Tau sihir kan? Mungkin bahasa Inggris yang tepat adalah sorcery, bukan magic. Walaupun mungkin dalam artian luasnya magic pun bisa mengena juga. Tapi sihir jelas bukan sulap. Sulap itu trik sedangkan sihir itu supranatural.
Penulis mendefinisikan supranatural sebagai fenomena yang terjadi diluar sesuatu yang natural atau alami. Suatu anomali dari sesuatu yang sifatnya alami, tapi terjadi dengan disengaja oleh manusia lewat cara cara yang tidak melibatkan teknologi, melainkan metafisika ataupun parapsikologi. Itu definisi rumusan penulis sendiri.
Adakah sihir? Atau lebih mudahnya, apakah sihir itu masuk akal? Saya pikir bisa saja ada, kenapa tidak? Supranatural sering dianggap jalan pintas untuk mencapai sesuatu yang tidak masuk akal. Padahal bukan tidak masuk akal, hanya saja sains belum bisa mengungkapnya secara empiris.
Dalam dongeng atau cerita fiksi, sihir seringkali digambarkan erat kaitannya dengan mantra (spell). Lalu apakah fungsi mantra tersebut? Mengapa spell itu menjadi demikian penting dalam sorcery? Bisakah menyihir tanpa menggunakan mantra? Jika definisi sorcery adalah menggunakan magical power dengan media sebuah mantra maka jawabannya adalah mutlak harus ada.
Tapi penulis punya hipotesis bahwa mantra itu digunakan untuk kepentingan membantu apa yang ada di dalam otak si caster. Bukan sisi linguistiknya yang mengandung kekuatan magis, tapi aktifitas otak lah biang kerok dari kekuatan teraebut. Kecuali jika sifatnya bukan menyihir tapi conjuring. Yaitu melibatkan pihak ketiga, atau entitas lain yang tidak memiliki bentuk fisik.
Maka jika kasusnya demikian, mantra itu digunakan untuk berkomunikasi dengan si entitas lain itu. Tapi pertanyaan baru kemudian muncul, jika mantra itu dibacakan dalam hati, efektifkah? Ada dua teori tentang itu, yang pertama adalah tidak efektif karena justru mantra itu dibacakan sebagai perintah kepada entitas lain itu. Yang kedua menyatakan efektif karena bukan suaranya yang berpengaruh, tapi lagi lagi aktifitas otak yang menghasilkan gelombang gelombang tertentu yang kemudian bisa ditangkap entitas lain tersebut. Lagipula, sang entitas lain itu tidak memiliki bentuk fisik, sehingga tidak memiliki telinga (danseisinya), organ yang berfungsi menangkap getaran udara yang ditimbulkan sumber bunyi. Jadi hanya merupakan interaksi antar energi yang ditimbulkan aktifitas otak dengan si entitas lain yang juga berupa energi.
Tapi jika demikian halnya, pertanyaan penulis adalah....bagaimana si entitas lain itu memiliki kesadaran, sedangkan kesadaran itu ada karena adanya tubuh fisik berupa otak yang cukup kompleks dan berfungsi secara normal.
To be continued.,....
No comments:
Post a Comment