Monday, August 11, 2014

Surga dan Neraka, seberapa pentingnyakah?

Orang normal pasti ingin masuk surga. Hanya orang sinting yang ngidam kepingin masuk neraka. Betul kan? Cuma ada pertanyaan, seberapa pentingkah sebenarnya surga dan neraka?

Beberapa agama mengajarkan adanya surga dan neraka. Kasarnya adalah reward and punishment. Perbuatan yang baik akan diganjar reward sedangkan perbuatan jahat akan diganjar punishment.

Tapi benarkah surga dan neraka itu ada secara literal? Secara nalar, sebenarnya tidak mungkin ada yang namanya surga dan neraka. Manusia yang telah mati tidak memiliki lagi rasa sakit, rasa lapar, rasa menginginkan sesuatu. Tidak ada yang namanya hidup kekal baik dalam surga maupun neraka, karena yang namanya hidup itu sesuatu yang diawali keberadaan dalam rahim ibu dan diakhiri dengan kematian yang diikuti dengan ketiadaan jasad. Maka hidup kekal adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Hidup yang kekal, disurga sekalipun akan menjadi sesuatu yang sangat boring. Hidup terbaik adalah hidup di dunia yang singkat yang oenuh dinamika.

Bayangkan kita menonton film yang tidak ada habisnya. Menonton The Avengers selama sekitar dua tiga jam memang menyenangkan, tapi itu tidak akan menyenangkan lagi ketika film tidak beres beres empat puluh hari empat puluh malam nonstop. Kesenangan apapun yang dilakukan terus menerus akan berkurang tingkat kesenangannya dan lama lama menjadi membosankan, bahkan menyiksa.

Tapi saya tidak bermaksud memunculkan ide bahwa dengan tidak adanya surga dan neraka, maka agama itu hoax dan kita boleh berbuat sesuka hati rampok sana sini, bunuh sana sini, perkosa sana sini, sama sekali bukan itu. Maksudnya adalah surga dan neraka adalah untuk "anak kecil".

Kenapa untuk "anak kecil"? Karena anak kecil harus diberi reward and punishment untuk membuat mereka menjauhi yang buruk dan melakukan yang baik. Orang yang dewasa akan tetap melakukan yang baik walaupun tanpa reward, serta menjauhi yang buruk walaupun tanpa punishment, karena mereka tahu apa manfaat yang baik, dan apa bahayanya yang buruk.

Artinya, manusia yang baik adalah mereka yang tanpa adanya surga dan neraka tetap menjalankan perintah agama dengan sebaik baiknya, karena mereka memahami betul maksud dan tujuan perintah perintah agama tersebut. Manusia yang begini tidak mengharap pamrih dari kebaikan yang dilakukannya. Manusia yang demikian adalah manusia manusia yang tulus dalam kebaikan. Dan kita di dunia butuh manusia manusia seperti ini.

Tapi saya menyadari bahwa tidak semua orang bisa dewasa dalam beragama, maka ada baiknya konsep surga dan neraka tetap ada, hanya saja, bagi kita yang siap melangkah kepada kedewasaan, hendaknya kesampingkan dulu surga dan neraka. Marilah berusaha menjadi manusia baik yang tanpa pamrih. Balasan bagi manusia baik itu akan nampak di dunia sekalipun, dan jika memang nanti ternyata ada surga, maka biarlah itu jadi sekedar bonus, bukan tujuan.

Jadikan surga dan neraka itu akibat, bukan tujuan. Berbuat baik bukan demi pahala, tapi demi keselarasan hidup semua makhluk. Dan jika kita masih belum mampu untuk menjadi orang yang baik, menjadi orang yang tidak jahat tidaklah terlalu sulit, and that's a good start.

No comments:

Post a Comment