat resmi pula.

2. Gunakan hati nurani dan akal budi dalam menyaring semua input, bahkan dari pemuka agama atau kitab suci sekalipun.

3. Hindari permainan emosi yang berlebihan karena tidak ada hal yang berlebihan yang baik. Yang terbaik adalah segala sesuatu yang pas takarannya. Mencintai Tuhanmu lewat perasaan yang berlebihan saja tidak akan menjadikanmu manusia yang lebih baik karena baik atau tidaknya diri kita tergantung dari perbuatan nyata kita.

4. Setiap agama resmi di negara ini mengajarkan perdamaian dan cinta kasih, dan itulah ini dari beragama, maka itulah pokok terpenting yang harus kita lakukan. Seberapapun dahsyatnya kita menyembah Tuhan, baru akan ada artinya ketika kita melakukan tindakan nyata yang ada imbas langsungnya terhadap sesama manusia serta makhluk hidup lainnya.

5. Beragamalah secara sehat, buat akal budi, hati nurani, serta iman berimbang porsinya, karena ketiga hal tersebut yang menjadi saringan kita terhadap semua input yang baik atau buruk.

Selamat beragama dengan sehat!

Bersambung ke part 5

No comments:

Post a Comment