Monday, August 11, 2014

Tentang Pilpres 2014

Beres pilpres, penulis sangat terkesan dengan pilpres kali ini. Kayaknya pilpres 2014 ini adalah pilpres yang penuh drama. Dimulai dari hanya ada dua pasang kandidat, kemudian dengan seluruh intrik dan strategi pemenangan yang sudah mengabaikan harga diri, kejujuran, dan hati nurani.

Awalnya penulis berniat untuk mengambil posisi netral dengan coba menyimak bagaimana kualitas para capres cawapres, bagaimana kepribadiannya. Penulis sempat menonton debat, menonton dan membaca berita yang datang dari berbagai sumber media masa yang tidak netral maupun yang netral.

Kesimpulan penulis soal capres no1 dan timnya adalah, mereka adalah kubu yang memiliki sumber daya yang kuat, punya kekuatan yang luar biasa dari berbagai aspek. Secara pribadi khususnya capres 1 adalah orang yang punya ambisi sangat besar. Beliau juga berkembang menjadi orator yang cukup hebat. Maka tidak heran kalau dukungan buat pasangan no 1 itu begitu kuat.

Tapi sayang, semua nilai positif itu dinodai seabrek kualitas negatif. Penulis menilai strategi yang dilakukan pasangan capres no 1 ini kotor. Mulai dari menggandeng lembaga survey yang tidak jujur, atau mungkin dipesan supaya tidak jujur. Kemudian black campaign yang kejam terhadap lawannya yang cuma menanggapi dengan senyum senyum saja. Kemudian yang fatal lagi adalah bagaimana mereka memilih siapa yang masuk kedalam aliansinya. Reputasi orang orang dan organisasi yang ada di no1 itu sudah notorious. Yang paling ngeri adalah organisasi radikal yang berbau agama. Imbasnya memang mereka didukung oleh semua kaum radikal agama yang ada di Indonesia. Tapi justru itu menjadikan sisanya yang tidak radikal dan militan menjadi enggan merapat.

Bisa dibayangkan jika golongan ekstrimis itu mendapat angin segar, maka ketakutan, kekhawatiran akan semakin menghantui golongan 'normal'. Sampai sekarang saja pemerintah melempem, tumpul ketika harus berhadapan dengan para ekstrrimis yang belum resmi jadi teroris. Lain halnya ketika resmi jadi teroris, maka peluru dan bom yang bicara. Ketika belum berlabel teroris, maka pemerintah seperti serba salah menghadapinya. Dilawan salah dibiarkan jadi masalah. Skip, ada partnya khusus di entry berbeda nanti.

Kemudian dipenghujung gelaran, sikap tidak legowo menjadikan nilai merah raport itu semakin kebakaran. Ada sedikit rasa syukur bahwa penulis tidak menjatuhkan pilihan pada no1. Tuduhan demi tuduhan dilontarkan, tapi baru muncul ketika kekalahan didepan mata. Semua akan dapat jatah dipersalahkan. Singkatnya semua sudah tahu ya. Ffwd lagi.

Capres 2, bukan orang yang terbaik yang bisa membawa negeri ini keluar dari kemelut berkepanjangan, tapi secara jelas merupaka pilihan yang lebih baik. Penulis cuma kasian melihat sosok sederhana itu nantinya akan dihadapkan pada situasi situasi tersulit semasa hidupnya. Akan banyak orang tidak puas, dan berusaha menjegalnya ditengah jalan. Akan banyak pendukungnya yang berbalik menjadi haters. Bukan karena beliau orang yang jahat, tapi karena orang kita terlalu susah diatur, dan permasalahn kita sudah terlalu rumit untuk bisa diurai dalam waktu kerja lima tahun. Tapi jika yang beliau lakukan itu hal yang benar, maka walaupun Indonesia belum keluar dari permasalahannya dalam lima tahun kedepan, tapi fondasi untuk lepas landas itu akan sudah jadi.

Tinggal bagaimana sang presiden terpilih bisa memberi contoh, mempengaruhi banyak orang untuk bisa sama sama membangun negeri dengan tulus, untuk masa depan anak cucu kita nantinya.

Singkat kata, buat pak future president, ada pesan dari penulis yang tidak penting ini. Pesannya adalah, jujur, tetap seperti apa yang dicitrakan, merakyat, jangan sombong ketika sudah diatas, dengar aspirasi rakyat (soalnya ragu sama wakil rakyat), jangan lagi menambah uang untuk keluarga anda, karena untuk standar rakyat, anda sudah kaya. Cukup, saatnya anda jadi pahlawan yang sesungguhnya bagi orang banyak. Keluarga anda sudah berkecukupan, sudah bangga. Tinggal tugas anda membuat setiap rakyat Indonesia bangga menjadi bagian dari Bangsa Indonesia. Saatnya anda membuat rakyat miskin hidup layak, dan rakyat kaya tetap kaya, tapi tidak menginjak yang tidak kaya. Saatnya anda mengedukasi bangsa, mengubah cara pikir dan perilaku yang kontraproduktif. Saatnya menempa budaya bangsa menjadi modal yang kuat menuju Indonesia hebat yang sesungguhnya.

Buat yang kalah pilpres kemarin, tanya sama diri sendiri, saya mau apa sih sebenarnya nyapres. Kalau jawabannya ingin menyelamatkan Indonesia, kalau anda memang tulus ingin berbakti pada Indonesia, dukung pemerintahan yang sah nanti dengan semua sumber daya yang anda punya. Buang semua dengki dan iri. Stop berpolitik secara kotor, mulai lihat kepentingan yang kebih besar, yaitu seluruh rakyat Indonesia. Tanpa anda jadi presiden, anda bisa jadi pahlawan buat negara ini. Dan jika anda bisa buktikan itu, lima tahun kedepan, siapa tau anda yang duduk di RI1. Tapi jika selama lima tahun ini anda tidak bisa membuktikan itu, karir politik anda tamat, atau minimal stagnan. Jadi pilihan ada ditangan anda. Orang berpikir negatif tentang anda, jangan anda gasak. Tapi buktikan sebaliknya, maka dari foe, mereka akan menjadi friend anda.

Kedua belah pihak punya tugas yang harus dibuktikan. Siapapun yang berhasil, atau jika keduanya berhasil, Indonesia yang meraup keuntungannya.

Salam Tiga jari, persatuan Indonesia!!!!!! Peace and love for all!!!

No comments:

Post a Comment