Monday, August 11, 2014

Tentang Beragama Part2 (Agama yang benar)

Kriteria agama yang benar itu yang bagaimana sih?

Agama yang benar adalah agama yang mengajarkan tentang kebenaran sejati. Kalau dari definisi ini, kita nyaris tidak bisa tahu mana agama yang mengajarkan kebenaran sejati. Kebenaran sejati itu bersifat mutlak, lepas dari perspektif. Kebenaran sejati adalah kebenaran dimana tidak ada alasan bagi siapapun untuk mengingkarinya. Selama masih ada orang waras yang mengingkari, berarti itu masih belum bisa disebut kebenaran sejati.

Agama yang berlandaskan kebenaran sejati adalah agama yang nantinya dipeluk setiap orang waras di dunia tanpa kecuali. Kenapa dmikian? Karena itu adalah agama yang sudah terbukti benar. Orang waras jaman sekarang akan setuju bumi bulat. Hanya orang yang tidak waras yang bilang bumi pipih. Kenaoa? Karena semua bukti nyata tentang bumi bulat sudah ada. Atau semua orang waras akan mengakui bahwa jatuh itu kebawah karena adanya gravitasi.

Jadi sebenarnya sampai sekarang belum ada yang layak disebut sebagai agama yang benar sebenar benarnya. Kita hanya bisa bilang ada agama yang paling benar, tapi diapun belum menyentuh kebenaran mutlak. Artinya itu adalah agama yang paling banyak mengandung kebenaran. Tapi belum 100% benar.

Jika saya berbicara begini pada penganut agama tertentu, pasti dia tidak setuju, karena dari apa yang diajarkan oleh agamanya, agama tersebut adalah agama yang tingkat kebenarannya 100%, mutlak, karena itu adalah agama yang langsung diturunkan oleh Tuhannya yang notabene adalah sumber dari segala kesempurnaan. Itu hak dia untuk mempercayainya selama dia tidak memaksakan pada orang lain, mencekokinya sebagai sesuatu yang benar dan wajib diterima semua orang. Itu adalah klaim agamanya, dan ketika saya bicara kata agama disini menyangkut manusianya. Yang mengklaim demikian adalah manusia somewhere didalam sejarahnya. Apakah itu diucapkan oleh sang tokoh ultimate agama tersebut atau kemudian dalam perjalanannya itulah yang dipercaya oleh pengikutnya.

Tapi bagi yang bukan pengikut sang tokoh, klaim itu hanya merupakan klaim saja. Dan memang benar, ketika kita bicara tentang agama, kita hanya berbicara tentang apa yang kita percayai sebagai kebenaran. Tidak ada satupun cara yang bisa membuktikan bahwa hipotesis itu layak menjadi simpulan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Selama ini, kita hanya bisa percaya dengan iman. Iman adalah bypass dari reason dan logic sebelum mempercayai sesuatu sebagai kebenaran. Iman bisa menyelamatkan, tapi juga bisa membinasakan.

Mother Theresa telah menolong entah berapa jiwa dan menyirami hati entah berapa orang dengan kasih, yang semua itu datang tidak lain dari iman terhadap Tuhannya. Itu adalah iman yang menyelamatkan.

Dan pelaku bom bunuh diri yang konon katanya sedang berjihad di Indonesia telah mengambil nyawa puluhan orang dan bahkan nyawanya sendiri. Semua dilakukan karena iman mereka terhadap Tuhan mereka, dan ajaran agama mereka. Itu adalah iman yang membinasakan.

Disclaimer saya, dalam dua contoh diatas, itu hanya contoh, jadi tidak berarti orang yang beriman agama A lebih baik dari orang yang beriman diagama B. Sama sekali tidak. Atau agama A lebih baik dari agama B. Itu hanya contoh bahwa iman itu seperti pisau. Jika digunakan dengan baik oleh orang yang baik, akan membawa manfaat dan jika digunakan oleh orang jahat untuk kejahatan akan membawa bencana.

Demikian pula dengan agama. Ada orang yang setelah mengenal agama dan Tuhan menjadi orang yang disenangi dilingkungannya, tapi ada juga yang setelah memeluk agama atau aktif dalam kegiatan beragama malah menjadi gangguan ketentraman bagi orang lain.

Garis besarnya begini, yang kelihatan oleh mata, lihat bagaimana umat suatu agama itu berlaku. Dari situ akan terlihat ajaran agamanya. Jangan lihat segelintir umat yang radikal saja, tapi lihat secara keseluruhan. Kemudian bandingkan dengan umat dari agama lain, lagi lagi jangan lihat sebagian kelompok saja yang punya tendensi tertentu, tapi lihat keseluruhannya. Maka akan terlihat sebenarnya ajarannya model bagaimana suatu agama itu. Kelompok kelompok dengan anomali itu bisa dilihat sebagai margin of error. Jangan diabaikan, tapi dilihat presentasenya dibanding sisa umat, kemudian lihat dampak yang mereka lakukan, seberapa negatif atau positifnya bagi semua orang baik didalam maupun diluar agamanya. Kemudian bandingkan dengan perilaku umat agama yang kita anut, mana yang lebih menyejukkan, mana yang lebih mengganggu, mana yang lebih menyebalkan. Kita akan lihat sebenarnya agama mana yang layak kita pilih di Indonesia ini.

Bicara agama luas sekali, maka akan kita sambung ke part 3. See you there!

No comments:

Post a Comment